
Sudah satu jam lebih Wira masih belum keluar juga dari kamar mandi. Dara duduk bersandar di ranjang sambil membaca buku seputar kehamilan selagi menunggu Wira selesai membasuh diri. Walaupun sesekali rasa kantuk mulai menghampiri dan merayu matanya untuk memejam, tetapi Dara tetap menahannya agar tidak jatuh tertidur.
Dara meletakkan bukunya ke atas nakas. Telapak tangannya bergerak menutup mulutnya yang menguap. "Hhh... kenapa Mas Wira masih belum selesai juga, sebetulnya ngapain aja sih di kamar mandi!" decaknya mulai kesal. Ia turun dari ranjang, berjalan ke dekat cermin besar lalu berdiri di sana dan menatap pantulannya dari ujung kepala hingga kaki.
Padahal aku sudah berusaha berdandan secantik mungkin, tapi sepertinya Mas Wira sama sekali tak menginginkanku dan terus menghindariku. Gumamnya sedih.
Sangat lumrah jika pikiran-pikiran buruk berkecamuk di benaknya, merangsek memenuhi seluruh isi kepalanya yang diliputi kecurigaan akibat dari perubahan sikap pada diri suaminya yang dirasakannya.
Terdengar pintu kamar mandi yang ditutup membuyarkan lamunannya. Dara langsung menoleh ke arah kamar mandi dan terlihatlah Wira yang begitu segar nyaris mengigil keluar dari sana. Kaki jenjangnya melangkah cepat menghampiri dan Wira malah tersentak karena mendapati Dara yang masih terbangun.
"Mas, kenapa mandinya lama banget sih?" Dara melayangkan protes dengan raut wajah tak suka, bukan mimik muka manis yang biasanya terlukis di rupa cantiknya.
"Ah... it-itu... itu karena tadi siang banyak berdatangan pasien yang mengidap penyakit menular ke rumah sakit. Aku takut membawa virus dan bakteri berbahaya, jadi mandiku lebih lama," jawabnya beralasan.
"Tapi akhir-akhir ini Mas di kamar mandi lebih lama dari biasanya. Bukan cuma hari ini," ujar Dara tak menerima alasan yang dilontarkan Wira.
Pria tampan dengan rambut basah yang masih meneteskan buliran air itu hanya termangu tak menjawab, lidahnya kelu. Ia terus-menerus menghindari kontak mata dengan Dara, karena saat ini bola mata indah itu sedang memaku tajam terhadapnya.
"Apa Mas sedang berusaha menghindariku? jawab aku!" Emosi mulai merambat ke permukaan efek dari rasa curiga yang menyiksanya.
Dara menepis lengan Wira dari pundaknya. "Jika bukan menghindariku lantas apa namanya? bahkan sudah lebih dari tiga minggu Mas tak menyentuhku. Apa karena sekarang tubuhku tampak mengerikan sehingga membuat Mas tak berselera lagi padaku dan mengabaikan bahwa aku juga butuh nafkah batin darimu?" selorohnya tanpa jeda.
Dada Dara kembang kempis turun-naik dilanda amarah sembari menelan ludahnya sesekali. Wajahnya mulai memerah menahan tangis, dan sudut matanya mulai menggenang.
"Sayang, aku sama sekali tak pernah menganggapmu seperti itu." Wira kembali mencoba meraih pundak Dara, tetapi lagi-lagi ditepiskan.
"Atau jangan-jangan Mas mempunyai wanita lain di luaran sana yang sudah pasti dengan mudah Mas dapatkan iya kan!" seru Dara dengan suara meninggi.
"Kenapa kamu menuduhku seperti itu!" Refleks Wira membentak Dara dengan nada tak kalah tinggi karena tak terima dengan kalimat yang dilontarkan kepadanya membuat istrinya itu berjengit kaget.
Ternyata Dara berpikir sampai sejauh itu atas sikapnya yang menurutnya demi kebaikan anak dan istrinya. Efek dari rasa takutnya ia enggan berterus terang dan lebih memilih menutupinya, tak disangka pilihan sepihaknya malah menciptakan percikan kesalahan pahaman dalam rumah tangganya.
Wajar saja jika Dara mengira Wira mempunyai wanita idaman lain. Bagaimana tidak, suaminya seolah sudah tak berminat lagi padanya sudah pasti yang pertama terlintas di benak istri manapun adalah hal buruk semacam itu.
Wajah cantik Dara mulai dihiasi buliran bening yang luruh dari sudut matanya yang sejak tadi tertahan. Merasa sakit hati karena Wira malah membentaknya. "Kamu jahat Mas!" teriaknya seraya terisak. Dara menghentakkan kakinya melangkah dengan cepat keluar dari kamar.
Wira terhenyak. Ia sendiri juga kaget kenapa sampai lepas kendali dan malah membentak Dara. Seperti orang linglung Wira segera menyusul Dara dan memanggil-manggilnya. "Dara, sayang. Tunggu dulu... sayang...."