You Are My Sunshine

You Are My Sunshine
Part 150



Author note.


Hai my beloved readers, terima kasih banyak atas apresiasi dan dukungan kalian untuk ceritaku ini. Jangan lupa tinggalkan jejak kalian setelah membaca ya. Kutunggu like, komentar, serta vote seikhlasnya. Dukungan kalian selama ini melalui like, vote, dan komentar positif membuatku semakin semangat menulis 💕


Follow juga akun Instagramku @Senjahari2412 untuk mendapatkan kabar seputar novel yang kutulis.


Terima kasih, selamat membaca 😊


With Love,


Senjahari_ID24


**********


"Ta-tapi...."


"Nggak ada tapi-tapian! Cepetan singkapin bajumu. Kalau udah selesai aku bisa segera pulang dengan tenang. Kalau aku pulang kemalaman ntar diomeli bapakku," jelas Freya tegas dengan sorot mata tajam.


"B- baiklah," imbuhnya.


Fatih menyingkapkan sedikit bajunya dengan malu-malu dan Freya menghela napasnya kesal karena gerakan pemuda itu yang terlalu lamban.


"Cepetan buka dong. Aku kan bukan mau ngapa-ngapain kamu," lontar Freya yang seharusnya kalimat itu keluar dari mulut laki-laki kepada seorang gadis tetapi di sini justru sebaliknya.


Fatih akhirnya menyibakkan bajunya hingga sebatas dada dan si tomboi itu mulai mengoleskan kayu putih. Freya mengoleskannya dengan serius hingga merata di perut dan punggung, sementara Fatih malah merem melek merasakan telapak tangan Freya yang menyentuh permukaan kulitnya.


Seandainya Freya tahu bahwa Fatih malah berpikiran mesum di tengah-tengah rasa sakitnya, sudah pasti bogem mentah akan melayang entah di wajah ataupun tubuhnya.


Kemudian terdengar suara ketukan di pintu, Freya menyudahi kegiatannya dan merapikan pakaian Fatih kemudian bergegas membuka pintu, tampaklah temannya dua orang laki-laki yang juga memakai motor trail.


"Makasih bro, udah mau dateng. Tolong ambilkan mobil dia ya di cafe dekat kampusku. Sebentar aku minta kuncinya."


Freya bertanya pada Fatih dan meminta kunci cadangan mobil pemuda itu. Fatih mengarahkan telunjuknya ke meja nakas dekat lampu tidur dan gadis itu langsung mengerti bahwa kuncinya ada di sana.


"Nih kuncinya. Kalau bisa cepetan ya." Freya menyerahkan kunci tersebut kepada temannya.


"Siapa dia? jangan-jangan pacarmu ya?" tanya temannya penuh selidik sambil menaik turunkan alisnya.


"Eh ngaco aja! Bukanlah. Dia itu apa ya? duh aku bingung ngejelasinnya. Dia itu asistennya suaminya sahabatku. Haish belibet dah. Yang pasti aku cuma nolongin, lihat sendiri kan kalau dia tepar," jelasnya sambil melirik ke arah Fatih kemudian menggaruk-garuk tengkuknya tak gatal.


"Yakin bukan?" goda temannya kembali.


"Dih cepet pergi sana. Malah pada ngawur," usir Freya sambil mengibaskan kedua tangannya yang ditanggapi gelak tawa oleh kedua temannya.


"Aku balik ya. Mobilmu lagi diambil sama temenku. Tenang aja dijamin aman dan terpercaya."


"Makasih ya Frey." Fatih mendudukkan dirinya. "Apakah aku juga boleh berteman denganmu?"


"Mmm... tentu saja. Kalau kamu mau aku bersedia jadi temanmu," jawab Freya ringan tanpa beban yang disambut senyuman merekah oleh Fatih.


"Sepertinya aku sudah lebih baik, biar kuantar pulang. Bahaya anak gadis pulang malam-malam sendirian." Fatih berusaha turun dari tempat tidur.


"Hei... ini memang sudah hampir jam sepuluh malam. Tapi kamu tenang saja, takkan ada yang menyangka bahwa aku seorang gadis dengan dandananku yang seperti ini, ditambah lagi dengan helm ninja ini wajahku aman tersembunyi," jawab Freya enteng.


Saat ini Freya memakai celana jeans robek-robek, dilengkapi jaket bermotif pembalap.


"Gak boleh! Pokoknya aku antar kamu pulang," seru Fatih bersikeras yang segera turun dari tempat tidurnya dan mengambil jaketnya.


"Terus nanti kamu pulangnya gimana?"


"Aku bisa naik ojol!" sahut Fatih keras kepala.


"Haduhh ya ampun. Kamu kan tadi abis muntah-muntah. Masa mau nekat berkendara lagi. Yakin kalau kubonceng gak bakalan tepar lagi?" ledek Freya dengan sengaja.


"Aku yang bawa motornya. Mana kuncinya," pinta Fatih tak mau dibantah.


"Emang kamu bisa bawa si trail kesayanganku?" goda Freya sembari menyerahkan kuncinya.


"Kalau cuma bawa motor aku juga bisa lah, tapi nggak ngebut kayak di arena balap. Ayok, kuantar."


Akhirnya kali ini keadaan terbalik. Freya yang duduk dibonceng si calon dokter. Si tomboi itu malah sengaja melingkarkan kedua tangannya memeluk pinggang Fatih dengan santainya membuat si pemuda yang membawa motor berdesir tak karuan karena tubuh mereka menempel satu sama lain.


Sepanjang perjalanan Freya hanya terkikik geli karena terkadang Fatih membawa motornya sedikit oleng. Meskipun tidak mudah, semua itu tak menyurutkan niat Fatih untuk mengantar si pujaan hati hingga ke rumahnya dengan aman dan selamat.


*****


Sambil menunggu update, baca juga novelku yang lainnya.




Selamat membaca 💜.