
Hari resepsi Wira dan Dara telah tiba. Pesta pengumuman pernikahan mereka akan di helat di ballroom mewah salah satu hotel bintang lima ternama di ibukota dan acara pesta akan dimulai sekitar pukul tujuh tiga puluh malam.
Awalnya pesta akan diselenggarakan secara sederhana saja, akan tetapi Haris ingin berbagi kebahagiaannya dengan khalayak. Bukan hanya mengumumkan mengenai pernikahan Wira dan Dara saja, ia juga ingin berbagi kabar bahagia tentang hadirnya cucu penerus keluarga yang kini dikandung Dara.
Keluarga besar Aryasatya turut menghadiri, kolega Haris dan Ratih hampir semuanya diundang. Para petinggi rumah sakit tempat Wira bekerja beserta rekan-rekan sejawatnya, tak lupa para petinggi kampus tempat Dara menuntut ilmu beserta jajarannya dan juga teman-teman sefakultasnya, ikut diundang juga untuk merayakan momen bahagia mereka.
Acara akan dimulai satu jam lagi. Saat ini Dara sedang didandani oleh para penata rias profesional di salah satu kamar hotel yang telah di booking oleh mertuanya. Ia tampak menarik napas dan mengembuskannya gugup sambil sesekali meremas kedua tangannya yang terjalin.
Para perias menata rambut indahnya dengan gaya minimalis, membiarkan surai panjangnya tetap tergerai ke belakang namun bagian depannya ditata begitu memukau membingkai wajah cantiknya. Sapuan kuas bedak dan berbagai macam pelengkap lainnya menghiasi wajah berkulit mulus itu, bagaikan sebuah kanvas polos yang dilukis dengan sukacita sehingga menciptakan mahakarya yang sempurna.
"Sudah selesai, Nyonya. Bagaimana, apakah Anda suka? jika ada yang kurang berkenan kami akan mengoreksinya," ucap salah satu penata rias yang bertugas.
Dara menatap pantulannya, ia belum pernah di dandani sedemikian rupa semacam ini. Dirinya pun bahkan merasa tak mengenali siapa wanita cantik memesona yang ada di cermin, lalu sebuah senyuman terbit diiringi anggukan tipis.
"Saya sangat menyukainya, terima kasih," sahut Dara seraya mengulas senyum.
Terdengar derit pintu kamar yang didorong dari luar. Seseorang masuk, suara langkah kaki yang sangat familiar ditelinga Dara ditambah aroma maskulin menyihir yang selalu membuatnya berdesir jiwa dan raga. Meskipun posisi Dara membelakangi pintu, namun tanpa menoleh pun dia sangat hapal siapa yang memasuki kamar, siapa lagi kalau bukan pria posesif tercintanya yang kini berjalan mendekat ke arahnya.
Dara berdiri dan membalikkan badan, Wira mengamati istrinya dari ujung kepala hingga kaki penuh kekaguman. Matanya berbinar memuja, membuat yang dipandang tersipu-sipu malu ditatap intens sedalam lautan. Dara memutuskan mengenakan gaun biru toska dengan bagian punggung yang agak terbuka. Namun, bagian belakangnya yang terbuka tertutupi oleh rambut coklatnya yang tergerai indah.
Wira makin mendekati, meletakkan kedua tangannya di sisi pinggang Dara kemudian wajahnya sedikit membungkuk dan sebuah kecupan sarat akan cinta serta kasih sayang mendarat mulus di kening sang belahan jiwa. Mata Dara memejam meresapi semua rasa, menerima gelenyar cinta membara yang dicurahkan untuknya dari satu-satunya pria yang bertahta di hatinya.
Wira memperhatikan ekspresi Dara yang terlihat gusar, kedua tangannya bergerak menggenggam tangan Dara dengan lembut seolah memberi kekuatan di sana.
"Kenapa? apa kamu gugup?" tanya Wira.
"Bohong jika aku menjawab tidak. Rasanya sangat gugup hingga sulit bernapas. Ini adalah pertama kalinya bagiku menjadi pusat perhatian sebuah acara besar dan penting seperti ini, ditambah lagi semua keluarga besar Mas akan ikut menghadiri. Sementara aku tak mempunyai satu pun keluarga untuk mendampingiku. Aku takut salah bersikap sehingga mempermalukan kehormatan keluarga Aryasatya," tuturnya yang kemudian tertunduk sendu.
"Siapa bilang tak ada keluarga yang mendampingimu? aku adalah keluargamu. Ayah dan Ibuku juga orang tuamu, keluargamu. Apakah itu tidak cukup?" Wira mengangkat dagu Dara dengan lembut agar sedikit mendongak hingga mata keduanya bersirobok.
Dara menggeleng pelan. "Sangat cukup, bahkan lebih dari cukup," sahutnya parau menahan haru yang bergerombol di tenggorokannya.
"Jangan cemas dan bingung bagaimana harus bersikap. Ada aku di sampingmu, percaya dirilah dan jadilah dirimu sendiri. Mungkin kamu tak menyadari bahwa seluruh dirimu sangatlah istimewa, sayang."