You Are My Sunshine

You Are My Sunshine
Part 182



"Jadi kapan kita berangkat?" Sudah yang ke sekian kalinya Dara mengutarakan pertanyaan yang sama, sementara tangannya sibuk membenahi keperluan Wira ke dalam koper.


"Tadinya aku berencana untuk mengantarmu ke sana besok pagi sebelum berangkat, tapi ibu meminta agar kita datang malam ini juga sebelum acara makan malam dimulai dan aku pun sudah lama tak menginap. Kita berangkat pukul enam tiga puluh," jawab Wira yang juga sedang memasukkan berkas beserta Ipad-nya ke dalam tas kerjanya. Dara melirik jam dinding, masih ada waktu satu jam lagi sebelum mereka berangkat.


"Mas sebaiknya mandi dulu, biar aku yang membereskan berkasnya." Dara mengambil alih beberapa map dari tangan suaminya.


"Baiklah, bereskan dengan baik Nyonya." Wira mengedipkan sebelah matanya merayu menggoda kemudian segera bergegas ke kamar mandi untuk membasuh diri.


Dara tertawa kecil sambil melihat punggung suaminya yang menuju kamar mandi kemudian menghilang dibalik pintu. Ia cepat-cepat membereskan semua keperluan Wira dengan teliti agar tidak ada yang tertinggal, lalu pergi ke ruang ganti memilih pakaian yang akan dikenakannya malam ini.


Dara mengacak-acak isi lemari besarnya. Ia ingin terlihat anggun di hadapan ibu mertuanya, tetapi kali ini dia merasa tidak ada satu pun pakaian yang cocok untuk dipakainya padahal itu hanya perasaannya saja.


Akhirnya ia memutuskan untuk memakai gaun selutut tanpa lengan yang dilengkapi blazer. Perutnya sudah mulai agak membuncit samar, tetapi belum terlalu menyembul hanya terasa keras saja dan padat dibagian si jabang bayi tengah bertumbuh, mungkin karena tubuhnya yang ramping membuat kehamilannya tidak begitu tampak terlihat.


*****


Wanita cantik itu duduk di ruang tengah menunggu Wira yang tengah berpakaian, sementara Bu Rina dan pelayan lainnya mengangkut koper tuan dan nyonyanya ke garasi dan memasukannya ke dalam bagasi mobil mewah berwarna hitam yang paling sering dipakai Wira.


Matanya melirik ke arah dinding di mana foto Almira masih terpajang manis di sana. Dara mendekat dan berdiri tepat di hadapan foto ibu perinya.


"Kakak, terima kasih sudah membawaku ke dalam sebuah kebahagiaan yang tak terhingga. Aku menyayangimu." Dara mengusap foto cantik Almira kemudian mengecupnya penuh sayang.


*****


Mobil sport warna hitam milik Wira memasuki area pelataran kediaman orang tuanya. Sejak tadi tak henti-hentinya Dara tersenyum merekah dengan antusias karena gembira akan bertemu dengan sosok ibu yang baru saja berdamai dengannya. Wira yang menangkap ekspresi istrinya kembali merasa cemburu, rasa posesifnya kini malah berada di tempat yang tak seharusnya. Begitulah cinta.


"Sayang, aku harus ke rumah sakit sebentar untuk mengambil berkas yang tertinggal. Jadi masuklah dulu." Wira dan Dara sudah berada di halaman depan rumah besar itu.


"Cium aku dulu," pinta Wira. Telunjuknya menepuk-nepuk pipinya sendiri memberi isyarat agar Dara mengecupnya.


"Hihh... Mas. Ini di luar, gimana kalau ada pelayan yang lihat," sahutnya pelan setengah berbisik sembari mengedarkan pandangannya ke sekitar.


"Aku tak peduli, pokoknya cium aku sekarang juga. Kalau nggak aku ngambek nih," rajuknya mulai cemberut.


Dara terkikik geli kemudian melangkah semakin mendekat dan berjinjit mengecup pipi Wira membuat suaminya itu tersenyum puas.


"Nah, sudah. Aku masuk ya," kata Dara.


Ketika Dara hendak melangkah masuk Wira malah kembali menarik lengannya, merengkuhnya ke dalam dekapannya dan menenggelamkan wajahnya di ceruk leher Dara membuat wanita hamil itu terkekeh karena sifat manja suaminya tengah kumat.


"Ya ampun Wira... lepaskan menantuku!" teriak Ratih yang ternyata sudah berdiri di ambang pintu entah sejak kapan, dia dibuat gemas melihat anaknya yang tidak membiarkan Dara masuk sejak tadi.


Wira mengurai pelukannya ketika mendengar suara ibunya dan mengulum senyumnya. "Iya Bu. Ya sudah, aku ke rumah sakit dulu sebentar Bu, tunggu aku untuk makan malam bersama."


"Berangkatlah. Jangan menempel terus pada istrimu seperti perangko, ibu juga ingin bersama Dara," protes Ratih.


Wira hanya tergelak kemudian melambaikan tangannya sebelum kembali mengendarai mobilnya.


"Ayo masuk." Ratih mengulurkan tangannya.


Dara mengangguk dengan senyum manisnya, menyambut uluran tangan Ratih dan melangkah bersama memasuki rumah.