
Dara menggandeng suaminya menuju garasi. Ia juga membawakan jas putih Wira yang tersampir di lengannya.
"Selamat bekerja Pak Dokter," ucapnya sembari tersenyum manis.
"Thank you honey. Nanti siang kujemput untuk periksa kandungan." Wira membelai puncak kepala Dara tak lupa juga sedikit membungkuk menyapa si benih yang telah ia tanam dengan penuh gelora cinta itu.
"Papa berangkat bekerja dulu. Baik-baik di dalam sana ya anak Papa." Wira mengecup sekilas perut Dara setelah mengusapnya lembut.
"Kalau tak sempat menjemput kabari aku. Biar nanti aku berangkat sama Pak Jono ke rumah sakit." Dara berucap sambil merapikan kembali kemeja dan dasi Wira.
Wira mengangguk kemudian mengecup kening dan kedua pipi istrinya dan terakhir di bibir ranumnya sebelum ia masuk ke dalam mobil. "Sayang, aku berangkat ya."
"Hati-hati Mas."
Dara mengantar keberangkatan suaminya dengan senyuman cantiknya dan juga lambaian tangan. Ia tidak ke kampus karena hari ini dan dua hari kedepan adalah hari tenang selepas ujian.
Dara berencana memanfaatkan waktu luangnya untuk banyak bertanya kepada Bu Rina tentang segala sesuatu menyangkut keluarga Aryasatya. Ia sudah memutuskan untuk tetap berada di sisi Wira apapun yang terjadi. Untuk itu Dara ingin memahami seperti apa medan perang yang akan ia hadapi demi tetap bersama dan bersatu dengan orang-orang yang dicintainya.
*****
Dara sudah berbaring di atas ranjang periksa. Kemudian Dokter Raisa mengoleskan gel dingin di permukaan kulit perutnya dan setelahnya sang dokter mulai menggunakan alat USG untuk pemeriksaan lanjutan.
"Nah, itu bayi kalian." Raisa mengarahkan telunjuknya ke layar monitor ultrasonografi sementara tangan yang satunya menggulirkan alat di permukaan perut Dara ke kanan dan ke kiri atau terkadang memutar.
Kini layar itu tengah menayangkan situasi di dalam Rahim Dara. Wira benar-benar terpesona, ia tak bisa mengalihkan pandangannya dari sana karena masih merasa takjub bahwa makhluk kecil yang tampak di layar itu adalah bagian dari dirinya, anaknya.
"Itu anak kita sayang," bisiknya mesra. Wira mengecup kening Dara penuh rasa syukur kemudian kembali menatap layar monitor.
Dara juga terpaku, ia hampir berkaca-kaca tetapi berusaha menahannya karena ini adalah tempat umum. Dirinya yang sebatang kara ini sebentar lagi akan mempunyai anak. Seorang anak yang mewarisi sebagian dirinya, membuat si cantik berkulit pucat itu merasa penuh haru karena akan mempunyai jejak keturunan dirinya di dunia fana ini.
Selesai dengan prosedur tersebut Raisa mencetak dan memberikan foto hitam putih hasil USG kepada Wira.
"Ibu dan bayinya dalam kondisi baik dan sehat, hanya saja berat badan istrimu banyak menurun dari terakhir kali diperiksa.
"Beberapa waktu kebelakang Dara sempat sering muntah-muntah hebat, mungkin itu salah satu penyebab berat badannya menurun. Apakah itu berbahaya?" tanya Wira sembari membantu Dara turun dari tempat tidur pasien.
"Sangat mungkin itu adalah salah satu penyebabnya. Mual dan muntahnya semakin intens biasanya dari efek hormon HCG nya yang naik dengan drastis atau juga suasana hati yang buruk. Tapi tenang saja. kondisi semacam ini tak berbahaya dan berat badannya masih dalam batas normal, hanya saja sebisa mungkin dijaga jangan sampai turun lagi dan usahakan makan teratur sedikit tapi sering untuk mencukupi kebutuhan nutrisi ibu dan bayinya."
Raisa kemudian menyerahkan kertas resep kepada Wira dan Dara berpamitan sebelum keluar ruangan.
"Terima kasih Dokter Raisa, ucap Dara."
"Sama-sama. Semoga sehat selalu. Jika suamimu nakal padamu gigit saja dia," ujar Raisa di susul kekehan pelan dan ditanggapi Dara dengan tawa kecil.