
Dara yang juga mendengar perkataan Haris sedikit demi sedikit mulai mengangkat wajahnya, tetapi ketika Ratih kembali menghardiknya gadis itu tersentak kaget dan wajahnya lebih pucat dari sebelumnya.
Dara berusaha untuk tetap tegar, bagaimanapun juga Ratih adalah ibu mertuanya dan ia memahami jika sebagai anak Wira pasti tak ingin berselisih dengan wanita yang telah melahirkannya, untuk itu Dara memutuskan akan ikut berjuang agar pernikahan mereka diterima oleh keluarga besar Aryasatya, apalagi sekarang sudah ada buah cinta mereka yang sedang bertumbuh di dalam dirinya.
"Perkataan ibumu barusan jangan terlalu diambil hati, mungkin dia hanya masih terkejut," ucap Haris kepada putranya karena melihat air muka Wira yang mengeras menahan rasa marah.
"Yah, kenapa sejak dulu ibu selalu meributkan masalah kasta seseorang, apakah semua itu menjamin hidup kita akan bahagia? apakah mencintai dan jatuh cinta harus ada alasannya? kita bahkan tidak pernah tahu kapan rasa itu datang dan berlabuh kepada siapa." Wira mengembuskan napasnya kasar setelah selesai mengucapkan kalimatnya.
"Ayah juga tak mengerti, padahal dulu ibumu adalah pribadi yang open minded, tetapi sejak bergaul dengan para kolega sosialitanya dia banyak berubah. Ayah akan bicara dengan ibumu jadi kalian tenang saja." Haris berusaha meredam amarah putranya sambil mengulas senyum.
"Dara, kemarilah Nak," Haris menepuk-nepuk kursi disebelahnya meminta Dara agar duduk di sampingnya. Gadis itu menjalinkan jari-jemarinya dan menatap Wira dengan gusar.
"Tak apa, duduklah di sana. Ayahku juga adalah Ayahmu." Wira meyakinkan Dara.
Ragu-ragu Dara berpindah duduk ke dekat pria paruh baya itu sambil sesekali menatap takut-takut kepada Haris.
"Apakah Wira menyulitkanmu? usianya memang lebih dewasa darimu tapi dia adalah sosok yang manja dan pencemburu. Jika Wira berulah mengadulah padaku dan kupastikan dia akan mendapat balasannya," ujar Haris yang disusul kekehan pelan.
"Ayah! Aku tak begitu," protes Wira.
Dara menggelengkan kepala sambil mengulas senyum. "Tidak Om, malah mungkin aku yang sering merepotkan Mas Wira," sahutnya.
"Eh, bu-bukan begitu. T-tapi aku_" ucapan Dara terhenti.
"Panggil aku Ayah. Saat menikah dengan Wira maka secara otomatis kamu juga menjadi anakku, kami adalah keluargamu juga. Berapa usia kandunganmu sekarang?" tanya Haris kepada Dara.
"Menurut perkiraan Dokter sudah tujuh minggu," jawab Dara antusias dan secara impulsif tangannya mengelus perutnya sendiri.
"Ayah harap sikap ibu tadi jangan sampai membebani pikiranmu, wanita hamil tidak boleh stress dan harus selalu berada dalam suasana hati yang bahagia. Wira, sebagai calon ayah jadilah suami siaga, jagalah menantu dan juga cucuku baik-baik."
"Tentu saja Yah, jangan khawatir. Aku akan menjaga mereka dengan segenap jiwa ragaku," jawab Wira penuh rasa syukur karena ayahnya mau mengerti dirinya.
"Kapan rencana kalian untuk mengumumkan pernikahan ini? sebagai seorang suami kamu harus memeperjelas statusmu dengan Dara secepatnya, jika tidak segera akan berdampak buruk kepada istrimu saat kehamilannya semakin terlihat, apalagi Dara masih kuliah sekarang," saran Haris kepada putranya.
"Akupun berpikir begitu, kuusahakan secepatnya dan takkan kubiarkan jika ada yang mempergunjingkan istriku." Wira sepemikiran dengan Ayahnya.
"Biar Ayah yang mengurus semuanya, kamu fokuslah untuk menjaga calon cucuku dan pastikan semuanya baik-baik saja."
"Baiklah, terima kasih Yah."