You Are My Sunshine

You Are My Sunshine
Part 140



Author note.


Hai my beloved readers, terima kasih banyak atas apresiasi dan dukungan kalian untuk ceritaku ini. Jangan lupa tinggalkan jejak kalian setelah membaca ya. Kutunggu like, komentar, serta vote seikhlasnya. Dukungan kalian selama ini melalui like, vote, dan komentar membuatku semakin semangat menulis 💕


Follow juga akun Instagramku @Senjahari2412 untuk mendapatkan kabar seputar novel yang kutulis.


Terima kasih, selamat membaca 😊


With Love,


Senjahari_ID24


***********


Dara dan Freya sedang beristirahat siang di sela-sela pembelajaran sembari bercengkrama, sedangkan Anggi tengah pergi ke toilet karena panggilan alam. Keduanya duduk di kursi panjang legendaris fakultas MIPA.


Kursi-kursi tersebut terletak di bawah rindangnya pohon beringin yang berjajar rapi dalam satu garis lurus. Tempat itu merupakan spot favorit para mahasiswa untuk bersantai dan melepas penat.


Mual muntah yang dialami Dara belum sepenuhnya membaik, tetapi hari ini Dara datang ke kampus karena sedang mengikuti ujian pertengahan semester.


Ponsel Freya berdering. Sementara si tomboi tengah sibuk mengangkat panggilan di ponselnya, Dara juga disibukkan dengan kegiatan memasukan satu persatu buah anggur berwarna merah keunguan itu ke dalam mulutnya. Rasa manis dan segar langsung membasuh mulutnya begitu buah itu dikunyahnya, membuat indera perasanya menari penuh suka cita.


Semenjak hamil, Dara selalu membawa bekal camilan sehat yang disiapkan Bu Rina, tentu saja Bu Rina menyiapkannya disesuaikan dengan selera nyonya mudanya sebagaimana perintah Wira kepadanya.


Bu Rina menyiapkannya satu set camilan sehat dalam kotak bekal yang memiliki tiga sekat. Isinya adalah beberapa coklat almond ukuran mini, biskuit butter dengan taburan keju lezat buatan tangan para juru masak di rumah Wira, dan juga berbagai macam aneka buah-buahan segar. Dara mengunyah satu persatu makanan tersebut dengan penuh sukacita sambil sesekali mengusap perutnya.


"Siapa yang nelpon?" tanya Dara di sela-sela kunyahannya.


"Yg ampun aku lupa Frey." Dara menepuk-nepuk dahinya pelan.


"Apanya yang lupa?" tanya Freya dengan kening berkerut samar.


"Beberapa waktu yang lalu Fatih meminta nomor kontak ponselmu dariku. Aku memberikannya tanpa bertanya dulu padamu karena Fatih sedikit memaksa. Dia bilang ingin mengucapkan terima kasih secara langsung sama kamu atas bantuanmu padanya. Emang kamu bantu apaan sih? sampai-sampai ekspresi si Fatih waktu meminta nomormu seperti hendak mengenang jasa pahlawan nasional," seloroh Dara tanpa jeda.


"Aku cuma bantuin dia pasangin ban serep aja. Waktu itu ban mobilnya kempes dan kebetulan aku sedang lewat. Kulihat dia itu payah banget saat mencoba mengganti ban mobilnya sendiri. Karena tanganku gatal jadilah aku turun tangan," jelas si tomboi itu. Ia kemudian membuka botol air mineralnya dan menenggaknya hingga separuh.


"Tangan gatal kok pengen megang kunci dongkrak bukannya digaruk, dasar nona trail. Terus barusan apa katanya?" Dara menghentikan kegiatan mengunyahnya karena sepertinya amunisi untuk lambungnya sudah terisi penuh.


"Dia ngajak aku makan malam di luar sebagai ungkapan rasa terima kasihnya. Awalnya aku mau menolak. Tapi nada suaranya yang memelas bikin aku nggak tega, jadi kuterima ajakannya."


Ditengah-tengah obrolan mereka, salah seorang dosen wanita datang menghampiri. "Dara, ada yang ingin bertemu kamu, beliau ada di ruangan rektor."


"Bertemu dengan saya Bu?" Dara bangkit dari duduknya dan menjawab dengan sopan.


"Betul, ada orang yang meminta bertemu denganmu. Sepertinya orang penting. Kalau tidak salah tadi rektor mengatakan namanya Nyonya Ratih," jelas dosen wanita itu.


Deg.


Dara terkejut, ada apa ibu mertuanya mencarinya di kampus.


"Nyo-Nyonya Ratih?" ucap Dara terbata.


"Iya. Namanya Nyonya Ratih. Sebaiknya kamu segera menemuinya sekarang."