You Are My Sunshine

You Are My Sunshine
Part 58



"Ke-kenapa, kita harus membiasakan diri? bu-bukankah pernikahan ini hanyalah... hanyalah," ucapan Dara tertahan.


"Aku tahu, tapi sepertinya aku ingin meralat semua ucapanku sebelumnya, kurasa sekarang aku... aku menganggapmu sebagai seorang wanita, bukan adikku lagi."


Dara membulatkan matanya mendengar pernyataan Wira, dia termenung berusaha mencerna apa yang baru saja didengarnya.


"A-aku, tak mengerti, apakah... apakah sebelumnya aku ini bu-bukan wanita? t-tapi ke-kenapa?" tanya gadis itu tergagap dengan polosnya, dirinya masih kebingungan akan ucapan Wira.


Wira tersenyum menipiskan bibirnya kemudian mendudukkan dirinya dan bersila di atas tempat tidur, disusul oleh Dara yang juga melakukan hal serupa.


"Jangan terlalu dipikirkan, biarkanlah seperti air mengalir, tapi satu hal yang harus selalu diingat ialah, bahwa kamu sekarang sudah menikah. Aku yakin kamu juga tahu, bahwa wanita yang sudah menikah tidak sepantasnya terlalu akrab dengan pria manapun di luaran sana. Sekarang mandilah, bersihkan dirimu, sebentar lagi waktunya makan malam. Atau, bagaimana jika kita makan malam di luar?" usulnya.


"Untuk apa? kenapa tiba-tiba ingin makan di luar?" Dara mengerutkan keningnya.


"Sebagai permintaan maafku, atas apa yang terjadi barusan. pilihlah restoran yang kamu suka."


Wira turun dari ranjang setelah mengucapkan kalimatnya, sementara Dara masih terduduk di sana sambil menyilangkan kedua tangannya di dada karena bajunya koyak akibat perbuatan tangan Wira.


"Beneran, aku boleh pilih tempat makannya sesuka hati?" tanya Dara antusias.


Wira menganggukan kepalanya sambil mengulas senyuman di wajah tampannya.


"Baik, aku yang pilih tempat makannya, tapi janji gak boleh protes! Suka atau tidak, Kakak harus makan di tempat yang aku pilih, baru akan kumaafkan," serunya penuh semangat.


Wira terkekeh kemudian mengulum senyumnya. "Satu jam lagi kita berangkat, kutunggu di ruangan tengah."


*****


Sejak selesai mandi, Dara terus menerus menggerutu di depan cermin besar yang ada di ruang ganti, di bahkan mengacak-acak isi lemari besar itu untuk menemukan baju yang sesuai.


Ia kebingungan memilih pakaian, karena bekas jejak bibir Wira bertebaran dari dagu hingga bahunya. Baju atasan bermodel turtleneck pun tak banyak menolongnya untuk menyembunyikan kiss mark yang begitu kentara di kulit pucatnya. Bagian leher dan bahunya memang bisa aman tersembunyi, tetapi satu tanda merah di bawah dagunya benar-benar sulit untuk ditutupi.


"Dasar bibir jahanam!" umpatnya.


Dara menghentak-hentakkan kakinya kesal, karena perbuatan Wira kulitnya jadi belang seperti macan tutul. Akhirnya, gadis cantik itu memilih memakai kaos turtleneck berlengan panjang berwarna putih yang dipadukan dengan rok jeans dibawah lutut berwarna peach.


Jejak merah di bawah dagunya disamarkan menggunakan foundation, berharap warnanya agak pudar dan tidak terlalu kentara. Rambut panjangnya yang sedikit bergelombang dibiarkan tergerai bebas, membuat surai coklatnya itu melambai-lambai saat ia berjalan melangkahkan kakinya.


*****


Wira sudah menunggu di ruang tengah sambil memeriksa beberapa pesan yang masuk di ponselnya. Tetapi sejak tadi degupan jantungnya tak bisa diajak kompromi seolah mengejeknya, bertalu-talu tak teratur walaupun dia sudah berusaha menenangkannya, seperti seorang laki-laki muda yang tengah menunggu gadisnya hendak berkencan untuk yang pertama kalinya.


Terdengar derap langkah yang mendekat ke arahnya, Wira menoleh dan terlihat Dara yang menghampirinya. Gadis itu tampak begitu cantik dan segar, seperti buah yang belum matang sempurna namun menggoda.


"Ayok Kak, aku sudah siap." Dara berdiri tepat di hadapan Wira. Gadis itu memperhatikan wajah pria dihadapannya yang terdiam tak menyahut, Wira seperti tengah tenggelam dalam pikirannya sendiri.


"Kakak ayo," ajaknya setengah merengek. Wira kembali tersadar, sebenarnya tadi ia terpaku menatap Dara. Sungguh tak dapat dipercaya, si gadis muda itu kini telah mampu membuatnya terpesona.


"Ayo berangkat," sahut Wira. Ia bangkit dari duduknya, mengambil kunci mobil yang tergeletak di meja kemudian segera menuju garasi dengan Dara yang mengekor dibelakangnya.