You Are My Sunshine

You Are My Sunshine
Part 87



"Ra, kamu lagi jatuh cinta ya? sejak kapan kamu punya pacar? siapa dia?" cecar keduanya.


Dara hanya melongo dan terkejut karena diberondong dengan berbagai macam pertanyaan yang tiba-tiba dilontarkan kepadanya.


"Hah? jangan ngawur deh." Dara mencoba menyangkal.


"Jangan bohong. Tahu nggak, tadi itu kamu senyum-senyum sendiri sewaktu nerima panggilan video, nggak kayak biasanya. Panggilan dari siapa hayo? terus kenapa mukamu merona kayak over dosis pakai blush on," seloroh Anggi.


"Eh ta-tadi itu cuma panggilan dari Bu Rina, mungkin karena efek cuaca panas jadi mukaku kayak gini ahahaha." Dara mencoba mencairkan suasana yang tiba-tiba canggung di antara mereka.


"Ra, kamu sebenernya nyimpen rahasia apa dari kita? aku ngerasa sejak tadi pagi kamu agak aneh." Freya menatapnya penuh selidik.


"Ra-rahasia apa?" Dara mulai tersudut.


"Jangan-jangan, cidera kakimu serius ya? tapi kamu mencoba menyembunyikannya dari kami," ujar Freya dengan raut muka sedih.


"Ahahaha, aku nggak apa-apa kok, beneran. Mendingan sekarang kita cepetan makan yuk, aku harus segera mengerjakan tugas-tugas kuliah yang tertinggal," sahut Dara.


Menu makanan pesanan mereka datang dan menyelamatkan Dara dari cecaran kedua sahabatnya itu, akhirnya Freya serta Anggi beralih fokus pada makanan di depannya dan tak membahas kembali soal yang tadi efek dari rasa lapar yang mendera mereka.


*****


"Bu Rina, aku mau meminjam kunci ruangan balet sebentar saja, ada barang yang harus kuambil," pinta Dara.


Bu Rina tertegun sejenak, ragu antara harus memberikan kunci itu atau tidak. Walaupun kini Dara adalah nyonya di rumah ini, tetapi perintah Wira mutlak hukumnya di kediaman tersebut, bahkan dia sendiri pun tak berani masuk ke ruangan yang disegel itu jika tanpa perintah dari Wira. Namun, wanita paruh baya itu berubah pikiran, mengingat akhir-akhir ini sepertinya hubungan tuan dan nyonyanya semakin harmonis, ia akhirnya memberikan kunci ruangan balet kepada Dara.


"Ini kuncinya Nyonya," Bu Rina merogoh sakunya dan memberikan sebuah kunci kepada Dara.


"Terima kasih, aku tidak akan lama." Dara mengambil kunci tersebut, kemudian berlari-lari kecil menuju ruangan balet dengan langkah riang.


Saat masuk ke dalam matanya melihat ke sekeliling, sudah beberapa bulan ruangan itu tak terjamah, aroma pengap terasa akibat dari kurangnya ventilasi udara yang masuk karena semua jendela terkunci rapat.


Dara ingat akan tujuannya dan bersegera mencari barang yang dimaksud, tetapi saat berada tepat di depan lemari kaset ia menemukan berbagai macam barang yang berserakan di lantai berserta beberapa kaset musik balet yang tercecer, bahkan pintu lemari dibiarkan terbuka.


Ia berlutut dan memunguti barang-barang yang berserakan, diantara kaset-kaset itu dia juga menemukan satu lembar foto yang telah diremas dan selembar yang masih utuh. Jemari Dara merapikan kertas foto yang kusut masai itu dan membandingkannya dengan foto yang masih utuh, dua-duanya adalah foto yang sama, foto kakaknya dan seorang pria.


Gadis itu merasa tak asing akan gambar tersebut, ia mengingat-ingat dan memorinya sempat merekam bahwa dulu Almira sering menangis sambil memandangi foto yang sama, tetapi sejak kapan foto ini ada di sini pikirnya.


Tangan Dara membolak balikkan kedua foto tersebut, tetapi ada yang berbeda dengan tulisan yang tertera dibelakangnya. Ia terkesiap, sebenarnya apa maksud dari tulisan tangan kakaknya dibelakang kedua foto tersebut, dan setelah diperhatikan ternyata itu adalah foto dari kaset favorit mendiang Almira, dan Dara baru menyadari gambar laki-laki itu tersembunyi karena di atasnya ditempelkan foto dirinya.


Dara merasa ada yang janggal, darimana datangnya barang-barang yang berserak ini. Ia segera membereskan kekacauan di dalam ruangan itu dan menaruh barang lainnya ke dalam sebuah kotak yang juga tergeletak di sana, tetapi Dara mengambil kedua foto tersebut beserta buku harian yang sejak tadi menarik perhatiannya, tak lupa ia juga mengambil kaset yang akan dipinjam oleh Anggi lalu bergegas keluar dari sana.