
Kabar tentang ditemukannya ibu kandung Dara disampaikan Wira kepada orang tuanya, tak lupa Freya dan Anggi sebagai sahabat Dara juga ikut mengetahui kabar tersebut. Wira hampir setiap hari menyempatkan diri mengunjungi Aruna selepas pekerjaannya selesai, juga bertanya kepada dokter penanggung jawab tentang kondisi ibu mertuanya. Kedua sahabat Dara ikut menjenguk Aruna di rumah sakit, begitu pula dengan Haris dan Ratih yang juga datang berkunjung.
Aruna sangat bersyukur, mengetahui anaknya dikelilingi orang-orang yang menyayanginya, apalagi saat Dara menceritakan tentang mendiang Arif juga Almira, tak henti-hentinya ungkapan rasa terima kasih mendalam terucap untuk mereka, yang telah berbesar hati membawa Dara ke dalam kehangatan sebuah keluarga juga melimpahi kasih sayang kepada darah daging yang diabaikannya dulu.
Dara tak setiap hari datang ke rumah sakit, biasanya datang berkunjung sekitar dua atau tiga kali dalam seminggu karena disibukkan dengan persiapan perkuliahan yang hampir tiba, dan juga dia harus pandai membagi waktu agar suami serta anaknya selalu mendapatkan perhatian penuh tak kurang sedikitpun. Hari ini Dara tak datang ke rumah sakit, tetapi ia selalu menyempatkan melakukan video call dengan ibunya untuk menyapa.
“Ibu harus makan teratur, jangan lupa vitaminnya dihabiskan, besok atau lusa aku akan datang. Dah nenek.” Dara mengakhiri pangilan videonya diiringi lambaian tangan Selena.
“Dadah.” Aruna membalas lambaian anak cucunya hingga kemudian video call berakhir. Diusapnya layar ponselnya yang dihiasi foto keluarga kecil Dara, ditatapnya foto sang anak, menantu juga cucunya berlumur sukacita.
Tiba-tiba pelayan yang menungguinya tergopoh-gopoh menghampiri setelah kedatangan seseorang beberapa saat yang lalu. “Nyonya, ada yang mengirimkan amplop besar ini. Si pengirim bilang ini untuk Anda.” Pelayan tersebut menyerahkan amplop besar berwarna coklat kepada Aruna.
“Tolong atur ranjangku, aku ingin posisiku lebih tegak,” pinta Aruna dan si pelayan dengan sigap segera melaksanakannya.
Dibukanya amplop tersebut dan dibacanya dengan saksama. Ternyata isinya adalah surat cerai dari suaminya, lelaki yang di masa lalu lebih dipilihnya daripada anaknya. Dua lembar berikutnya adalah tentang rumah sederhana yang ditempati aruna setelah dirinya diasingkan karena sakit, lelaki itu hanya memberikan rumah kecil tersebut sebagai salam perpisahan. Aruna menarik napas dan tersenyum getir, dia tidak menangis, justru seulas senyum lega tampak menghiasi wajah pucatnya.
Dia menerima semua itu dengan lapang dada, menganggapnya sebagai karma akan kesalahannya di masa lalu. Dulu dia membuang anaknya, dan sekarang dirinyalah yang dibuang. Yang diinginkannya sekarang hanyalah melihat anaknya hidup bahagia dan semua itu sudah terwujud, rasanya dia tak penasaran lagi jika Tuhan berkehendak untuk memanggilnya saat ini juga.
Si pelayan wanita yang kira-kira berusia dua puluh tiga tahunan itu malah menangis dan menggelengkan kepala, dia lah satu-satunya pelayan yang tetap setia pada Aruna semenjak dirinya sakit. ”Saya tak mau bekerja pada nyonya kedua, saya tetap ingin bersama Anda,” sahutnya sesenggukan.
“Tapi aku takkan mampu membayarmu sebesar gaji yang diberikan tuanmu selama ini, uang simpananku tersisa sedikit dan harus kupakai untuk membayar biaya perawatan mulai sekarang. Bukankah di desa kamu punya adik yang masih bersekolah dan butuh biaya? kembalilah ke sana, ingat keluargamu. Jangan cemaskan aku, ada perawat rumah sakit yang selalu siap sedia di sini,” bujuknya. Aruna tak mungkin membiarkan pelayan tersebut tetap merawatnya tanpa bayaran yang sesuai sedangkan si pelayan juga butuh uang.
“Meskipun gajinya sedikit tak apa Nyonya, saya tetap ingin merawat Anda. Saya tak mungkin tega meninggalkan Anda dalam keadaan sakit parah seperti ini.”
“Saya yang akan membayarnya. Kamu bisa tetap merawat dan menjaga Ibu mertuaku.” Suara Wira menginterupsi dua orang yang tengah tawar menawar tersebut. Keduanya menoleh ke arah sumber suara, mereka tak menyadari beberapa menit yang lalu Wira masuk ke sana untuk berkunjung seperti biasa dan mendengar percakapan antara si pelayan dengan ibu mertuanya.
“Te-terima kasih Tuan, terima kasih,” ucap si pelayan sungguh-sungguh.
“Nak Wira, Ibu tak ingin merepotkan. Ibu terlalu malu untuk menerima kebaikanmu juga Dara,” jawab Aruna lemah dan enggan.
“Sudah kewajiban seorang anak merawat orang tuanya di kala sakit bukan? tak usah sungkan, saat Dara menjadi istriku, maka Anda juga menjadi ibuku.”