
Fatih duduk di dekat pos satpam dengan ekspresi mirip anak ayam yang kehilangan induknya, Ia mendongak setiap kali ada gadis yang lewat depannya. Setelah lama menunggu, Fatih memutuskan mencoba bertanya kepada satpam yang berjaga berharap mendapat petunjuk tentang siapa gadis yang di carinya dari ciri-ciri yang diketahuinya.
"Pak, saya sedang mencari seorang mahasiswi di sini, barangkali Bapak tahu siapa namanya. Ciri-cirinya tomboi, memakai motor trail, cantik bagai bidadari tapi tak bersayap, dan pesonanya menawan hati saya Pak?" tanyanya antusias dengan mata berbinar-binar
Si satpam menatap keheranan kepada pemuda yang kini tengah bertanya kepadanya dengan memasang wajah sumringah. Anak muda ini terlihat normal dan lumayan tampan, tetapi saat menyebutkan ciri-ciri orang yang dicarinya kenapa kalimatnya sedikit aneh sehingga tampak mencurigakan? Apakah orang ini penculik para gadis? Pikir si satpam tersebut.
"Ehm... sebenarnya, apa maksudmu datang kemari anak muda? aku tidak akan tertipu dengan wajah lugumu itu." Si satpam melempar tatapan penuh kewaspadaan kepada Fatih.
"Apa maksudnya Pak?" tanya Fatih dengan polosnya.
"Kamu pasti sindikat penculik para gadis kan? ayo ngaku!" Suara si satpam mulai meninggi sambil berkacak pinggang dengan sebelah tangan mengacungkan tongkat panjang yang terbuat dari kayu.
"Eh eh, tunggu dulu Pak. Mana mungkin saya penculik, saya cuma sedang mencari pujaan hati saya Pak," sanggah Fatih.
"Jangan banyak alasan, segera pergi dari sini! Atau nanti kuseret kau ke kantor polisi, cepat pergi!"
Si satpam mengusir Fatih tanpa toleransi, anak muda itu akhirnya pergi dari sana walau dengan berat hati sambil sesekali kembali menoleh ke belakang dan si satpam yang masih memperhatikan kepergiannya langsung melotot kepadanya.
*****
"Wooowww...."
Anggi tiba-tiba berteriak dan langsung duduk merapat kepada Dara, saat ini ketiganya sedang menunggu pesanan makan siang mereka di kantin kampus.
"Ra, kamu yakin itu cincin biasa? lihat deh, aku barusan nemu artikel tentang cincin pernikahan edisi terbatas dan modelnya sama dengan cincin yang kamu pakai," serunya antusias sambil menunjukkan ponselnya.
Dara melotot melihat kisaran harga yang tertera di artikel tersebut dan setelah diperhatikan memang benar itu adalah cincin yang dipakainya.
"Ahahaha... mu-mungkin cuma mirip aja, mana mungkin sama. Lagipula yang dimuat di artikel itu cincin pernikahan kan?" sahutnya kikuk.
"Iya juga sih, tapi kenapa kayak sama banget deh." Anggi tetap ngeyel dan Freya yang memperhatikan sejak tadi menoyor kepala Anggi.
"Heyy... Anggi jangan berisik! Kepalaku pusing," gerutu Freya.
Di tengah-tengah Freya dan Anggi yang sedang adu mulut, tiba-tiba ponsel Dara berbunyi. Dara merogoh ponsel dari saku celana jeans-nya dan tertera panggilan video dari Wira, gadis itu panik dan salah tingkah, lalu segera beranjak dari duduknya dan agak menjauh.
"Kenapa lama sekali mengangkat panggilanku," Wira merajuk dari seberang sana.
"Maaf Mas." Dara memasang tampang memelas yang menggemaskan membuat Wira ingin meloncat dan menerkamnya bulat-bulat saat ini juga.
"Sayang sedang apa?" ucap Wira. Pertanyaan standar dari seseorang yang tengah dimabuk asmara.
"Aku sedang menunggu pesanan makan siangku. Mas juga jangan lupa makan siang ya. Oh iya, ada apa Mas menghubungiku?" sahut Dara sambil tersenyum manis.
"Nggak ada apa-apa, aku hanya ingin melihat wajahmu. Aku rindu," ujar Wira.
Dara langsung merona mendengar kata-kata mesra pria tampan yang terpampang di ponselnya. "Aku juga, aku juga rindu," jawabnya tersipu.
"Akhh... rasanya aku ingin berlari ketempatmu sekarang juga," Wira berdecak kesal membuat Dara terkekeh.
"Sampai jumpa nanti sore." Dara menampakkan senyum cantiknya.
"Sepertinya aku pulang agak malam, pekerjaanku semakin menumpuk karena kutinggalkan cuti kemarin. Maaf, sepertinya tidak bisa menjemputmu pulang, aku sudah memberi tahu pak Jono agar menjemputmu tepat waktu." Wira mendesahkan napasnya berat.
"Tak apa Mas, selamat bekerja." Dara melambaikan tangannya di depan layar.
"Selamat belajar sayang, i miss you." Wira balas melambai dari sana.
"Miss you too."
Dara kembali ke tempat duduknya, senyuman bahagia lumrahnya orang yang sedang jatuh cinta tidak bisa disembunyikan dari wajah cantiknya, tampak menguar luar biasa menyilaukan membuat Anggi dan Freya memicingkan mata terhadapnya.
"Ra, kamu lagi jatuh cinta ya? sejak kapan kamu punya pacar? siapa dia?" cecar keduanya.
Dara hanya melongo dan terkejut karena diberondong dengan berbagai macam pertanyaan yang tiba-tiba dilontarkan kepadanya.