
Sudah lebih dari sepuluh kali Pak Jono melirik melalui kaca spion untuk melihat keadaan kursi belakang. Mobil sedan berwarna merah yang dikendarainya sudah mulai memasuki gerbang komplek hunian elit di mana rumah Wira berada, tetapi Dara tak mengeluarkan sepatah kata pun.
Sejak masuk ke dalam mobil di parkiran kampus, nyonya mudanya itu terdiam seribu bahasa. Wajahnya sendu, sorot matanya menerawang seolah tengah melanglang buana. Dara memandang dengan tatapan kosong ke luar jendela, ia menopang dagunya menggunakan sebelah tangannya yang terkepal.
Dara beberapa kali mengembuskan napasnya pendek-pendek dengan kasar. Ia merogoh ponselnya dari dalam tas dan menyambungkannya dengan headset berwarna biru muda yang selalu dibawanya.
*****
"Aku menemuimu secara pribadi karena ingin membahas hal penting denganmu. Tapi dari ekspresimu sepertinya kamu sudah mengetahui apa yang ingin kubicarakan." Ratih membuka pembicaraan dengan dingin dan angkuh. Ia kemudian meletakkan cangkir teh yang tadi dipegangnya.
"Bagaimana kabar Anda, Tante." Dara berusaha menyapa ditengah suasana yang luar biasa mencekam baginya.
Mereka duduk berhadapan di sebuah ruangan untuk menerima tamu penting di kampus itu. Suasana ruangan begitu senyap dan sunyi karena hanya ada mereka berdua di ruangan khusus tersebut.
"Aku ingin bertanya padamu. Apakah kamu merasa pantas berada di sisi putraku dan menjadi pendamping hidupnya?" Ratih berkata sambil menatap lurus kepada Dara.
"Aku... aku tak paham apapun tentang standar kepantasan yang Tante maksud. Tapi yang jelas aku mencintai putra Anda, setulus hati begitu juga dengan Mas Wira," sahut Dara penuh keyakinan.
Dara terdiam, tangannya meremat ujung dress yang dipakainya dengan gelisah. "Aku... tak bisa meninggalkannya Tante. Mas Wira membutuhkanku sama seperti aku membutuhkannya." Suara Dara mulai tercekat, seiring dengan dadanya yang merayap sesak.
"Itu menurutmu. Karena sebetulnya yang Wira butuhkan hanyalah bayi yang kau kandung. Kamu pasti tahu bagaimana selama ini dia mendambakan kehadiran seorang anak. Kamu mencintai putraku bukan? maka buktikanlah cintamu dengan menyerahkan anakmu nanti kepada Wira dan setelah itu segeralah pergi dari kehidupannya," ucapnya tanpa belas kasihan.
"Kamu tak usah khawatir. Aku akan memberikan kompensasi yang sangat besar jika kamu patuh pada perintahku. Berapapun yang kamu minta, aku pasti akan memenuhinya."
Dengan tega Ratih mengucapkan kalimat terakhirnya yang meluncur begitu saja dari mulutnya, kalimat yang membuat Dara merasa disuruh menjadi wanita tak punya hati yang menjual anaknya sendiri.
*****
Klik....
Dara mematikan rekaman pembicaraannya dengan Ratih tadi siang. Ia membuka headset yang tersambung ke ponselnya. Gawai berbentuk kotak itu digenggamnya erat-erat seiring dengan sudut matanya yang mulai berlinang.
Sebegitu rendahkan dirinya di mata Ratih? Sehingga dengan tak berperasaan melontarkan kalimat yang membuatnya merasa terhina. Apakah karena dirinya tak tahu asal usulnya dengan jelas maka ia tak pantas bahagia bersama Wira? Dan apakah ia tak berhak untuk mencintai dan juga dicintai?