You Are My Sunshine

You Are My Sunshine
Part 132



Dara berlari menuju parkiran dan langsung masuk ke dalam mobil lalu membanting pintu dengan kencang membuat Pak Jono sampai berjengit kaget.


"Cepat jalan Pak. Aku ingin pulang," perintah Dara tegas. Pak Jono mengangguk dan segera mengemudikan mobil itu meninggalkan cafe tersebut.


Entah mendapat keberanian dari mana secara tiba-tiba dirinya melabrak Michelia. Dara yang masih begitu muda dan tak berpengalaman dalam seluk beluk permainan kotor para manusia tak bermoral itu langsung tersulut emosinya saat mendengar percakapan tadi. Seketika pikirannya menggelap dan tanpa pikir panjang lagi ia menyemburkan kalimatnya sambil berteriak kepada Michelia beserta ibunya.


Apakah Dara tidak takut? Tentu saja ia merasa takut, bahkan tubuhnya ikut gemetaran saat ini karena yang ditantangnya tadi adalah dua wanita dewasa.


Ketakutannya semakin memuncak ketika membayangkan dirinya dipisahkan dari dua hal berharga yang paling dicintainya. Rongga dadanya terasa sesak dan tanpa diperintah sebutir bening luruh dari sudut matanya membasahi pipinya.


Dara menghirup udara sebanyak-banyaknya sembari sesekali memukul-mukul dadanya yang semakin terasa sesak. Hatinya menjerit perih dan air matanya semakin deras meluapkan rasa tercekik yang membelenggu dirinya saat ini.


Jujur saja Dara kebingungan dan bimbang, bagaimana caranya menyampaikan hal yang didengarnya hari ini kepada Wira. Ia berniat mengatakan tentang semua kebusukan Michelia dan yakin Wira akan lebih percaya kepadanya.


Namun, apakah suaminya juga akan percaya jika ia membeberkan semua rencana jahat Ratih yang ingin memisahkan mereka? Karena bagaimanapun juga Ratih adalah ibu kandung Wira. Bagaimana jika ia dituduh mengada-ada dan menjelekkan ibu mertuanya di hadapan suaminya karena Dara tak mempunyai bukti konkret yang bisa memperkuat selain pendengarannya sendiri.


*****


Hari beranjak semakin gelap. Langit di malam ini sedang tersenyum bahagia karena bulan dan bintang dapat bersua di hamparan yang sama seirama bermandikan cahayanya. Kerlip genitnya para bintang seolah sengaja menggoda, agar sang rembulan tak enggan berpijar dan menampakkan sinarnya untuk mengusir gulita.


Sejak tiba di rumah, Wira menangkap air muka Dara yang terlihat murung dan banyak melamun tak seperti biasanya. Bahkan sekarang, ditengah-tengah kegiatan Dara menyisir rambutnya di hadapan meja rias, gerakan tangannya terhenti dengan tatapan kosong seakan pikirannya tengah melanglang buana.


"Mas, ih gagetin aja," ucap Dara sambil terkekeh kecil memaksakan senyumnya ditengah kegalauan yang melanda hatinya.


Wira membalikkan posisi duduk Dara sehingga menjadi berhadapan dengannya, ia berjongkok menggunakan satu lutut yang bertumpu di lantai mensejajarkan tubuhnya dengan sang istri sedangkan Dara masih duduk di kursi meja riasnya


"Apakah hari ini kegiatan kampusnya melelahkan? atau tugasnya terlalu banyak? kuperhatikan sejak tadi kamu banyak melamun. Ada apa sayang?" tanya Wira yang kemudian melingkarkan lengannya di pinggang istrinya.


"I-iya, itu... itu karena tiga hari lagi ujian tengah semester akan diadakan." Dara mencari alasan. Padahal ia tengah bimbang bagaimana cara menceritakan tentang temuannya tadi sore yang terus menganggu pikirannya.


"Jangan terlalu stress, tak baik untuk kesehatanmu dan juga bayi kita. Aku yakin kamu pasti bisa saat ujian nanti. Kalau dirasa terlalu berat, bagaimana jika mengajukan cuti kuliah selama kehamilanmu ini?" Wira menyarankan begitu karena khawatir Dara terlalu lelah.


"Ah, nggak usah Mas. Kehamilanku sama sekali tak menjadi penghalang aktivitas sehari-hariku. Aku hanya sedikit kepikiran saja tentang ujian nanti. Jadi jangan khawatir," sahut Dara sambil menangkup kedua sisi wajah tampan suaminya.


"Hmm... ayo kita beristirahat. Ini sudah jam sepuluh, tak baik ibu hamil tidur terlalu larut." Wira menghela Dara ke dalam rangkulannya dan mengajaknya ke tempat tidur.


Mereka berbaring. Dara memeluk suaminya dengan erat seperti takut kehilangan. Wira merasa agak aneh dan menangkap nada tak biasa dari ucapan Dara tadi. Ia mengangkat dagu wanitanya hingga mata mereka bersirobok dan menyelami iris mata cantik di hadapannya itu.


Wira mencari-cari di dalam sana dan menemukan bahwa Dara sedang menyembunyikan sesuatu darinya. Inginnya bertanya lebih lanjut, tetapi kemudian mengurungkannya. Ia akan menunggu hingga istrinya itu mengatakan yang sejujurnya kepadanya.


"Tidurlah sayang." Wira mengecup mesra kening Dara kemudian menenggelamkannya ke dalam dekapan hangatnya yang menentramkan.