
Sore harinya Fatih dan bu Rina langsung kembali pulang diantar oleh pak Jono. Para kerabat pengurus Villa juga sudah mulai bubar satu persatu, tinggal sepasang suami istri paruh baya yang dipercaya untuk mengurus bangunan itu yang masih tampak ada di sana.
Mereka berdua adalah pengurus villa yang baru, karena orang yang sebelumnya telah meninggal dunia, mereka juga mengetahui tentang kabar meninggalnya istri majikannya itu walaupun blm pernah bertemu muka, tetapi, mereka tidak mengetahui mengenai fakta bahwa Dara adalah adik angkat Almira.
Sejujurnya mereka terkejut saat Wira tiba-tiba menghubungi dan meminta dengan cepat untuk mempersiapkan pernikahan secara sederhana serta tertutup, mengingat baru beberapa hari yang lalu mendiang istrinya meninggal dunia, dan lumrahnya keluarga masih dalam suasana berkabung. Namun, mereka berpikir mungkin karena tuannya itu masih muda dan bergairah, makanya tak tahan jika harus berlama-lama sendiri tanpa kehangatan seorang wanita.
*****
Waktu sudah menunjukkan pukul delapan malam, mereka mencari Wira untuk berpamitan pulang, dan mengatakan esok pagi keduanya akan datang kembali sebelum fajar tiba. Biasanya mereka tidur di salah satu kamar yang terletak di bagian paling belakang bangunan, tetapi, mengingat ini adalah malam pengantin tuannya mereka memutuskan untuk pulang karena takut mengganggu kebersamaan pasangan baru itu.
"Tuan, kami pulang dulu, semua keperluan sudah disiapkan, pintu dan jendela juga sudah terkunci, tinggal pintu depan dan juga pagar gerbang yang nanti harus di kunci sendiri," ucap keduanya sambil menyerahkan kunci villa tersebut.
"Terima kasih." Wira menerima kuncinya dan kedua orang itu langsung undur diri dari sana.
*****
Dara sedang berada di dalam kamar terbesar yang terdapat di villa itu, kamar dan ranjangnya telah di hias sedemikian rupa karena memang diperuntukkan bagi pengantin baru pada umumnya, mawar merah dan putih serta bunga melati menghiasi seluruh penjuru ruangan, menebarkan aroma semerbak mewangi memanjakan indera penciuman.
Dara menghela napas dan mengembuskannya kasar, ditatapnya pantulan dirinya di cermin, kini statusnya dan Wira sudah menikah dan berubah menjadi suami istri, tetapi bagi mereka itu hanyalah sebuah status tanpa makna, hanya sebagai penebus janji pada orang terkasih yang telah lebih dulu meninggalkan mereka.
Pintu kamarnya terbuka, menampakkan sosok Wira yang melangkah masuk ke dalam. Dara menoleh karena mendengar bunyi deritan pintu, tetapi saat matanya menangkap sosok Wira seketika kecanggungan membanjiri dirinya, Dara merasa aneh dengan status mereka sekarang, membuatnya kebingungan harus bersikap bagaimana.
Wira mendudukan dirinya di sofa seberang tempat tidur, "kemarilah dan duduklah," pintanya tegas kepada Dara.
Dara melangkah ragu, kemudian duduk di ujung sofa berjauhan dari posisi Wira saat ini. Ia menjalinkan jari jemarinya pertanda kegugupan melanda dirinya.
"Mengenai status kita, aku harap kamu tidak salah paham, ini bukanlah pernikahan yang terjadi pada umumnya, kamu pasti tahu alasan dari semua ini," ucap Wira.
"Aku paham, dan juga aku mempunyai permintaan." Dara berdehem sebelum melanjutkan kalimatnya lagi.
"Ehm... ehm, begini, mengenai pernikahan ini, aku tidak ingin teman-temanku mengetahuinya, semua hal mendadak ini membuatku tak nyaman, aku ingin suasana belajarku tetap sama seperti biasanya," sambungnya.
"Oke," sahut Wira singkat sambil melipat kedua tangannya di dada.
"Dan juga... keluarga besar Aryasatya, sebaiknya mereka tidak mengetahui tentang hal ini, aku belum siap, benar-benar tidak siap," ucap Dara sambil menundukan wajahnya dan menggigit bibirnya, ia sebenarnya takut dengan reaksi Wira saat mengutarakan apa yang ada di benaknya.
Wira tidak merespons, ia menatap Dara masih dengan wajah dingin dan datar, semenjak duka menyelimuti dirinya senyuman tak pernah lagi tersungging di bibirnya.
Wira bangkit dari duduknya, dan berdiri sambil menyelipkan kedua tangan di saku celananya.
"Baik, lakukan seperti yang kamu inginkan, aku tidak perduli. Tapi ingatlah, bahwa kamu tidak dalam posisi bisa meminta banyak hal dariku."
Wira melangkah hendak keluar dari sana, dan sebelum membuka pintu dia berhenti lalu membalikan badannya.
"Kamu camkan ini baik-baik!" Wira menatap tajam.
"Kita menikah karena permintaan Almira, jadi jangan pernah berharap lebih! Kamu pasti sudah tahu pernikahan macam apa yang terjadi di antara kita," seru Wira. Pria itu beranjak pergi lalu membanting pintu dengan kencang meninggalkan Dara di kamar pengantinnya.