
Wira memiringkan tubuhnya, menatap lamat-lamat si belahan jiwa yang tidur bergelung merapatkan tubuh di dadanya mencari kehangatan di sana. Begitu damai dalam lelapnya, senyuman tersungging di wajah cantiknya, sepertinya cerminan mimpinya yang luar biasa indah.
Dirapikannya anak-anak rambut yang menutupi sisi wajah Dara, kemudian jemarinya menyapu lembut rupa jelita yang tengah tertidur pulas berbantalkan lengannnya dari mulai dahi, hidung bangirnya, kelopak mata, juga bibir ranum Dara yang merah merekah.
Kebimbangan menyerbunya, haruskah menyampaikan informasi yang didapatkannya kepada Dara? Ia merasa tak tega mengatakannya, kenyataan itu terlalu pahit, sanggupkah istri kecilnya menanggung semua cerita masa lampaunya yang bersulam nestapa?
Di sia-siakan oleh sosok yang melahirkannya, dibuang tak diinginkan, hanya dianggap sebagai penghalang kebahagiaan ibu kandungnya sendiri sudah pasti akan membuat Dara terluka teramat dalam. Wira yang hanya mendengarnya pun ikut merasakan kesedihan mendalam. Permata berharganaya dicampakkan seumpama seongok sampah yang tak berguna membuat hatinya luar biasa menyembilu tak terkira.
Wira sudah memutuskan akan menyimpan kabar ini hingga dirasa waktunya tepat untuk disampaikan, saat ini dia akan memyimpannya rapat-rapat agar Dara tak mengetahuinya, khawatir akan berefek buruk pada kondisi istrinya yang tengah hamil besar.
“Mungkin bagi ibumu kamu tak berharga, tapi bagiku kamu adalah segalanya, sayang.” Wira bergumam pelan lalu merengkuh Dara ke dalam dekapan eratnya. Kemudian pikirannya kembali tertuju kepada Almira, wanita pertama yang pernah mengisi ruang hatinya.
Seperti apapun dirimu, kamu memanglah ibu peri bagiku dan juga Dara. Membawa Dara kecil dari panti asuhan lalu mengirimkannya disisiku saat dewasa. Kau memang pernah menorehkan luka, mengundang airmata, mencipta duka lara, tapi kamu jugalah yang mendatangkan tabibnya untuk mengobati sekeping hatiku yang terluka. Kamu seumpama sungai yang membimbingku kemana harus bermuara, menuntunku bersua dengan samudera belahan jiwa yang sesungguhnya. Terima kasih Mira… pernah hadir dalam hidupku. Bersama desau angin kuhantarkan do’a setulus hati untukmu, semoga kebaikan semasa hidupmu menjadi curahan kebahagian untukmu di sana. Aku akan menjaga Daraku hingga helaan napas terakhir berhembus dari raga.
*****
“Mas, bagaimana tentang pencarian alamat itu, apakah sudah ada perkembangan?” tanya Dara yang tengah mengeringkan rambut Wira dengan handuk. Sore ini dokter tampan itu baru selesai membasuh diri selepas pulang dari rutinitas hariannya di rumah sakit.
“Ehm… eh, i-itu masih belum ada kabar. Mungkin sedang banyak klien yang menggunakan jasa mereka. Sabar ya sayang.” Wira berusaha menjawab dengan nada sebiasa mungkin agar Dara tak menaruh curiga padanya yang tengah menyembunyikan sesuatu.
“Baiklah.…” sahut Dara sembari mengangguk lesu.
“Jangan terlau dipikirkan.” Wira mengusap puncak kepala Dara penuh sayang.
“Oke, barang apa saja yang ingin dibeli? aku akan memghubungi butik bayi untuk mengirimkan katalognya seperti biasa agar kamu bisa memilih dengan leluasa di rumah tanpa harus berlelah-lelah datang ke sana.” Wira beranjak hendak mengambil ponselnya, akan tetapi Dara menahan lengannya.
Dara memasang tampang memelas menggemaskan dan bola mata indahnya menatap WIra penuh harap. “Mas, kali ini aku ingin memilihnya secara langsung di butik, bukan melaui katalog. Sekali iniiiii… saja, boleh ya,” pintanya sambil bergelayut manja dan mengangkat jari telunjuknya ke depan wajahnya.
“Sayang, aku khawatir kamu kelelahan jika datang langsung ke sana. Bukankah memilih di rumah lebih santai dan nyaman?” bujuk Wira lembut.
“Tapi rasanya membosankan terus menerus memilih lewat gambar. Aku ingin melihatnya secara langsung. Ayolah Mas, kumohon. Aku janji akan berhati-hati.” Dara mulai merajuk.
Sudah dipastikan jika istrinya sedang dalam mode merajuk seperti ini WIra takkan mampu menolak, Dara sepertinya sudah paham betul di mana letak kelemahan suami posesif tercintanya.
“Iya, iya baiklah. Sesuai permintaanmu Nyonya. Tapi bagaimana kalau akhir pekan saja kita pergi ke sana, besok jadwal pekerjaanku sangat padat.”
“Tapi aku ingin membelinya besok. Biar Pak Jono dan Bu Rina saja yang mengantar, bukankah selama ini mereka selalu menjagaku dengan baik?” Dara tak menyerah, entah kenapa wanita hamil itu begitu ngotot kali ini. Wira tampak menimbang-nimbang, masih ragu untuk mengiyakan.
“Maaaasss….” Dara kembali menginterupsi.
“Ya sudah, tapi ingat jangan sampai kelelahan.” Wira akhirnya memberikan izinnya meskipun sejujurnya hatinya mearasa tak tenang.
Dara langsung tersenyum lebar dan berjinjit mengecup bibir WIra sekilas. “Makasih suamiku sayang,” ucapnya riang.