You Are My Sunshine

You Are My Sunshine
Part 284



Setelah mendengar penuturan dari suaminya, sepanjang perjalanan pulang Dara hanya terdiam. Tatapannya kosong, pikirannya terbang entah ke mana. Saat Selena merengek pun Dara bahkan tak menyadarinya, raga dan jiwanya seolah tengah berjauhan.


Wira meremas lengan Dara lembut, membuat wanita cantik berambut coklat itu menarik kembali jiwanya yang tengah melanglang buana agar kembali pulang. “Sayang, Selena sepertinya haus dan mengantuk,” ucap Wira.


Dara kembali fokus pada anaknya yang ternyata tengah merengek di pangkuan suaminya. Ia meraup putri kecilnya ke dalam dekapannya dan segera menyusuinya. “Oh, sayang. Maafkan Mama.”


Dara mengecup dan mengusap-usap lembut pelipis Selena hingga kemudian bayinya terlelap. Dipandanginya Selena lekat-lekat dan rasa menyesakkan dada itu semakin menyeruak. Sebutir bening luruh dari sudut matanya.


Apakah dulu ibunya sama sekali tak merasa kasihan kepadanya ketika dirinya masih bayi, memilih pergi demi mengejar cinta barunya dari pada dirinya? Sedangkan Dara bahkan merasa tak sanggup berjauhan sebentar saja dengan Selena, tidakkah ibunya dulu merasakan hal yang sama?


“Kenapa dia… membuangku… kenapa?” ucapnya melirih perih. Dara semakin erat mendekap Selena, terdengar isakan kecil yang keluar dari mulutnya. Wira menarik istrinya untuk bersandar padanya dan membelai kepalanya penuh sayang.


“Aku sangat paham, hatimu pasti masih terluka. Tapi sebagai suami aku juga harus mengingatkanmu agar jangan sampai timbul penyesalan di kemudian hari. Kamu tetaplah anaknya dan dia pun tetaplah ibumu, tak ada yang bisa mengubahnya. Manusia tak bisa memilih dari siapa mereka terlahir. Kusarankan untuk menemui ibumu meski hanya sebentar saja sebelum terlambat, walaupaun itu sulit bagimu. Tidakkah kamu ingin bertemu dengan sosok ibu yang sejak dulu selalu dicari keberadaanya? saat ada kesempatan di depan mata apakah kamu akan melewatkannya begitu saja? terlebih lagi sekarang kondisinya tengah berjuang antara hidup dan mati."


Air matanya makin deras menganak sungai. Dara semakin menenggelamkan diri di dada Wira. Sejujurnya secercah rindu ingin bersua bertemu muka dengan ibu kandungnya tentulah selalu ada, apalagi setelah mendengar bahwa kemungkinan waktu ibunya tak lama lagi. Dia sebenarnya sangat ingin tahu seperti apa sosok wanita yang telah melahirkannya ke dunia, hanya saja semua itu tertimbun oleh goresan luka di kalbunya yang terlampau menusuk dalam hingga ke dasar.


“Aku harus gimana, Mas… aku harus gimana, hiks hiks. Di sini… di sini, masih terasa amat sakit.” Dara mengepalkan tangannya dan memukul-mukul dadanya sendiri.


Wira mengeratkan pelukannya. “Menangislah, dan berdamailah, sayang. Berdamailah dengan masa lalumu, dengan lukamu, dengan ibumu. Percayalah, dengan memaafkan, hatimu akan terbebas dari belenggu yang merantai dan menyiksa,” jawab Wira yang kemudian mengecup lama puncak kepala Dara.


“Memaafkannya memang tak semudah membalikkan telapak tangan. Tapi jika mau berusaha, aku percaya kamu pasti bisa, karena kamu adalah istriku yang hebat, yang mempunyai hati lapang dan maaf seluas samudera. Anandara.”


Malam harinya setelah Selena tertidur, Dara tampak termenung menghadap kaca besar tembus pandang di kamarnya, ia sengaja menyingkap gorden tipisnya, agar pandangannya ke arah taman samping rumah bebas dari penghalang. Di sana tampak hamparan bunga-bungaan indah berwarna warni bermandikan cahaya rembulan, juga kolam air mancur dengan lampu-lampu taman berbetuk bulat di sekelilingnya, airnya beriak seirama menenangkan jiwanya yang tengah bergolak.


Wira keluar dari ruang kerjanya dan menghampiri. Tangannya terulur memeluk dari belakang, mengecup lembut penuh sayang lalu menaruh dagunya bertumpu di pundak Dara.


“Ini sudah larut, kenapa belum tidur, hmm?” tanya Wira.


“Mas.”


“Ya,” sahutnya.


Hening, Dara seperti tengah menimbang apa yang hendak dikatakannya. Menarik napas lalu kembali bersuara. “Maukah Mas menemaniku menemui ibuku?”


Wira menegakkan badannya dan memutar pelan tubuh sang istri agar berhadapan dengannya. Meletakkan kedua tangannya di bahu Dara dan menatap lekat ke dalam bola mata cantik berkilauan di hadapannya.


“Kamu, sudah memutuskan?” Wira bertanya untuk meyakinkan pendengarannya.


Dara mengangguk. “Hemm, aku... ingin menemuinya,” jawab dara sembari mengulas senyum tipis.


“Keputusan yang tepat. Akan selalu kutemani kemanapun kamu ingin pergi, istriku.”