You Are My Sunshine

You Are My Sunshine
Bonchap 4



Selena bergelayut manja di lengan wira sambil berceloteh riang. Bocah itu baru saja terbangun satu jam lalu dan sekarang tengah asyik di ruang bermain. Ponsel di saku Wira berbunyi, ia merogoh saku untuk mengambilnya dan tergelak kencang setelah selesai membaca isi pesan dari istri cantiknya.


Dara mengirimkan foto tanda merah di bawah telinga dibarengi emoji cemberut. Melayangkan protes atas jejak yang ditinggalkan bibirnya tadi siang. Wira bukannya kesal akan omelan Dara, dia malah tertawa renyah dan lebar, lalu membalas pesan dengan emoji hati juga kiss sepenuh layar.


“Papa, kenapa ketawa cendili?” Si cantik versi mini perpaduan Wira dan Dara itu menggoyangkan lengan sang papa sembari menatap keheranan dengan bola mata jernihnya.


“Nggak apa-apa princess. Tadi ada pelawak yang sedang marah-marah. Ayo, kita main puzzle. Selena mau bongkar puzzle yang mana?” Wira kembali memasukkan ponsel sebelum Selena mencecarnya dengan pertanyaan-pertanyaan lainnya. Mengalihkan fokus putrinya pada mainan-mainan yang memenuhi seluruh ruang bermain.


“Aku mau bongkal Puzzle Plincess Mulan.” Tunjuknya pada puzzle yang terletak di rak mainan paling atas, mainan bongkar pasang yang paling sering dimainkannya.


“Kenapa yang ini terus? Nggak bosan?” tanya Wira sambil mengambil mainan yang dimaksud sang anak.


Selena menggeleng. “Nggak, kalena aku suka. Pengen jadi kuat juga kayak Plincess Mulan. Besal nanti, aku mau jadi hebat juga. Pintel naik kuda sama main pedang,” sahutnya antusias penuh kesungguhan.


“Baiklah, putri jagoan, mari kita mulai beraksi.”


Ayah dan anak itu kini asyik bermain bongkar pasang bersama diselingi canda tawa. Sesekali Wira menggelitiki Selena hingga putrinya itu terpingkal kegelian, mengabaikan ponselnya yang kembali bergetar dan sudah dipastikan itu adalah pesan berisi omelan susulan wanita hamil tercintanya yang tengah menggerutu dengan bibir mengerucut di tempat spa sana.


*****


Dara mengganti bajunya dengan gaun tidur warna marun yang begitu kontras dengan kulit putih mulusnya. Sejak pulang tadi, ia masih menekuk wajah dan tak mau berbicara pada Wira. Mood swing ibu hamil memang terkadang mengerikan. Akan tetapi Wira tetap santai dan malah tak henti menggoda istrinya yang sedang dalam mode galak itu.


Wira tahu, Dara masih merajuk akibat ulah bibirnya tadi siang. Alih-alih merasa jengkel ia malah terkekeh pelan, baginya Dara yang sedang dalam mode galak makin bertambah cantik dan seksi di matanya. Wira menaruh macbook di pangkuannya ke atas nakas. Menggeser posisi lalu berbaring di dekat punggung Dara yang membelakanginya. Menyusupkan lengannya ke bawah ketiak sang istri dan mendekapnya.


“Mama twins masih ngambek?” tanyanya tanpa dosa.


“Menurut Mas?” dengusnya ketus. Menarik lengan Wira yang memeluknya bermaksud menepiskan, tetapi tentu saja itu tak semudah yang dibayangkan, Wira mendekapnya erat membuatnya kesulitan melepaskan diri.


“Nggak usah deket-deket! Aku lagi marah sama Mas!” jawab Dara sambil mencubit kencang lengan Wira.


Jika begini biasanya Wira akan membujuk lalu mengalah, membiarkan istrinya meredakan rasa kesalnya terlebih dahulu, lagi pula biasanya durasi marahnya takkan bertahan lama.


“Baiklah, selamat tidur, Sayang.” Wira mengecup pelipis Dara, mengambil bantal juga guling lalu merebahkan diri di sofa seberang tempat tidur.


Waktu beranjak larut. Jarum jam pun terus melaju maju. Dara masih tak mampu memejamkan mata meski senyap telah menyergap sejak beberapa saat lalu. Suara jangkrik dari taman belakang bersahutan nyaring memenuhi pendengarannya, berpadu dengkuran halus Wira yang sudah terlelap pulas di sofa.


Ini adalah bencana. Selama lima tahun pernikahan ia selalu tidur dalam dekapan nyaman penuh cinta sang suami, membuatnya seolah ketergantungan dan tak mampu memejam kala pelukan ajaib itu enyah darinya. Rasa kesalnya mulai rontok luruh ke tanah lantaran kantuk tak kunjung menyambanginya. Ia turun dari tempat tidur lalu duduk di sisi sofa.


Dipandanginya lembut wajah prianya, Dara mengembuskan napasnya frustasi. Tangannya bergerak mengelus sisi rahang Wira disusul merebahkan kepala di dada Wira dengan kaki masih menjuntai ke bawah. Laksana obat tidur, rasa kantuk seketika menyerbunya, merayunya memejamkan mata setelah tubuhnya berpadu dekat dengan pemilik cintanya.


****