You Are My Sunshine

You Are My Sunshine
Part 47



Dara mengepalkan tinjunya ke udara dengan geram. "Memangnya siapa yang salah paham, hihh... lama-lama aku bisa mati kesal."


Gadis itu memijat pelipis dan tengkuknya yang terasa tegang karena emosi. Dia juga sudah tahu bahwa ikatan suami istri diantara mereka tidak bermakna seperti pernikahan pada umumnya.


Ia bangkit dari duduknya mencangklong tasnya dan mempercepat langkahnya bermaksud mengejar Wira sambil membawa amplop coklat tadi. Dara hendak mengembalikannya karena merasa tidak terima dengan kata-kata Wira yang mengultimatum dirinya untuk tidak salah paham. Namun, saat tangannya menyentuh gagang pintu, Dara menghentikan langkahnya dan mengurungkan niatnya untuk menyusul Wira.


Dara tersenyum menyeringai, biasanya orang yang menyeringai itu sedikit menakutkan, tapi berbeda dengannya, seringainya malah terlihat lucu dan menggemaskan sambil menyipitkan matanya menatap amplop coklat di tangannya.


Ia tidak akan mengembalikannya dulu untuk saat ini, Dara berniat memakai kartu itu untuk membeli apapun sebanyak-banyaknya hanya demi membuat Wira jengkel.


"Hohoho... tunggu pembalasanku Kakak!" Dara terkekeh dan tersenyum puas, kemudian keluar dari kamar dengan riang.


*****


Pak Jono sudah bersiap di garasi, membukakan pintu mobil untuk Dara dan membungkuk dengan hormat.


"Silahkan Nyonya," ucapnya sopan.


"Hari ini aku sedang ingin berangkat memakai motorku, jadi Bapak tidak perlu mengantarku." Dara menolak dengan sopan dan mengambil kunci motor bututnya.


"Tapi Nyonya, tuan berpesan agar mengantar kemanapun Anda pergi." Pak Jono tampak kebingungan, karena jika membiarkan Dara memakai motor butut itu, maka omelan tuannya sudah pasti menanti kemudian.


"Enggak apa-apa Pak, jangan khawatir. Nanti aku sendiri yang bilang sama Kak Wira, oke." Dara memakai helmnya sambil bersenandung. Ia sengaja memakai motornya, karena ini adalah salah satu hal yang pasti membuat Wira kesal.


*****


"Daraaaaa...."


Freya menghambur ke arah Dara saat sampai di parkiran kampus, ia memeluk sahabatnya itu dengan gemas.


"Uhuk... uhuk, Freya, aku keselek, uhuk...uhuk." Dara sampai terbatuk-batuk karena Freya memeluknya terlalu kencang hingga menyebabkan dadanya terasa sesak.


"Kangen banget sama kamu anak cantik, aku mencemaskanmu. Maaf semenjak kepergian kakakmu aku belum mengunjungimu lagi, tadinya aku dan Anggi mau ke rumahmu, tapi aku takut malah mengganggu di rumahmu, mengingat kamu dan kakak iparmu masih dalam suasana berkabung," tutur Freya sambil menangkup kedua sisi wajah Dara.


"Aku gak apa-apa kok, jangan khawatir lagi. Oh iya Frey, khusus besok mata kuliah kita dimulai siang kan? besok pagi antar aku membuat SIM sebelum berangkat ke kampus ya," pintanya.


"SIM? seingatku kamu udah punya deh?" ucap gadis tomboy itu dengan mata menyipit.


"Itu SIM C. Aku mau bikin SIM A. Dulu sempat ingin membuatnya tapi Mbak Mira tak mengijinkan. Sekarang aku membutuhkannya untuk berjaga-jaga demi belajar mandiri, aku gak mau terlalu banyak bergantung pada orang lain," jelas Dara.


"Ingin belajar mandiri atau bosan dengan motor bututmu? bukannya sudah ada pak Jono yang selalu siap sedia mengantarkanmu kemanapun?" tanya Freya.


"Justru itu Frey, jika terus-menerus mengandalkan pak Jono kapan aku mandirinya. Aku membuat SIM mobil untuk digunakan jika dalam keadaan darurat saja. Yuk kita masuk, sebentar lagi kelas akan dimulai." Dara merangkul Freya, keduanya bergegas berjalan bersamaan menuju gedung fakultas tempat mereka menuntut ilmu.