You Are My Sunshine

You Are My Sunshine
Part 192



"Halo Papa," ucap Dara.


"Halo... halo," sahut suara dari seberang sana.


Dara mengerutkan keningnya dalam, melihat kembali layar berbentuk kotak persegi panjang di genggamannya untuk memastikan karena suara yang menyahut tidak familiar di telinganya. Itu suara orang lain, tetapi jelas-jelas di layar terpampang nama kesayangan untuk suaminya.


"Halo, ini siapa?" ucap Dara.


"Saya temannya Wira?" jawab pria di seberang telepon.


"Kenapa ponsel suami saya ada pada Anda?" tanyanya.


"Saya rekan kerjanya, ponselnya ada pada saya. Sekarang Wira sedang ditangani di unit gawat darurat rumah sakit tempat kami bekerja karena terluka saat hendak_"


Tut... tut... tut....


Panggilan terputus, sepertinya baterai ponsel Wira habis. Mendengar kata terluka seketika pikiran-pikiran buruk menerjangnya. Dara terpaku, tanpa terasa gelas yang dipegangnya lolos dan luruh begitu saja menciptakan suara nyaring ketika beradu dengan lantai kemudian hancur berkeping-keping dengan isinya yang telah tumpah berceceran.


Dengan wajah pucat dan tubuh lemas Dara berlari ke luar melewati ruang tengah di mana Ratih dan Haris sedang menonton siaran televisi. Dia masih mengenakan piyama tidur serta sandal tipis yang biasa dipakainya di dalam rumah, menuju garasi mencari-cari sopir yang biasa berkumpul di halaman samping.


Ratih dan Haris segera menyusul Dara keluar ketika melihat gelagat aneh menantunya. Terlihatlah Dara yang berurai air mata tengah bersiap-siap pergi bersama salah seorang sopir.


"Dara, sayang ada apa Nak?" tanya Ratih. Ia terkejut melihat Dara yang tiba-tiba terisak, padahal beberapa saat sebelumnya menantunya itu baik-baik saja.


"Apakah perutmu sakit?" Ratih bertambah panik karena Dara menangis semakin kencang.


"Apa? kenapa bisa sampai terluka, apa sebenarnya yang terjadi?" Ratih sama terkejutnya dan kini ia paham dengan reaksi Dara yang tiba-tiba menangis.


"Aku juga tidak tahu Bu, panggilannya terputus sebelum aku bertanya lebih lanjut. Aku ingin ke rumah sakit sekarang juga, hiks...hiks...."


"Ayo, kita berangkat bersama," ajak Haris.


Mereka bertiga menaiki kendaraan yang sama dan si sopir segera memacu mobil mewah tersebut dengan kecepatan di atas rata-rata menuju rumah sakit tempat Wira bekerja. Sepanjang perjalanan Dara terus terisak dan Ratih berusaha menenangkan. Ia juga sama khawatirnya dengan Dara, tetapi Ratih berusaha tetap berpikiran jernih untuk menguatkan wanita muda yang tengah hamil itu.


*****


Sesampainya di rumah sakit Dara langsung turun dari mobil dan berjalan secepat mungkin tanpa mempedulikan sekitar, ia bahkan meninggalkan mertuanya yang menyusul di belakangnya. Inginnya dia berlari, tetapi kini ada nyawa lain yang harus dilindungi di dalam tubuhnya.


Dara merasa de javu, mendengar seseorang yang sangat berarti baginya terluka, seolah menggali kembali kenangan pahitnya ketika Almira mengalami kecelakaan. Kelebatan bayangan buruk terus memenuhi isi kepalanya seiring matanya yang buram karena air mata yang membanjiri.


Sesampainya di depan pintu unit gawat darurat, Dara memperlambat langkahnya. Dengan ragu-ragu melangkah masuk, lalu saat dirinya sudah berada di dalam bertepatan dengan para perawat serta dokter yang menutupkan kain putih di tubuh seseorang di mana posisi ranjangnya berada di sudut kanan ruangan dekat pintu masuk.


Seorang dokter yang juga berada di sisi ranjang tersebut menoleh ke arahnya dan kemudian menghampiri. Ternyata dia adalah temannya Wira yang mengangkat teleponnya tadi, dokter tersebut langsung mengenali Dara karena wajah cantiknya selalu terpampang jelas sebagai wallpaper di ponsel Wira.


"Benar ini istrinya Dokter Wira kan? saya yang tadi mengangkat telepon, maaf panggilan terputus karena baterai ponselnya habis," tuturnya.


Dara sama sekali tidak fokus pada perkataan si dokter itu, matanya terus tertuju ke arah ranjang di sudut kanan, lalu di detik kemudian ia berlari dan langsung memeluk jasad tersebut seraya menjerit menangis meraung-raung.


"Mas...."