
Langit berhenti menumpahkan sumber airnya ketika fajar masih bersiap-siap merias diri untuk menebarkan pesonanya yang bercahaya saat waktunya tiba. Kunjungannya semalam, masih menyisakan jejak basah di setiap penjuru tanah yang disambanginya.
Hawa sejuk yang tercipta, memadukan dua tubuh yang kini bergelung dalam satu selimut saling mendesakkan diri dan berusaha menyerap kehangatan satu sama lain.
Dara merasakan tubuhnya merinding karena udara dingin yang menyapa permukaan kulitnya yang terbuka, ia menarik selimut dan menutupkannya hingga leher lalu makin merapatkan dirinya ke sumber hawa panas menyenangkan yang berada di belakang punggungnya.
Ia merasakan ada yang mendekap tubuh telanjangnya dengan erat. Dara mengintip ke dalam selimut dan itu adalah lengan kokoh Wira yang memeluk tubuhnya posesif. Dara sedikit terkesiap, menolehkan kepalanya dan matanya langsung disuguhi pemandangan ketampanan seorang Wira Aryasatya.
Potongan-potongan kejadian semalam terpampang jelas di benaknya. Dara sama sekali tak menyangka, kini dirinya telah menjadi wanita seutuhnya, menjadi istri yang sesungguhnya, setelah Wira menyentuhnya dan memilikinya tadi malam.
Wajahnya merona, rasa malu masih meliputinya. Bagaimana tidak, ini adalah kali pertama dirinya dalam kondisi tanpa busana di hadapan seorang pria. Walaupun mereka sudah sah sebagai suami istri, tetapi, tetap saja Dara masih belum terbiasa dengan kedekatan yang begitu intim.
Pergerakan Dara ternyata mengusik tidur lelap Wira, kelopak matanya bergerak-gerak sebelum kemudian terbuka. Ia tersenyum merekah, ketika mendapati Dara yang tengah mengamati wajahnya.
"Tataplah sepuasmu, aku adalah milikmu sayang." Wira mengecup keningnya.
Dara kembali merasakan desiran di seluruh aliran darahnya ketika Wira mencium keningnya tadi. Ia menyembunyikan wajahnya yang makin memerah dan bertanya-tanya dalam hati. Jadi, seperti inikah rasanya jatuh cinta?
Pria itu melirik ke arah jam dinding, dan waktu masih menunjukkan pukul tiga dini hari. "Emhh... kenapa sudah bangun? tidurlah sebentar lagi, langit masih gelap."
Wira kembali mengeratkan pelukannya dan menenggelamkan Dara ke dalam dekapan hangatnya. Dara membetulkan posisinya berbaring, tetapi, tubuhnya terasa remuk redam dan ada suatu rasa tak nyaman di bagian bawah dirinya.
Wira langsung membuka matanya saat mendengar suara ringisan Dara dan melonggarkan pelukannya.
"Kenapa? apa aku memelukmu terlalu erat?" tanyanya khawatir.
"Bu-bukan itu, tapi itu... itu masih terasa... sakit," sahutnya malu-malu.
Wira terkekeh ketika paham apa yang dimaksud Dara, ia mengecup puncak kepalanya penuh sayang.
"Aku akan menghilangkan sakitnya, tapi nanti, tidak sekarang. Aku tahu cara mengobatinya," ujarnya meyakinkan Dara. Padahal hatinya tersenyum menyeringai, andai Dara tahu yang dimaksud Wira dengan mengobati.
"Benarkah?" tanyanya dengan tatapan mata polosnya.
"Benar. Sekarang tidurlah kembali, kamu butuh beristirahat."
Dara kembali memejamkan matanya, tapi kini posisi tidurnya berbantal sebelah dada Wira dan tangannya memeluk pria itu. Wira balas melingkarkan lengannya dan merengkuhnya kembali, walaupun sejujurnya, karena pegerakan Dara tadi menciptakan gesekan antar kulit mereka yang menyulut sesuatu dalam dirinya kembali bangkit merayap naik.
Wira berusaha menekan mundur hasratnya yang tak sengaja terbangun, inginnya dirinya kembali menyatu, apalagi saat mengingat kembali rasa luar biasa yang dicicipinya semalam. Tetapi, dia menahannya, karena Dara masih harus memulihkan tenaga serta bagian tubuh yang dirobeknya tadi malam.
Tangannya mengusap-usap punggung telanjang istri kecilnya, hingga kemudian napas Dara teratur menandakan dia kembali terlelap dalam tidurnya. Namun, justru kini dirinya yang tak mampu memejamkan mata, rontaan naluri kelelakiannya seolah sengaja menyiksanya dan mengejeknya, menantang dengan lantang sejauh mana dia dapat bertahan.