You Are My Sunshine

You Are My Sunshine
Part 20



Wanita lain?


Kata-kata itu terus terngiang berdengung menghantam gendang telinganya, Wira tak mampu membayangkan jika harus menikah lagi dengan wanita lain, karena di rongga dadanya hanya ada Almira seorang yang bersemayam.


Dia mengusap wajahnya dan menyugar rambutnya gusar diiringi embusan napas kasar. Inilah alasannya mengapa dirinya dan Almira sangat jarang sekali berkunjung ke rumah utama, karena setiap bertemu permasalahan tentang anak inilah yang selalu dibahas, membuat Almira sering merasa tertekan tiap kali kembali dari kediaman mertuanya itu.


Tiga tahu lalu, saat Wira meminta restu untuk menikahi Almira, ibunya sempat tidak setuju karena wanita yang dicintainya bukan berasal dari keluarga yang setara dengannya. Sementara Haris, sebagai seorang ayah ia selalu mendukung apapun keputusan putranya, dia yakin bahwa Wira sudah cukup dewasa untuk mengambil keputusan penting menyangkut kehidupannya ke depan.


Haris Aryasatya, adalah salah satu pemilik perusahaan Farmasi terbesar di negara ini, secara otomatis Wira adalah pewaris tunggal perusahaan tersebut, walaupun mereka mengizinkan Wira untuk menjadi dokter, tetapi suatu saat ia tetap harus mengelola usaha yang telah turun temurun dari kakeknya itu. Jadi, menurut ibunya menantu yang ideal itu tentu saja putri dari kolega bisnisnya untuk menunjang masa depan putranya nanti.


Setelah Wira membujuk dan meyakinkan dengan berbagai usaha, akhirnya Ratih memberikan restunya, ia mengizinkan dengan pertimbangan karena Almira pernah menyelamatkan nyawa putra tersayangnya hingga mengalami cedera cukup parah.


Awal-awal pernikahan semuanya berjalan baik tanpa hambatan, Ratih juga menerima Almira sebagai menantunya dan bersikap baik padanya. Namun, ketika usia pernikahan dua sejoli itu menginjak tahun kedua, Ratih mulai berubah, mulanya dia hanya mengingatkan untuk segera memiliki momongan, tetapi lambat laun semua itu berubah menjadi tuntutan dan keharusan.


Dering panggilan telepon memecah lamunannya, Wira segera tersadar dari keterpakuannya dan merogoh ponsel yang di simpan di saku celananya. Tertera nama "My Queen" di layar ponselnya yang tidak lain adalah ratu di hatinya, Almira. Wira berdehem sebentar kemudian menerima panggilan itu.


"Ada apa sayang?" jawabnya lembut.


"Mas, jika sudah selesai bisakah segera turun? sekarang, aku sedang di kamarmu, kamar lantai satu samping kolam renang, aku membutuhkanmu," bisiknya lemah dari seberang telepon.


Wira langsung kembali memasang kewaspadaannya yang tadi sempat melemah, ia hampir lupa meninggalkan Almira di bawah sana yang sudah pasti diberondong pertanyaan oleh saudara-saudara ibunya mengenai masalah yang sama.


"Aku turun sekarang." Wira menutup panggilan telepon dan berlari menuruni tangga menuju kamar yang dulu ditempatinya di rumah itu.


Wira memutar gagang pintu dan menerobos masuk dengan napas tersengal-sengal, tampak peluh bermanik di dahinya, tanda bahwa dia berlari secepat mungkin untuk segera menemui istrinya.


Di dalam kamar, Almira tengah berdiri menghadap kaca besar tembus pandang yang langsung menyajikan pemandangan kolam renang dengan airnya yang jernih dan berkilauan. Ia menolehkan kepalanya ketika mendengar derap langkah Wira yang serampangan memasuki kamar itu,


"Masih mau di sini atau pulang? maaf aku meninggalkanmu terlalu lama, apakah tadi ada interogasi lagi dari saudara-saudaranya ibu?" tanyanya khawatir.


Almira mengangguk-anggukan kepalanya. "Hmm... seperti biasa. Apakah ibu... kembali menanyakan hal yang sama?" tanya Almira.


Wira membelai lembut rambut wanita di hadapannya itu dan menyelipkannya ke belakang telinga. "Sudah jangan dipikirkan." Wira sengaja tak ingin membahas hal itu lebih jauh lagi, karena tidak ingin membuat suasana hati Almira makin memburuk.


"Sebenarnya aku ingin pulang saja, tapi, sebaiknya kita makan bersama dulu di sini Mas, jika pulang terlebih dahulu, aku tidak enak hati dengan ayah dan ibu," desahnya.


"Kamu yakin akan baik-baik saja? jika tak nyaman jangan memaksakan diri." Wira menatapnya cemas.


"Aku sangat yakin, karena ada pangeran tampan berkuda putih yang selalu melindungiku," ucap Almira diiringi senyuman manisnya.


*********


Hai my beloved readers, terima kasih banyak atas apresiasi dan dukungan kalian untuk ceritaku ini, tinggalkan jejak kalian setelah membaca ya, dan jika berkenan jangan lupa juga like, komentar, serta vote seikhlasnya, dukungan kalian membuatku semakin semangat menulis.


Follow juga akun Instagramku @Senjahari2412. Happy reading guys, thank you very much 😘😘💕💕.


Tanpa kalian yang membaca ceritaku, aku bukanlah apa-apa.


With Love,


Senjahari_ID24