You Are My Sunshine

You Are My Sunshine
Part 171



Jarum jam di dinding bergerak melaju, redupnya lampu tidur membaur merayu, membuai dua insan yang dimabuk asmara untuk terlelap dalam mimpi nan syahdu.


Tanpa keduanya ketahui, sejak tadi Ratih belumlah tertidur. Dia hanya berpura-pura memejamkan mata karena jujur saja ia merasa canggung berinteraksi dengan putra dan menantunya setelah kejadian buruk yang menimpanya.


Fakta tentang Michelia yang ternyata tidak sesuai ekspektasinya seakan menampar keras dirinya dan memukul egonya hingga ke dasar. Selama ini Ratih merasa prinsipnya tentang menilai standar baik dan buruknya serta pantas dan tidaknya seseorang bersanding dengan putranya sudahlah yang paling benar.


Namun kini, untuk pertama kalinya setelah sekian lama berkubang dalam egonya, netra dan mata hatinya terbuka lebar dengan benar. Seseorang yang terlihat berkilau di luarnya ternyata busuk di dalam, berbanding terbalik dengan Dara yang dianggapnya terbalut dalam kelas rendah ternyata mempunyai hati seindah permata.


Ratih bahkan tak pernah menyangka, gadis muda itu bersikap dan berbicara dengan nada lembut dan sopan kepadanya tadi. Padahal selama ini ia lebih sering menghardik Dara dengan kata-kata kasar dan kejam.


Apalagi setelah mendengar senda gurau Wira dengan Dara beberapa saat yang lalu, ia baru menyadari bahwa putranya begitu bahagia bersama si gadis muda itu walaupun percakapan mereka tak terdengar jelas di telinganya. Hanya saja nada bicara Wira begitu penuh cinta sama seperti Dara yang berkata dengan suara penuh kasih sayang kepada putranya itu.


Ratih bangun mendudukkan dirinya, menyandarkan punggungnya di tempat tidur dan pandangannya tertuju ke tempat di mana anak dan menantunya tertidur pulas sambil berpelukan satu sama lain.


Tubuh mungil Dara melingkupi raga kokoh Wira yang terlelap di dekapannya. Wanita paruh baya itu tertegun melihat pemandangan syahdu yang menyejukkan mata dan hati, dilihat sekilas pun keduanya seolah diciptakan untuk saling melengkapi.


Bukankah yang diinginkan para ibu di dunia ini adalah melihat anak mereka selalu bahagia? Lantas selama ini yang dilakukannya untuk Wira adalah memaksakan kehendaknya dengan alasan demi kebahagiaan putranya, bahkan dengan tega mempunyai rencana kejam untuk memporak porandakan biduk rumah tangga Wira yang baru saja bertunas.


Selama ini ia gelap mata dengan pamor dan pujian orang-orang, sehingga sang anak yang harusnya berada di urutan atas dalam kehidupannya malah tergeser posisinya oleh orang-orang luar yang bertitel teman-teman sosialitanya.


"Kenapa Ibu belum tidur?" Haris mendudukkan dirinya di tepian tempat tidur.


"Ibu terlalu banyak tidur tadi, jadi sekarang belum mengantuk. Ayah dari mana saja?"


"Ayah baru selesai bertemu polisi untuk menyerahkan bukti tambahan. Semoga Michelia secepatnya tertangkap supaya bisa segera diadili," sahutnya.


Ratih mengangguk tipis kemudian matanya kembali tertuju ke arah sofa. Haris mengikuti arah pandang istrinya dan saat melihat Wira dan Dara yang terlelap sambil berpelukan, ia mengulas senyum penuh pemakluman.


"Wira pasti kelelahan. Tapi, Coba perhatikan, bahkan saat tidur pun mereka tersenyum bahagia. Apakah Ibu tega memisahkan dua orang yang begitu saling mencinta?" tanya Haris.


Ratih masih tertegun tak bersuara, hanya terdengar embusan napasnya dan juga detak jarum jam di dinding.


"Setelah kepergian Almira Ayah sempat khawatir jika Wira akan berlarut tenggelam dalam kesedihan serta tak mau mencintai lagi mengingat bagaimana dia begitu tergila-gila pada Almira dulu." Haris mendesahkan napasnya perlahan kemudian menatap ke arah Ratih dan meremas bahunya lembut.


"Bukankah harusnya kita bersyukur? dengan hadirnya Dara adalah pelipur lara bagi Wira, ditambah lagi sekarang Dara tengah mengandung cucu kita, hal yang selalu kita nanti-nantikan. Jodoh adalah suratan yang sudah di gariskan, kita tak bisa mendorongnya untuk menjauh ataupun menariknya untuk mendekat. Sang Pencipta pasti memberi yang dibutuhkan hambanya tetapi bukan yang kita inginkan, selalu mengatur yang terbaik bagi umatnya dan semua itu terjadi untuk sebuah alasan. Ayah harap ibu membuka mata dan hati serta berilah restu untuk mereka."