
Keheningan membentang, ketiganya tak ada yang bersuara, semuanya membisu saling menatap dalam diam setelah mendengar keinginan Almira yang di luar dugaan.
"Mas." Almira kembali bersuara memecah kesunyian di dalam ruangan itu. Wajahnya semakin pucat pasi, tampak jelas Almira menahan kesakitan yang teramat sangat.
"Sebelah mana yang sakit?" tanya Wira parau. Air mukanya sudah tidak bisa lagi menyembunyikan kekhawatiran yang bergejolak menghimpit jiwanya.
"Mas, tolong kabulkan permintaanku!" Almira mulai terisak.
Dara yang sedari tadi masih tertegun kembali tersadar saat suara isakan Almira menyapa telinganya.
"Mbak, jangan berpikiran yang macam-macam, fokuslah untuk segera sembuh, aku bisa menjaga diriku, tidak perlu sampai harus_" ucapannya terhenti, tenggorokannya seolah tersendat tak mampu mengucapkan kata-kata yang hendak di utarakannya. Bahkan kristal bening itu kembali mengalir dari bola mata cantiknya tanpa permisi.
Almira menggeleng lemah.
"Dara, kuminta padamu bersedialah menikah dengan Mas Wira, aku tidak akan tenang jika meninggalkanmu begitu saja tanpa tempat bernaung yang bisa dipercaya." Air mata mulai menganak sungai di wajah pucatnya.
"Aku pasti akan menjaganya Mira, tanpa harus ada ikatan semacam itu. Apa kau tidak percaya padaku? selama ini akupun menyayangi Dara seperti adikku sendiri, yang lebih penting sekarang adalah kondisimu, kamu harus berusaha untuk sembuh, dan setelah itu bertanggung jawabalah atas hatiku yang sudah kau lukai," papar Wira setengah terbata menahan tangis.
Almira mengulas senyumnya, senyum yang sarat akan kesakitan, kepedihan, penyesalan, dan kekhawatiran bersatu padu menjadi satu, membuat setiap helaan nafasnya semakin perih disertai raganya yang terasa remuk redam.
"Kumohon kalian berjanjilah padaku, menikahlah, hanya itu yang kuinginkan," cicitnya kembali, suaranya mulai terdengar semakin lemah matanya terpejam seolah menahan sesuatu, membuat Dara yang duduk di dekat kaki Almira melonjak kaget dan memajukan tubuhnya makin mendekat kepada kakaknya yang seolah tersiksa dengan keadaannya saat ini.
"Sayang... sayang, jangan menakutiku," Wira membelai rambut Almira dan mencium puncak kepalanya. Ia sudah tidak bisa menahan tangisnya lagi, air matanya luruh tanpa seizin darinya. Melihat istrinya yang semakin melemah membuatnya di landa kepanikan luar biasa.
"Dara kemarilah." Almira mengulurkan tangannya.
Dara yang sejak tadi tak berhenti menangis, menggeser posisinya semakin mendekati Almira, diraihnya tangan kakaknya itu dan menggenggamnya kuat seperti anak yang takut kehilangan ibunya.
"Adik kecilku tersayang, selama ini aku tidak pernah meminta apapun darimu bukan? tapi kali ini kumohon padamu jadilah istri untuk Mas Wira, sayangilah dia, dan menurutlah padanya. Hanya Mas Wira yang bisa kupercaya untuk menjagamu, dan dengan ikatan pernikahan tidak akan menimbulkan fitnah kedepannya karena kalian tinggal dalam satu atap." Almira menatap Dara penuh kasih sayang.
"Mintalah apapun dariku, tapi bolehkah diganti hal lain?" Dara meremas jemari Almira.
"Kumohon, hanya itu yang kuinginkan." Almira menatap bergantian suami serta adiknya.
Wira mendesahkan napasnya berat, ia tertunduk dalam diam. Pikirannya kacau, tapi ia juga tak sampai hati untuk menolak saat matanya kembali melihat kondisi Almira yang hampir tak punya harapan.
"Baik, aku akan menuruti semua permintaanmu, apapun itu," sahut Wira dengan suara berat.
"Terima kasih Mas, terima kasih, dan maafkan aku yang telah menorehkan luka di hatimu, sepertinya ini adalah karma bagiku, karena telah membagi hatiku dengan orang lain, maafkan aku." Almira menangis, tangannya membelai lembut kepala Wira yang menunduk begitu dekat dengan wajahnya.
"Ra," panggilnya lagi, mata mereka bersirobok.
Dara yang sejak tadi tak mampu bersuara akhirnya mengangguk ragu mengiyakan permintaan kakaknya, walaupun itu berat, tetapi Dara tak ingin mengecewakan Almira.
"Anak pintar." Almira tersenyum lebar.
"Mas, aku ingin tidur, rasanya lelah sekali. Dara pulanglah dulu, beristirahatlah, ada Mas Wira yang menjagaku," ucap Almira.
"Aku tidak mau pulang! Aku ingin di sini," pekiknya sambil berurai airmata.
"Ra, kalau tidak mau pulang, istirahatlah diruangan Mas Wira, jangan terus menerus duduk di selasar rumah sakit sepanjang malam, nanti kamu sakit."
"Tapi aku ingin menemani Mbak," sahutnya masih sesenggukan.
"Malam ini Mbak ingin berdua saja dengan Mas Wira, besok pagi giliranmu yang menemani, boleh ya?" bujuk Almira.
"Baiklah, segera sembuh ya Mbak." Dara mencium pipi Almira kemudian berlalu keluar dari sana.