You Are My Sunshine

You Are My Sunshine
Part 298



Acara ulang tahun Dara akan diadakan di taman samping rumah. Mereka menjadwalkan pesta sore hari sambil ditemani terpaan hangatnya sinar mentari juga semilir angin yang membelai mesra dedaunan. Gaun yang akan dipakai Dara dan Selena dirancang dengan model yang sama, sudah pasti Ibu dan anak itu akan tampak serasi juga cantik dalam balutan busana indah berwarna peach.


Haris dan Ratih sudah datang sejak pagi untuk membantu mempersiapakan acara ulang tahun walaupun diadakan sederhana saja sesuai permintaan menantunya. Dara ingin pesta kali ini hanya keluarga dan teman terdekat saja yang hadir, agar suasana kekeluargaan lebih terasa. Fatih dan Raisa juga ikut diundang, si calon deokter itu bahkan meluangkan waktu padatnya untuk datang dari luar kota.


Sementara itu Freya dan Anggi masih berdebat di sebuah pusat perbelanjaan padahal acara akan dimulai satu jam lagi. Sejak tadi mereka memutari mall hendak membeli hadiah untuk Dara.


“Frey, yang namanya lingerie itu memang begini,” jelas Anggi sambil menunjuk ke arah boneka display sebuah gaun tidur seksi berwarna rosegold.


“Ini…ini gak layak pakai! Sama sekali gak bisa disebut baju. Modelnya compang camping dan transparan di mana-mana. Masa iya kita ngasih kado baju mengerikan kayak gini!”


Freya tak henti menggelengkan kepala samabil berdecak tak percaya menatap deretan gaun tidur di depan matanya. “Hadeh kenapa mereka membuat baju yang lebih mirip kain saringan ikan daripada pakaian, siapa juga yang mau beli dan mau pake!”


Anggi menepuk jidatnya sendiri, dia lupa kalau Freya adalah jenis gadis langka, sangat jauh dari yang namanya feminisme karena Freya lebih akrab dengan yang namanya perbengkelan.


“Baju kayak gini dipakai buat nyenengin suami kalau kita udah nikah nanti, tapi cuma dipake kalau lagi berdua di dalam kamar, gitu kata tanteku," sahut Anggi yang dengan sabar menjelaskan kepada gadis tomboi yang sejak tadi menggerutu.


“Jadi… jadi Dara juga pake kain saringan ikan ini di depan Kak Wira? tidaaakkkk… aku takut menikah!” pekik Freya sambil mengacak rambutnya sendiri sebelum akhirnya seseorang menepuk pundaknya dari belakang.


“Frey.”


“Fatih?” ujar Freya.


“Rambutmu… rambutmu kenapa Frey? disamber geledek?” Fatih terperanjat kaget melihat keadaan Freya yang acak-acakan.


“Ini… ini lebih horor dari geledek. Semuanya gara-gara baju tak beradab itu!” Tunjuk Freya ke arah deretan gaun-gaun tidur seksi. Fatih malah terlonjak mundur ke belakang sambil menutup mulutnya sendiri.


“Ka- kamu, mau be-beli ini buat di- dipake?” tanya Fatih tergagap, wajahnya merona merah karena membayangkan hal yang tidak-tidak.


“Nggak lah. Aku nggak sudi pakai baju yang tak pantas disebut baju. Seragam balapku jauh lebih bagus dan juga nyaman dipakai di segala suasana bahkan tidur sekalipun. Kenapa wajahmu memerah, kamu demam?” Freya meletakkan telapak tangannya di jidat Fatih. “Tapi kamu nggak panas?” Freya merengut tak mengerti karena mendadak wajah pacarnya lebih mirip tomat masak.


“Mu-mungkin karena tadi lari-larian nyari kamu jadi gini. terus aku juga baru nyampe, kayaknya efek kecapean nyetir aja. Aku sengaja nyusul ke sini saat tadi kamu bilang lagi berbelanja hadiah, biar kita sma-sama berangkat ke rumah Dokter Wira.” Fatih berkilah seraya menelan ludahnya susah payah, semoga Freya tak mengetahui kemesuman yang tengah bergelut di kepalanya, jika tidak mungkin saja pacarnya itu akan membuatnya pingsan.


“Ya udah kita cari minum dulu buat kamu. Anggi, kamu pilihin kado buat Dara. Apa aja terserah kamu. Aku mau nemenin Fatih dulu.” Freya segera berlalu menyeret Fatih meninggalakan Anggi yang memandangi kepergian mereka dengan tangan terlipat di dada.


“Dasar bucin!” gerutu Anggi yang kemudian melipat bibir mengulum senyum.