You Are My Sunshine

You Are My Sunshine
Part 142



Tok... tok... tok....


"Nyonya, kita sudah sampai." Pak Jono mengetuk dari luar kaca mobil kursi penumpang.


"Ah, i-iya."


Dara sedikit terperanjat. Ketukan sopir pribadinya itu membuyarkan lamunannya. Ia kemudian membuka pintu dan turun dari mobil tersebut.


Dara hendak melangkah masuk. Lalu sudut matanya menangkap keberadaan motor butut kesayangannya. Motor Vespa itu terparkir di dekat mobil yang barusan ditumpanginya. Dara mendekati motor tersebut. Si roda dua yang penuh kenangan. Dulu Vespa itu adalah motor yang dipakai Arif, ayah angkatnya Dara.


Dara mengangsurkan tangannya di jok motor tersebut, kemudian Ingatannya kembali ke masa lampau.


*****


Setelah Arif meninggal dunia, beberapa saudara jauh ayahnya tiba-tiba datang menuntut hak waris karena menurut keterangan mereka tanah dan bangunan yang ditempati Arif masih memiliki sengketa waris yang belum selesai.


Tak ingin sang ayah yang telah wafat terkena gunjingan yang terus-menerus, akhirnya mendiang Almira memutuskan untuk melelang dan menjual rumah itu beserta isinya untuk diberikan kepada saudara-saudara jauh ayahnya yang meributkan tentang warisan.


Almira juga akan mendapatkan satu bagian dari hasil penjualan, karena pengaturan waris dibagi secara merata. Ia akan membagi dua jatahnya sama rata dengan Dara walaupun nominalnya tidak banyak.


Namun, Dara menolak niatan Almira. Ia meminta kepada kakak angkatnya untuk tidak menjual motor Vespa jadul milik Arif dan memberikannya padanya sebagai gantinya. Walaupun harga motor butut itu tak seberapa, tetapi kenangan di dalamnya tak ternilai.


"Kenapa kamu pengen motor butut ini Ra? dari uang pembagian waris nanti kamu bisa membeli motor baru yang lebih bagus," kata Almira.


"Mungkin harga motor ini tak seberapa Mbak. Tetapi, motor ini penuh kenangan. Sewaktu kecil setiap pagi Ayah memakainya untuk mengantarkanku dan juga mbak ke sekolah. Hanya dengan melihatnya saja aku merasakan kasih sayang ayah selalu melingkupiku setiap waktu. Jadi aku hanya ingin Vespa jadul ini. Tak mau yang lain," pinta Dara kala itu.


*****


"Ayah... aku rindu. Aku harus bagaimana Yah?" gumam Dara pelan sambil mengigit bibirnya menahan isakan yang mendesak ingin menyembur keluar.


"Seperti biasa Nyonya. Semua kunci ditaruh di rak kunci kendaraan dekat pintu masuk yang terhubung ke garasi. Ada yang bisa dibantu Nyonya?" tanya Pak Jono yang masih berada di garasi sejak tadi. Ia sedang membersihkan kaca mobil-mobil yang terparkir agar selalu tampil jernih mengkilap.


"Bisa tolong ambilkan Pak?" pinta Dara.


"Baik Nyonya. Tapi untuk apa? Tuan Wira berpesan agar tidak membiarkan Anda bepergian sendirian. Nanti saya diomeli," jawab Pak Jono dengan ekspresi wajah serba salah.


"Aku hanya ingin berkeliling komplek, sebentar saja. Sudah lama aku tidak mengendarai Vespa kesayanganku ini," pinta Dara


"Tapi Nyonya?" Pak Jono kembali bersuara dengan nada cemas.


"Tolonglah. Sekali ini saja biarkan aku melepas rindu bernostalgia dengan motor ini," bujuk Dara dengan wajah memelas namun memaksa.


"Baiklah Nyonya, sebentar saya ambilkan."


Pak Jono masuk ke dalam dan mengambilkan kunci motor Vespa tersebut. Tak lama ia keluar diiringi Bu Rina mengekor di belakangnya.


"Ini kuncinya Nyonya." Dengan berat hati Pak Jono menyerahkan kunci tersebut ke tangan Dara.


"Nyonya, apa tidak sebaiknya dibonceng oleh Pak Jono saja jika ingin berkeliling. Anda sedang hamil muda. Saya khawatir," bujuk Bu Rina berharap Dara mengurungkan niatnya.


"Tenang saja, aku akan berhati-hati. Aku sedang ingin berduaan saja dengan motorku."


"Baiklah Nyonya. Tapi jangan terlalu lama, nanti Anda masuk angin. Lagipula hari sudah sore," ucap Bu Rina dengan nada khawatir yang jelas kentara.


Dara mengangguk dan memakai helmnya, kemudian menghidupkan motor tersebut dan mengendarainya keluar dari garasi.


"Hati-hati Nyonya," teriak Bu Rina sarat akan kecemasan.