You Are My Sunshine

You Are My Sunshine
Part 216



Malam semakin larut, hawa dingin udara puncak kian menusuk. Wira menarik tubuh Dara agar semakin merapat di dadanya untuk saling berbagi kehangatan tubuh masing-masing. Dibungkuskannya selimut tebal menutupi tubuhnya juga istrinya, kemudian kembali menyelipkan tangannya ke sela-sela lengan Dara dan mengelus-elus perut buncitnya. Menenggelamkan wajahnya di keharuman rambut Dara mencari-cari aroma penenang jiwa di sana.


Sudah sejak satu jam yang lalu Dara jatuh ke dalam tidur pulasnya, sedangkan Wira masih tak mampu memejamkan mata. Tak ada kegiatan bergelora sebelum tidur di malam liburan mereka ini, Wira hanya memeluk dan mengusap-usap perut Dara hingga istrinya itu terlelap membiarkan cendera membuai merayu si belahan jiwa.


Suara gemerisik dedaunan yang diterpa angin sesekali menyapa indera pendengarannya, semakin larut matanya kian nyalang. Pekatnya sang malam membawa pikiran Wira kembali berkubang dalam ingatannya tadi siang, pembicaraannya dengan Raisa terus berdengung menghantui memenuhi seluruh dirinya.


*****


"Sebenarnya ada apa dengan Dara?" Wira langsung bertanya dengan tak sabaran saat Raisa bahkan belum mendaratkan bokongnya dengan benar di kursi apotek.


Raisa menarik napasnya dalam kemudian menatap lekat-lekat kepada Wira. "Aku menemukan gejala-gejala yang merujuk pada preeklamsia."


Preeklamsia adalah komplikasi kehamilan berpotensi berbahaya yang ditandai dengan tekanan darah tinggi padahal si ibu tidak pernah mempunyai riwayat hipertensi sebelumnya.


"Preeklamsia?" Pertanyaan Wira mengambang sesaat kemudian ia melanjutkannya kembali dengan tatapan kecemasan yang nyata. "Maksudmu, terdapat gejala komplikasi pada kondisi kehamilan istriku?"


"Ini baru perkiraan saja, karena aku harus melakukan tes lebih lanjut pada istrimu. Kuharap ini hanya gejala sementara, gejalanya memang biasanya baru terlihat di trimester kedua dan harus kupastikan melalui tes lanjutan setelah usia kandungannya di atas dua puluh minggu. Hanya saja kita tetap harus waspada dari sekarang, agar gejala yang ada tidak semakin memburuk," jelas Raisa dengan intonasi pelan dan hati-hati ketika menyampaikan informasi penting ini kepada Wira.


"Apakah sangat serius? sebenarnya apa penyebabnya?" Wira semakin penasaran, bahkan ia mengubah posisi duduknya menjadi miring di kursi panjang itu. Wira memang seorang dokter, tetapi dia hanya tahu sedikit saja karena ilmu kandungan bukanlah bidangnya.


"Mengenai preeklamsia hingga saat ini penyebab akuratnya belum bisa dipastikan. Bisa terjadi karena faktor genetik, bisa jadi karena tubuh mengartikan bahwa janin yang sedang berkembang adalah benda asing yang harus dimusuhi, bisa kelainan plasenta, atau karena hamil di usia muda sebelum dua puluh tahun atau terlalu tua di atas usia 40 tahun." Raisa tampak mengembuskan napasnya pendek-pendek sebelum menyambung perkataannya lagi.


Wira memejamkan mata diiringi embusan napas kasar. Mencondongkan tubuhnya ke depan, menangkupkan kedua telapak tangannya di wajah dengan siku bertumpu di lutut. Sejenak ia tetap tertunduk dalam diam kemudian kembali mengangkat kepalanya.


"Aku bahkan tak memikirkan ini sebelumnya. Seharusnya aku bisa mengontrol hasratku untuk tidak membuahinya dulu." Terdengar nada sesal yang kental dari ucapannya.


"Tadinya aku hendak menyampaikannya langsung pada istrimu mengenai kondisinya, tapi mengingat dia sedang dalam masa-masa bahagianya aku tidak ingin merusaknya. Lagipula ini baru gejala. Kita hanya harus berusaha agar gejala ini tidak makin memburuk. Mungkin kamu bisa menyampaikannya sendiri secara perlahan padanya," hibur Raisa.


"Apakah sangat berbahaya?"


"Apabila istrimu positif mengidap preeklampsia, maka ibu dan bayinya keduanya dalam keadaan bahaya. Jika preeklamsianya berat, kemungkinan terburuknya mungkin kamu harus memilih salah satunya, membiarkan bayinya tetap bertumbuh hingga cukup siap untuk dilahirkan sementara pada masa itu dikhawatirkan komplikasi organ pada si ibu semakin memburuk, atau terpaksa sang bayi dilahirkan sebelum waktunya dalam tanda kutip harus merelakan bayinya demi menyelamatkan nyawa ibunya. Kalau dibiarkan berlarut maka bisa saja malah kehilangan keduanya."


"Banyaklah berdo'a. Kita juga harus berupaya mencegah agar gejalanya tidak semakin memburuk. Menjaga pola makan dengan mengurangi asupan gula dan garam. Mengikuti senam hamil agar kondisi tubuh dan metabolisme tetap sehat, menjaga berat badan serta hindari aktivitas yang membuat lelah. Sebaiknya babymoon kalian ke Lombok juga dibatalkan saja, jangan mengambil resiko."


Wira merasakan seolah setumpuk beban langsung ditumpahkan di pundaknya, terasa berat dan nyeri disertai kecemasan hebat yang melingkupinya.


"Aku akan menyampaikannya secara perlahan, aku mengandalkanmu Sa." Suara Wira parau menahan sesak di dada.


Raisa menepuk-nepuk bahu Wira berusaha menghibur. "Kamu harus kuat. Kita akan berupaya bersama, dan kamu harus selalu percaya bahwa keajaiban itu ada."