
Di hari tanggal merah ini Dara tengah membenahi kamar atas yang dulu ditempatinya, terletak di lantai dua dengan jendela menghadap ke selatan. Debu sudah dibersihkan oleh Bu Rina, sedang Wira tengah mengecat sendiri kamar itu dengan warna biru laut dipadu putih. Rencananya kamar lama Dara akan dijadikan kamar si kembar. Selena ikut bergabung ingin mengoleskan kuas cat bersama sang Papa, suara renyahnya yang riang memenuhi seisi ruangan.
“Kenapa catnya walna bilu? Kenapa nggak walna pink kayak kamal Nana?” tanyanya ingin tahu dengan suara cadelnya. Selena memanggil dirinya sendiri dengan sebutan Nana.
“Karena, dedeknya laki-laki. Jadi warnanya biru,” jelas Dara. Ia selalu sabar menjawab setiap pertanyaan putri kecilnya yang memiliki rasa ingin tahu lebih dari anak-anak lainnya.
“Jadi kalau laki-laki semuanya halus walna bilu ya, Pa?” Selena kini beralih bertanya pada Wira. Manik mata jernihnya yang indah menatap sang Papa tanpa berkedip.
“Tidak selalu, princess. Tapi kemarin dedeknya bisikin Papa pengen kamarnya warna biru.” Wira menjawab pertanyaan Selena tetapi arah pandangnya malah tertuju pada Dara dengan sorot mata sensual menggoda.
Dara paham alur pembicaraan suami mesumnya. Ia merotasikan bola matanya dan berpura-pura tak mengerti. Maksud bayinya berbisik itu adalah semalam Wira baru kembali menjenguk si kembar di dalam sana setelah libur beberapa hari lantaran Wira harus mengurus pekerjaan ke luar kota. Seperti biasa, mereka melebur bergelora, selalu indah seperti yang pertama, gairah dan cinta berpadu seirama.
Kini Dara memilih ikut mengaduk cat juga menyapukan kuas. Tatapan mata Wira seperti menelanjanginya. Lima tahun menikah tidak lantas membuat jantungnya berhenti berdebar-debar tak karuan setiap kali manik sang suami melahapnya memuja.
Mereka kini fokus pada Selena. Mengecat sambil bercanda tawa. Ia dan Wira memang selalu mengusahakan agar Wira yang sibuk bekerja juga memiliki quality time yang cukup dengan si buah hati dengan melakukan banyak kegiatan bersama-sama seperti saat ini. Memastikan Selena tidak kekurangan kasih sayang dari kedua orang tuanya.
Sebelum makan siang, Dara memandikan Selena. Kemudian mereka bersantap bertiga di taman belakang, menggelar tikar di rerumputan dan duduk di bawah Pohon Akasia seumpama tengah berpiknik dengan sekeranjang makanan tersaji.
Selena selalu gembira meski hanya dengan hal-hal kecil semacam ini. Kini bocah cantik berambut sedikit bergelombang itu tengah berlarian dengan kincir kertas di tangan, bertelanjang kaki di rerumputan dengan pengasuh yang setia membuntuti ke manapun kaki mungilnya melangkah.
Dara duduk bersandar di dada bidang favoritnya. Lengan Wira melingkupinya dengan jenis kenyamanan tiada duanya. Pernikahan memanglah harus dipelihara, disiram dan dipupuk agar terhindar dari rasa jenuh. Seperti saat ini, mereka tengah memupuk pohon cinta mereka agar tetap tumbuh subur, saling mendekap sambil menonton keceriaan si permata hati.
“Hmm, ada apa?” Wira mengecup mesra leher Dara yang terekspos bebas tepat di sisi wajahnya.
“Nanti sore titip Selena ya, aku ada janji mau nemenin Freya ke salon dan spa.”
“Pergilah, take your time honey,” sahut Wira yang kini mengecup pipi Dara.
“Makasih Papa.” Dara sedikit menggeser posisi duduknya demi memuaskan netranya menelusuri wajah tampan suaminya. Semakin hari Wira yang semakin matang bertambah berkharisma dan memesona.
“Sebagai imbalan menjaga Selena, sebelum berangkat akan kubantu mencukur jambang yang mulai tumbuh berlebih ini.” Dara menggulirkan jemarinya lembut di rahang Wira.
“Yang satu ini kamu sudah sering mencukurnya, untuk kali ini bagaimana kalau mencukur di bagian lain saja, sama-sama butuh perhatian,” ujarnya sambil mengulum senyum.
“Ish, dasar mesum! Nanti si kembar berdemo di dalam sana kalau terlalu sering dibanjiri dan sudah pasti aku akan terlambat lagi ke rumah Freya.” Dara terkekeh dan meninju perut berotot Wira kemudian memilih bangun dan ikut bermain bersama Selena.
“Sayang, kau harus mencobanya.” Wira setengah berteriak dan Dara memilih menutup telinganya sambil tertawa geli.
*****
Yang kangen Wira & Dara, mana suaranya 😁?