You Are My Sunshine

You Are My Sunshine
Part 39



Setelah mendengar Wira pulang terlebih dahulu dan meninggalkannya, rasa lapar di perutnya sirna entah kemana, bahkan roti lembut yang dikunyahnya terasa sulit untuk ditelan.


"Mbok, sepertinya aku akan pulang saja." Dara menaruh roti panggangnya ke atas piring yang baru beberapa gigitan saja dimakannya.


"Nyonya, sebaiknya dihabiskan dulu sarapannya, agar tidak lapar di jalan," ucap si ibu.


"Aku sudah kenyang, terima kasih sarapannya, aku pamit Mbok." Dara bangkit dari duduknya sambil berusaha tetap tersenyum walaupun hatinya dongkol karena sekarang Wira bersikap seenaknya.


"Hati-hati di jalan Nyonya." Si ibu membungkuk sopan.


"Iya, sekali lagi terima kasih," sahutnya ramah dan tanpa menunggu lagi Dara segera menuju ke kamar utama.


Si ibu pengurus villa terkikik geli, ia menduga sudah pasti Nyonya mudanya itu merindukan suaminya makanya memutuskan segera menyusul pulang, lagipula mana tahan masih pengantin baru tapi harus berjauhan satu sama lain.


Dara mengambil tas cangklong dan ponselnya tanpa mengganti piyamanya dengan pakaian lain, dia akan langsung pulang ke rumah dan tidak berniat untuk mampir kemanapun dulu, jadi walaupun hanya hanya memakai piyama sama sekali tidak masalah baginya.


Pak Jono yang sedari tadi berada di halaman villa sedang menikmati kopi instan sambil mendengarkan siaran radio dari ponselnya, segera siap sedia saat melihat Dara muncul dan ia tergopoh-gopoh menghampiri.


"Non Dara, eh Nyonya Dara, eh maaf Nyonya Wira maksud saya, mau diantar kemana hari ini?" tanya pak Jono sedikit grogi karena sekarang Dara sudah menikah dengan tuannya, secara otomatis status Dara sekarang berubah menjadi Nyonya Wira. Bahkan dia merutuki dirinya dan memukul-mukul pelan mulutnya dengan telapak tangannya sendiri, karena merasa salah mengucapkan sapaan untuk Dara.


"Pak, aku mau pulang, sekarang juga!" Dara masuk ke dalam mobil dan duduk di kursi penumpang kemudian membanting pintu dengan kencang.


Pak Jono dengan cepat membuka pintu depan mobil dan duduk di belakang kemudi. "Mau langsung pulang saja Nyonya? barangkali sebelum pulang ingin berjalan-jalan dulu berkeliling puncak?" tawarnya tetap sopan.


"Nggak Pak, tolong langsung pulang saja," pinta Dara sambil mengulas senyum tipis.


*****


Dara tiba di rumah saat menjelang sore, karena perjalanan agak macet jadi mereka terlambat beberapa jam dari yang seharusnya. Gadis itu menggeliatkan tubuhnya saat suara Pak Jono mampu membangunkannya, sepanjang perjalanan Dara hanya melamun kemudian tertidur hingga sampai di rumah.


"Non, eh Nyonya, sudah sampai." Pak Jono membukakan pintu penumpang.


"Ah iya, terima kasih Pak." Dara turun berjalan agak sempoyongan masih dengan mata ayam karena sisa-sisa rasa kantuk yang menggelayuti kelopak matanya.


Saat ia masuk ke dalam rumah, banyak orang yang berlalu lalang seperti sedang mengerjakan sesuatu. Di sana juga terlihat bu Rina yang memberikan instruksi kepada semua pelayan yang sibuk kesana kemari. Dara merasa keheranan, ia menghampiri bu Rina dan bertanya tentang keributan yang tengah terjadi di rumah tersebut.


"Bu Rina, ada apa ini?" Dara mengerutkan keningnya, raut wajahnya penuh tanya.


"Selamat sore Nyonya, dan selamat datang," sambutnya sopan dan ramah.


"Tuan Wira memerintahkan untuk membenahi kamar paling besar yang ada di lantai satu, kamar yang dulu diperuntukkan untuk tuan dan nyonya Haris jika sedang menginap di sini," jelasnya.


"Tapi untuk apa? untuk siapa? dan kenapa banyak perabotan baru juga?" tanya Dara masih tidak paham dengan situasi yang sedang terjadi.


"Tentu saja kamar yang baru disiapkan untuk anda dan tuan Wira, Nyonya. Tuan Wira sendiri yang memberi perintah untuk menyiapkannya dan membeli furnitur yang baru. Beliau tidak memperbolehkan memakai barang-barang lama dari kamar utama yang ada di lantai dua. Pakaian serta barang-barang Nyonya juga sudah di angkut dan kami rapikan di kamar yang baru sesuai perintah tuan," papar bu Rina panjang lebar.


Dara melebarkan matanya, kantuknya luruh seketika, dan rasa kesalnya semakin menjadi. Sebelumnya tidak pernah ada perbincangan tentang hal ini, dan tanpa bertanya setuju atau tidak, Wira seenak jidat memindahkan barang-barangnya. Kenapa sekarang setelah mereka menjadi suami istri, Wira berubah menjadi pria yang semena-mena! Gerutunya dalam hati.


"Dimana kak Wira sekarang!" seru Dara berapi-api.