You Are My Sunshine

You Are My Sunshine
Part 250



Sementara di tempat lain, Fatih sedang sibuk membereskan rumah kontrakannya. Menata barang- barangnya serapi mungkin juga menyemprotkan pewangi ruangan hampir menghabiskan satu botol banyaknya. Fatih terus bersin-bersin ditambah kini kepalanya terasa pusing sendiri akibat aroma yang dihasilkan terlalu menyengat menusuk hidung.


Sejak beberapa saat yang lalu si calon dokter itu seperti orang kelabakan. Setelah membaca tulisan yang terpampang di ponselnya yang dikirimkan Freya, dia segera mebersihkan diri dari ujung kepala hingga kaki, juga berbenah tempat tinggalnya demi menyambut sang pujaan hati agar jangan sampai mempermalukan dirinya sendiri. Freya mengirim pesan singkat kepadanya, mengatakan akan datang ke tempat tinggalnya untuk mengembalikan jaket yang dipakaikan Fatih sewaktu menolongnya tempo hari.


Fatih melirik arloji yang melingkar di pergelangan tangannya, jarum jam menunjukkan angka pukul tujuh malam. Selagi menunggu dia mondar mandir di dalam rumah, kesana kemari seumpama setrikaan sambil sesekali melongokkan kepalanya ke arah pintu dengan ekspresi harap-harap cemas, jantungnya bertalu-talu tak beraturan, bahkan telapak tangannya terasa sedingin es menahan kegugupannya. Gadis pujaannya akan datang bertandang ke tempat tinggalnya membuat Fatih luar biasa gembira.


Yang dinantikan akhiranya datang. Terlihat Freya diantar ojek online, mengenakan helm berwarna hijau dengan logo hurup warna putih di belakangnya. Fatih segera keluar menyambut si tomboi yang terlihat berbeda hari ini, berdehem beberapa kali dan berusaha menampilkan wajah senormal mungkin sementara sesuatu di rongga dadanya berdegup semakin kencang tatkala tulang rusuknya nyata terlihat tenggelam dalam iris matanya.


Rambut sebahu Freya dibiarkan tergerai, tidak ada celana denim robek ataupun kaos oblong longgar yang dikenakannya, kali ini ia memakai skinny jeans dengan t-shirt warna putih yang sedikit ketat. Fatih semakin memuja, siluet lekukan tubuh Freya terlihat menonjol meskipun terbalut jaket sport yang resletingnya dibiarkan terbuka.


“Duh, sorry banget ya udah bikin kamu nunggu lama, tadi ojolnya terlambat datang,” ucap Freya sambil melangkah menghampiri Fatih yang menyambutnya di ambang pintu.


“Ehm… nggak masalah kok Frey. Yuk masuk," ajak Fatih.


Tanpa sungkan Freya masuk ke dalam dan mendaratkan bokongnya di sofa. Ia membuka tas ranselnya, mengeluarkan jaket Fatih yang sudah bersih dan rapi lalu menyodorkannya kepada si calon dokter yang duduk di sampingya. “Maaf, aku balikinnya terlambat.”


“Santai aja, padahal gak dibalikin juga nggak apa-apa,” sahut Fatih.


“Dih, kalau tahu gak usah dibalikin aku gak bakalan repot-repot datang kemari,” decak Freya dengan bibir mengerucut.


“Bukan begitu maksudku. Kalau jaket ini ada sama kamu, aku berharapa kamu akan terus mengingatku.” Kalimatnya meluncur dengan lugas, tetapi sesaat kemudian ia membekap mulutnya sendiri karena tanpa sadar mengutarakan isi hatinya yang terpendam.


“Maksudnya?” Gadis super cuek itu menyipitkan matanya tak mengerti.


“Teh manis hangat aja,” pintanya.


“Oke, tunggu sebentar.”


Fatih bergegas membuatkan teh, sedangkan Freya sejak tadi mengerutkan keningnya kala aroma menyengat mampir di hidungnya. Freya sibuk menajamkan indera penciumannya sambil mengedarkan pandangannya, bahkan mengendus endus tubuhnya sendiri karena khawatir aroma aneh tersebut berasal darinya. Rupanya, bau kuat desinfektan dan juga pewangi ruangan yang bercampur baur menghasilkan aroma tak biasa menguar di udara.


Tak butuh waktu lama Fatih sudah kembali membawa dua cangkir teh di tangannya, menaruhnya di meja depan sofa dan kembali duduk bersebelahan dengan Freya. “Diminum dulu tehnya,” ucap Fatih.


“Hey….” Freya menepuk lembut lengan Fatih membuat si pemuda itu berdesir tak karuan.


“I-iya ada apa?” Fatih menelan ludahnya susah payah, apalagi tatapan Freya menguncinya membuatnya gugup setengah mati ditatap intens oleh gadis yang disukainya.


“Kamu abis fogging ya?” celetuk Freya dengan raut wajah penasaran sementara Fatih malah melongo tak mengerti dengan apa yang dikatakan si tomboi itu.


******


Sambil menunggu update, baca juga novelku yang lainnya.