
Sekitar pukul tiga sore Fatih sampai di kampus Dara dengan mengendarai mobil mewah atasannya itu. Ia ditugaskan oleh Wira untuk menjemput Dara karena pak Jono tiba-tiba jatuh sakit.
Sambil menunggu Dara selesai kelas, pemuda itu duduk di kursi besi panjang di bawah rindangnya pohon beringin di area parkir kampus tersebut. Lalu tak lama tampaklah Dara bersama dengan Freya dan Anggi yang berjalan bersamaan.
Freya dan Anggi berjalan di belakang Dara, Fatih melirik ke arah derap langkah kaki yang semakin mendekat kepadanya dan saat memperhatikan para gadis yang berjalan dibelakang istri atasannya itu matanya
menangkap sosok Freya. Ia senang tak terkira, sungguh tak menyangka akhirnya bisa bertemu lagi dengan gadis yang menolongnya tempo hari.
Fatih bangkit dari duduknya dan merapikan pakaiannya. Ia ingin terlihat rapi agar meninggalkan kesan baik terhadap gadis yang beberapa waktu terakhir ini dicarinya. Awalnya dia begitu percaya diri dan berniat menyapa, tetapi saat Freya semakin mendekat ia malah grogi ditambah degupan jantungnya yang tak beraturan hingga lututnya ikut terasa lemas dan gemetar.
"Ini bener kan mobil suamimu? tapi... mana dia?" tanya Freya sembari celingak-celinguk mengedarkan pandangannya ke sekitar mencari-cari sosok Wira.
"Dia yang jemput aku." Dara mengarahkan telunjuknya kepada Fatih yang berdiri tegak dengan senyum kaku karena merasa salah tingkah.
"Hah, siapa dia!" seru Freya kaget. "Haduh Ra... Inget, kamu itu udah punya suami. Apa kamu terpaksa menikah dengan kak Wira hingga akhirnya berselingkuh dengan pria yang lebih muda dari suamimu," tuduh Freya sengit dengan tatapan tak percaya.
"Eyyy... mana ada! Enak aja kalau ngomong, dia itu asisten mas Wira." Dara menjitak Freya sambil menggerutu.
"Aduh... sakit tahu! Ibu hamil ini galak bener," protes Freya yang kemudian mengusap-usap kepalanya sendiri.
Freya menatap Fatih keheranan karena berdiri kaku seperti robot. Apalagi cara pemuda ini memperkenalkan diri agak sedikit aneh, lebih mirip seperti orang yang sedang latihan pramuka bukan sapaan perkenalan. Sedangkan Anggi tak begitu memperdulikan, ia hanya mengangguk dan tersenyum kemudian kembali sibuk dengan gawainya.
"Ah, halo juga. Aku Freya." Gadis tomboi itu menerima uluran tangan Fatih.
Ketika kulit mereka bersentuhan, Freya hampir saja terkesiap saat merasakan suhu telapak tangan Fatih yang sedingin es. Efek dari kegugupannya Fatih hampir membeku di tempat saat ini juga.
Dara melirik jam tangannya dan waktu pelaksanaan operasi yang dipimpin Wira akan dimulai setengah jam lagi. Ia menepuk bahu Fatih yang masih menggenggam tangan Freya.
"Kita berangkat sekarang. Aku tak ingin terlambat sampai di rumah sakit." Dara membuyarkan keterpakuan Fatih yang begitu terpukau dengan pesona gadis tomboi pengendara trail itu.
"Eh, i-iya. Sampai jumpa lagi." Fatih begitu kikuk, bahkan niat awalnya yang hendak meminta nomor kontak Freya terlupakan begitu saja.
Dara berpamitan kepada kedua sahabatnya. Melalui kaca spion Fatih mencuri-curi kesempatan melihat Freya yang melambaikan tangannya kepada Dara. Meskipun ia belum sempat berbincang lebih jauh, tetapi pemuda itu begitu senang karena setidaknya sekarang ia mengetahui siapa nama gadis yang telah mencuri hatinya pada pandangan pertama.
Freya, gumamnya dalam hati.