
Mereka berdua duduk berhadapan terhalang meja yang sudah ditata dengan apik. Para pelayan segera menyajikan hidangan lengkap yang sudah dipesan Wira sebelumnya dan semuanya sudah disesuaikan dengan selera Dara, keseluruhannya bernutrisi seimbang dengan takaran gula dan garam lebih sedikit seperti permintaan Wira kepada chef restoran.
Berbagai hidangan menggugah selera disajikan di meja. Semua menu yang tersaji dibuat menggunakan bahan-bahan pilihan terbaik rendah kalori. Mulai dari menu pembuka berupa sup krim jagung hangat beraroma menggoda dengan isian wotel dan aneka jamur yang lezat, lalu main course salmon panggang dengan saus butter bertabur parsley dilengkapi asparagus dan mash potato, tak lupa juga jus jeruk segar tanpa gula favorit Dara.
Senyuman tak henti-hentinya terukir di wajah cantiknya. Rasa bahagia melingkupinya, tak menyangka suaminya benar-benar sangat memahaminya, bahkan semua menu yang disajikan malam ini hampir semuanya adalah makanan kesukaannya.
Dokter tampan itu tersenyum simpul menikmati raut wajah penuh sukacita wanita di hadapannya, dia berupaya semaksimal mungkin menyiapkan makan malam ini dengan mencurahkan segala perhatiannya, berharap suasana hati Dara yang gembira lebih siap menerima saat nanti ia menyampaikan kebenaran perihal orang tua kandungnya.
“Mas, menyiapkan semua ini… untukku?” tanyanya dengan mata berbinar bahagia.
Wira mengangguk. “ini adalah kencan pertama kita secara resmi sebagai pasangan yang saling mendamba dan mencinta, aku ingin mempersembahkan kencan spesial untukmu. Menu yang disajikan sudah disesuikan dengan kondisi tubuhmu, jadi kamu tak perlu khawatir menyantapnya. Makanan penutup akan disajikan beberapa saat lagi, aku memesankan salad buah dengan dressing yoghurt plain dan juga cheesecake stroberi rendah kalori untuk pencuci mulut. Bagaimana, apakah kamu menyukai menu yang kupilihkan?”
“Ini semua menu favoritku, aku sangat menyukainya. Makasih suamiku sayang,” ungkapnya penuh rasa syukur.
“Tapi sebelum makan aku ingin memberikan sesuatu. Hadiah kecil untuk seseorang yang telah rela menjadi ibu dari anakku.” Wira merogoh saku di balik jasnya, mengeluarkan kotak beludru bewarna hitam, menaruhnya di meja dan menggesernya ke hadapan Dara.
“Bukalah. Selama ini aku blum pernah memberikan hadiah secara khusus untukmu."
Dara bergerak membukanya, isinya adalah sebuah kalung bertahtakan berlian berkilauan dengan batu permata Ruby di bagian tengahnya berwarna merah memikat seindah kelopak mawar merah. “Ini… ini sangat indah. Tapi, Bukankah sudah pernah kubilang bahwa Mas, ayah dan ibu adalah hadiah yang tak ternilai untukkku. Aku sama sekali tak membutuhkan hadiah lain lagi,” sahut Dara lembut.
“Aku tahu. Tapi sebagai suami tetap saja aku ingin melakukannya. Hadiah ini adalah ucapan selamat dariku karena sebentar lagi kamu akan menjadi seorang ibu.” Wira berdiri dan beranjak dari tempatnya menghampiri Dara, memposisikan diri di belakang Dara mengambil kalung tersebut dan memakaikannya.
"Ini adalah Permata Ruby kualitas terbaik di kelasnya. Ruby melambangkan rasa cinta, energi, gairah, juga semangat hidup yang kuat. Permata ini mewakili semua ungkapan rasaku untukmu, karena kamu adalah cinta yang membuatku kembali mempunyai energi juga menyulut gairah semangat hidupku berkobar lagi," ucapnya di sela-sela memasangkan kalung tersebut di leher Dara. Setelah memastikan terpasang sempurna Wira melabuhkan bibir panasnya menyapukan kecupan sekilas di bahu Dara.
Si cantik berambut coklat itu berbalik masih duduk di kursinya, sedikit menengadah dan menatap Wira berlumur cinta di matanya. “Sekali lagi terima kasih, Mas. Atas semua kasih sayangmu," ucapnya serak. Terdengar nada haru dari kalimat yang meluncur dari mulutnya.
Wira mengulas senyum tampannya lalu menunduk dan mengecup kening Dara penuh perasaan, kemudian balas menatap dengan rasa yang sama. “Aku lebih berterimakasih padamu. Sebaiknya sekarang kita makan, selagi menunya masih hangat.”
Wira kembali ke tempat duduknya. Mengambil sendok sup dan menyentuh sisi mangkuk berisi sup krim jagung di dalamnya. Setelah memastikan suhunya pas kemudian menyedok satu suapan ke hadapan mulut Dara. “Aaa… ayo makan,”pinta Wira lembut tetapi menuntut. Dara mencondongkan tubuhnya ke depan menyambut suapan tersebut penuh sukacita, membebaskan dirinya dibanjiri kasih sayang dari pria yang bertahta di kalbunya.