You Are My Sunshine

You Are My Sunshine
Part 40



"Di mana kak Wira sekarang!" seru Dara berapi-api. Gadis itu memijat-mijat pelipisnya, emosinya meluap, bahkan kepalanya terasa kembali berdenyut karena kesal setengah mati kepada pria yang telah menjadi suaminya itu.


"Setelah selesai memberikan instruksi, tuan langsung berangkat ke rumah sakit, Nyonya," sahut bu Rina tetap tenang, walaupun yang bertanya diliputi amarah membara.


Dara berbalik badan hendak pergi menyusul Wira ke rumah sakit untuk meminta penjelasan atas tindakannya. Namun, pandangan matanya teralihkan ke arah ruangan balet yang juga ramai dengan orang-orang yang keluar masuk di sana.


"Bu Rina, ada apalagi di ruangan balet? kenapa banyak orang juga di sana?" Dara kembali bertanya. Rumah ini tiba-tiba terasa asing karena banyak perubahan yang terjadi di dalamnya.


"Ruang balet mulai hari ini disegel oleh tuan, beliau melarang segala bentuk apapun tentang balet, entah itu musiknya ataupun tariannya." Bu Rina menjelaskan secara terperinci.


"Apa-apaan ini! Kak Wira benar-benar sudah keterlaluan!" geramnnya dengan mata berkilat penuh amarah.


Gadis itu kembali ke garasi dengan langkah seribu dan meminta pak Jono untuk segera mengantarkannya ke rumah sakit. Dara bahkan tidak sadar bahwa dirinya berangkat ke rumah sakit masih dengan piyama tipis yang membungkus tubuhnya serta mengenakan sandal yang biasa dipakainya di dalam rumah.


*****


"Dokter, kenapa tidak istirahat di rumah saja, bukankah cuti anda masih satu minggu lagi?" Fatih bertanya sopan sementara jemarinya sibuk menari di atas keyboard memasukan data-data pasien.


"Aku hanya merasa jenuh dan pengap saja, jadi kuputuskan untuk datang kemari, dan juga ada sesuatu yang ingin kubicarakan denganmu." Wira menyandarkan dirinya dengan mata terpejam di sofa panjang yang terdapat di dalam ruangan itu.


Fatih menghentikan kegiatannya, menaruh berkas yang sedang dikerjakannya dan menghampiri Wira.


"Ada hal apa Dokter? sepertinya penting." Fatih duduk berseberangan dengan Wira.


"Tentang pernikahanku dengan Dara, untuk sekarang berita ini jangan sampai tersebar kemanapun, bahkan ayah dan ibuku belum mengetahuinya. Semua ini adalah keinginan Dara untuk merahasiakan status kami dari khalayak ramai," Wira menghela napasnya berat.


Brak!


Rupanya Dara yang datang, gadis itu menerobos masuk dengan sorot mata menggelap melemparkan tatapan mautnya pada Wira.


"Kak, kita harus bicara, berdua saja, sekarang juga!" ucapnya galak masih dengan napas tersengal. Fatih yang mengerti dengan maksud Dara segera undur diri dan memberikan privasi untuk suami istri baru itu.


"Kakak benar-benar sudah keterlaluan! Apa maksudnya memindahkan barang-barangku ke kamar yang baru? kenapa semuanya hanya dilihat dari sudut pandang Kakak tanpa meminta pendapatku dulu! Apakah semua ini karena status kita sekarang? sehingga Kakak berubah menjadi manusia egois yang tidak memikirkan perasaan orang lain," seloroh Dara meluapkan segala kekesalan yang bergerombol di dalam dadanya.


"Tentu saja, kita harus tidur satu kamar karena status kita sekarang. Apa kata para pelayan jika melihat kita tidur terpisah. Apakah kamu lupa bahwa kita sudah menikah?" jawab Wira. Tatapannya dingin mengintimidasi dengan kedua tangan terlipat di dada.


"Aku sama sekali tidak lupa tentang hal itu, justru kakak sendiri yang bilang padaku bahwa pernikahan ini hanyalah sebuah pembuktian janji. Lalu, kenapa kita harus repot-repot berpura-pura menjadi pasangan yang sesungguhnya?"


*****


Hai my beloved readers, terima kasih banyak atas apresiasi dan dukungan kalian untuk ceritaku ini, tinggalkan jejak kalian setelah membaca ya, dan jika berkenan jangan lupa juga like, komentar, serta vote seikhlasnya, dukungan kalian membuatku semakin semangat menulis.


Follow juga akun Instagramku @Senjahari2412. Happy reading guys, thank you very much 😘😘💕💕.


Tanpa kalian yang membaca ceritaku, aku bukanlah apa-apa.


With Love,


Senjahari_ID24