You Are My Sunshine

You Are My Sunshine
Part 56



"Kakak, lepaskan aku... lepaskan!" Dara terus meronta sekuat tenaga, tetapi Wira seolah tuli dan tak menghiraukan teriakan gadis itu.


Wira membuka pintu kamar dengan tidak sabaran, setelah mereka masuk ke dalam dibantingnya pintu itu dengan kencang hingga membuat Dara berjengit kaget karena bunyi dentuman hebat itu mengakibatkan getaran di dinding serta kaca jendela.


"Awhh... Kakak tolong lepaskan tanganku! Sakit." Dara sudah hampir terisak karena pergelangan tangannya semakin terasa sakit serta berdenyut karena Wira mencengkeram dan menariknya tanpa ampun.


Dihempaskannya tubuh Dara ke atas ranjang yang di susul olehnya, tubuh kokohnya mengungkung di atas tubuh mungil itu dan mengunci pergerakannya.


"Kakak, mau apa? kita bisa bicara baik-baik, bukan dengan cara seperti ini!" pekik Dara. Ia ketakutan melihat sorot mata Wira yang tajam terasa seperti hendak mengobrak-abrik jiwanya. Bahkan sekarang wajah mereka hanya berjarak satu jengkal saja, membuat keduanya bisa merasakan embusan hangat napas masing-masing.


"Aku hanya hendak mengingatkan, agar kamu tidak lupa, bahwa sekarang kamu adalah istriku! Dan tidak sepantasnya, seorang wanita yang sudah bersuami terlalu akrab dengan pria lain!" tegasnya tepat di depan bibir Dara.


Tanpa basa basi lagi di pagutnya bibir ranum yang sedikit terbuka itu tanpa memberi kesempatan kepada Dara untuk menolak ataupun menerima, Wira mendesakkan dirinya dan mencium Dara meluapkan segala rasa cemburu yang bercokol dan menyiksa di dalam dirinya.


Dara berusaha memalingkan wajahnya ke kanan dan ke kiri, tetapi pria itu mengunci pergerakannya. Tangan kiri Wira mencekal kedua tangan Dara di atas kepalanya, sementara tangan yang satunya lagi mencengkeram rahang gadis itu agar tidak bisa memalingkan wajahnya saat Wira melahap bibirnya tanpa ampun, sedangkan kedua kakinya terkunci oleh kungkungan tubuh kokoh tersebut.


Ini adalah ciuman kali kedua bagi Dara, dan durasinya lebih panjang dari yang sebelumnya. Sejak tadi dia terus meronta berusaha melepaskan diri, tetapi sekarang ciuman Wira yang berubah lembut dan begitu ahli malah membuai dirinya.


Tubuh Dara terasa lemas, kepalanya pening, bahkan matanya berkunang-kunang, sekujur tubuhnya meremang merasakan gejolak yang baru pertama kali melanda dirinya. Kemudian tanpa diperintah, naluri alaminya seolah menuntunnya untuk balas mencicipi bibir yang tertanam di bibirnya.


Wira semakin lupa diri dan memperdalam ciumannya saat merasakan bibir mungil ranum nan lembut itu membalas pagutannya. Napas mereka mulai terengah, tetapi Wira dan Dara seolah enggan melepaskan pertautan bibir masing-masing dan terus-menerus saling mencicipi tanpa henti, seolah hendak menghanguskan mereka dalam kobaran rasa yang semakin memanas.


Wira melepaskan pagutannya dan bibirnya menyusuri menciumi seluruh wajah Dara dengan embusan napas panasnya, mata Dara terpejam merasakan desiran yang mengaliri seluruh urat nadinya.


Lalu, Wira bergerak mengangsurkan bibirnya ke bawah dagu Dara, meninggalkan cap bibirnya hingga tercetak jelas di sana. Tak sampai di situ, ia kembali menyusuri leher jenjang gadis itu dengan piawai, menghirup dengan rakus aroma menyenangkan yang menguar dari kulit leher Dara dan membubuhkan beberapa jejak bibirnya juga di sana, membuat napas Dara semakin memburu tak beraturan merasakan sensasi sentuhan yang baru pertama kali dialaminya.


Dengan tidak sabaran Wira membuka pakaian atas Dara yang berupa kemeja berkancing depan, seluruh kancingnya terlepas dan berserakan karena Wira membukanya secara paksa.