You Are My Sunshine

You Are My Sunshine
Part 144



"Ya Tuhan... bagaimana ini Tuan. Nyonya pergi keluar kota bahkan tidak memakai jaket. Dia tadi berangkat hanya mengenakan dress yang dipakainya ke kampus," Bu Rina menjalinkan jemarinya gelisah.


"Aku akan menyusulnya sekarang." Wira membuka pintu salah satu mobilnya hendak mengemudi.


"Tunggu sebentar Tuan. Akan saya ambilkan jaket untuk nyonya." Bu Rina berlari masuk ke dalam rumah tanpa membuang waktu lagi.


"Tuan, apakah tidak sebaiknya saya saja yang mengemudi? saya khawatir Anda tidak fokus. Berkendara sambil menggunakan ponsel sangatlah berbahaya," pinta Pak Jono.


"Ya sudah. Kita harus bergerak cepat. Jangan membuang waktu lagi karena hari beranjak gelap."


Pak Jono segera mengambil alih duduk di posisi kemudi dan dengan cepat Bu Rina sudah kembali ke garasi dengan paper bag berwarna coklat muda berisi jaket Dara, beberapa kudapan kecil dan air jahe madu hangat pereda mual dalam sebuah termos kecil.


"Hati-hati Tuan." Bu Rina membungkuk dengan penuh hormat dan mobil pun melesat meninggalkan garasi secepat kilat.


*****


Hari mulai beranjak gelap, udara dingin mulai merayap menyapa permukaan kulitnya. Dara terkesiap dan baru menyadari bahwa sudah berkendara begitu jauhnya dari rumah ketika motornya mulai kehabisan bahan bakar.


Dara menghentikan laju kendaraannya dan melihat ke sekeliling, sepertinya ini adalah jalan menuju area pemakaman. Matanya menangkap plang merek, kira-kira sepuluh meter dari tempatnya berhenti tampak gerbang area pemakaman di mana mendiang ayahnya dan juga Almira dimakamkan.


Apakah nalurinya menuntunnya untuk datang mengunjungi Arif dan juga Almira? sudah lama Dara tak datang ke sini. Mungkinkah mereka juga merindukannya seperti dirinya.


"Maaf Pak, bolehkah saya menitipkan motor ini di sini sementara saya berziarah? saya juga mau bertanya, dimanakah penjual bahan bakar terdekat? bensin motor saya sepertinya sudah menipis." Dara bertanya dengan sopan kepada pemilik warung.


"Silakan Non. Titip saja di sini. Orang-orang yang berziarah memang biasanya memarkirkan kendaraan mereka di warung saya. Kalau tempat yang menjual bahan bakar cukup jauh dari sini, mungkin sekitar dua kilo meter. Tapi sebelum hari gelap biasanya kios yang berjualan bensin itu sudah tutup," jelas si pemilik warung.


"Mmm... terima kasih infonya Pak. Kalau begitu saya mau berziarah dulu saja." Dara undur diri melangkah masuk ke area pemakaman, tentang bahan bakar dia akan memikirkannya nanti.


"Non datang ke sini cuma sendirian?" tanya si penjual.


Dara menghentikan langkahnya dan menoleh sejenak, "Iya Pak." Kemudian ia mengangguk sopan dan meneruskan langkahnya.


"Pak, apa nggak berbahaya anak gadis bepergian sendirian padahal hari sudah beranjak malam. Dari pakaiannya kelihatannya nona itu orang kaya walaupun motornya butut. Apa dia tidak takut dengan begal yang sering berkeliaran malam-malam di sepanjang jalanan sepi menuju area sini?" Seorang wanita berumur muncul dari balik tirai belakang yang menghubungkan warung dengan tempat tinggalnya. Dia adalah istri si pemilik warung tersebut.


"Bapak juga sejak tadi bertanya-tanya hal yang sama dalam hati. Makanya tadi bapak tanya dia datang sendirian atau tidak karena khawatir. Terus Nona ini kehabisan bahan bakar juga, padahal di sekitar sini penjual bensin sangat jarang."


"Pak kopinya tiga."


Beberapa pembeli menginterupsi obrolan mereka dan si penjual serta istrinya kembali pada aktivitasnya melayani pelanggan.