You Are My Sunshine

You Are My Sunshine
Part 105



"Hentikan Bu! Dara adalah istriku."


Suaranya menggema dengan lantang di ruangan besar itu. Keheningan membentang, semuanya seolah membeku. Senyap, tak ada satupun yang berucap, hanya terdengar sisa-sisa isak tangis Dara yang masih membenamkan wajahnya di dada bidang Wira.


Wajah Ratih pucat pasi, berharap yang didengarnya hanyalah imajinasi, tetapi yang tersaji dihadapannya bukanlah ilusi, sebuah kenyataan ini serupa ironi.


Sementara Michelia yang berdiri di belakang Ratih mengepalkan tangannya penuh amarah, masih tidak percaya saat Wira mengucapkan kalimatnya tadi. Ia kalah telak oleh pesona gadis ingusan, membuat harga dirinya seperti dijatuhkan dengan paksa. Kini, tambang emas yang sangat diidamkannya ternyata telah menjadi aset wanita lain.


"Apa... maksud perkataanmu?" Ratih bertanya dan menatap lurus putranya dengan sorot mata seolah tak percaya.


"Aku sudah menikahinya Bu. Dara adalah istriku sekarang," ucap Wira tanpa ada keraguan sedikitpun di dalamnya.


"K-kamu... kamu tidak serius kan? Jika hanya ingin membelanya kamu tidak usah repot-repot sampai harus membuat drama semacam ini." Ratih berusaha menyangkal tentang kalimat Wira tadi.


"Aku sangat serius Bu, semua ini adalah kenyataannya dan aku mencintainya." Wira mengeratkan rangkulannya kepada Dara, menyalurkan semua rasa sayangnya agar Dara tahu bahwa sebagai suami ia mampu melindunginya serta menjadi tempatnya bersandar.


"Ibu tidak percaya! Mana buktinya?" bentak Ratih kepada putranya.


"Bacalah tulisan di dalam cincin itu Bu, aku juga memakai cincin pasangannya, ini adalah cincin pernikahan kami." Wira membuka cincin yang dipakainya lalu menyodorkannya kepada Ratih.


Ragu-ragu Ratih mengambil cincin dari tangan Wira dan membandingkannya dengan cincin Dara yang dirampasnya tadi, ternyata memang benar itu adalah sepasang cincin pernikahan karena desainnya dibuat serupa. Ia juga membaca rangkaian hurup yang terukir di dalamnya, dilihatnya dengan teliti dan setelah selesai membaca matanya membeliak murka kepada putranya.


"Wira Aryasatya! Bagaimana semua ini bisa terjadi hah? apa yang sudah kamu perbuat terhadap reputasi keluarga kita. Sadarkah bahwa dia itu hanya anak pungut? berani-beraninya kamu membuat gadis yang tidak jelas asal usulnya ini menjadi bagian keluarga Aryasatya yang terhormat!" teriaknya dengan deru napas diliputi emosi. Tergambar jelas dari raut wajah dan juga sorot matanya.


"Aku sama sekali tidak pernah keberatan tentang silsilah yang selalu ibu ributkan itu. Tentang asal usulnya apakah itu salah Dara? apakah dia menginginkan masa lalu yang seperti itu, tidak bukan?" dan juga apakah tadi ibu tidak mendengar? Dara sedang hamil sekarang, dia mengandung darah dagingku, cucu ibu," ucap Wira penuh penekanan dalam setiap kata-katanya.


"Ti-tidak Tante, kami... kami saling mencintai." Dara akhirnya kembali bersuara meskipun terbata karena tak tahan dengan cercaan Ratih yang terus-menerus dihunuskan kepadanya.


"Wira, kamu yakin anak yang ada di rahimnya berasal dari benihmu? apakah kamu tahu kelakuannya di luar sana? ini menarik, karena baru-baru ini Ibu mendapatinya sedang berkencan dengan pria lain di sebuah pusat perbelanjaan," ujarnya dengan percaya diri.


"Cukup Bu, Dara bukanlah gadis yang semacam itu." Wira mengetatkan rahangnya menahan emosi, jika saja yang dihadapannya ini bukan wanita yang melahirkannya mungkin benteng pertahanannya sudah runtuh sejak tadi.


"Terserah kamu mau percaya atau tidak, tetapi Ibu punya buktinya di sini."


Ratih mengeluarkan ponselnya, mencari foto yang dipotretnya sewaktu di mall kala itu dan diperlihatkannya foto tersebut kepada Wira.


"Lihatlah putraku, bukankah ini adalah gadis yang telah kau nikahi?" ucap Ratih sambil menipiskan bibirnya tersenyum puas.


*****



Follow juga akun Instagramku @Senjahari2412 untuk mendapatkan kabar seputar novel yang kutulis.


With Love,


Senjahari_ID24