You Are My Sunshine

You Are My Sunshine
Part 225



"Aku rindu kamu Mas, aku... aku menginginkanmu...."


Bola mata indahnya berkilauan menatap Wira penuh harap, Dara makin merapatkan dirinya pada tubuh berotot, kokoh, hangat serta menyenangkan untuk bergelung dan bermanja di sana.


Wira menghela napasnya berat, kebimbangan jelas kentara dari sorot mata serta ekspresi wajahnya saat ini. Namun, Dara sepertinya belum menangkap beban yang bergelayut berat di wajah tampan suaminya, hasratnya yang lama terpendam tengah menguasainya saat ini.


"Sayang, ada hal yang ingin aku_" ucapan Wira mengambang tak terselesaikan karena bibir ranum merah merekah, hangat dan basah itu malah mengecupi menyusuri belakang telinga hingga lehernya tanpa aba-aba. Tak ketinggalan jemari lentiknya mengusap-usap dada bidang Wira kemudian menelusup ke dalam kaos oblong berwarna hijau tua itu hingga telapak tangan halusnya bergesekan langsung dengan kulit perut berotot yang teramat sangat menyenangkan untuk disentuh.


Wira menggeram. Apa yang dilakukan Dara membuat gairahnya ikut tersulut di tengah kekalutan yang penuh sesak di kepalanya.


"Sayang...." Wira menahan desahannya dan berusaha menghentikan kegiatan Dara dengan nada lembut agar tak mengejutkan dan itu berhasil.


"Kenapa Mas?" Dara menghentikan sapuan panasnya di tubuh Wira dan mendongak menatap mata teduh suaminya seakan menunggu Wira berucap dengan tak sabaran, dadanya mulai tersengal naik turun seirama menahan gejolak tubuhnya dan ingin segera melanjutkan kembali apa yang barusan dilakukannya.


Wira mengubah sedikit posisi berbaringnya sehingga kini Dara berbantalkan lengannya, netranya bergulir menyapu wajah istrinya yang mulai merona disertai deru napas memburu yang juga ikut tertangkap di pendengarannya sarat akan gairah yang mulai bergelora.


Kalimat-kalimat yang sudah terangkai di kepalanya urung meluncur tertahan di pangkal tenggorokannya. Wira merasa tak tega untuk menolak ketika melihat tatapan Dara yang menguncinya, meminta penuh harap ingin segera dihangatkan. Betapa kecewanya Dara jika dia tak memenuhi nafkah batinnya saat ini.


Benteng pertahanan yang dibangunnya susah payah roboh seketika. Wira menunduk dalam, ibu jarinya menarik dagu Dara lembut agar bibir memabukkan itu terbuka celahnya lalu menyelipkan bibir panasnya di sana, menyesapnya penuh pemujaan menumpahkan segala rasa yang menyiksanya.


Dara menyambutnya penuh sukacita, bahkan dia tersenyum senang ditengah-tengah balasan pagutannya, mencicipinya dengan rakus dan enggan melepaskan pertautan bibir mereka membuat hasratnya merayap makin membakar dirinya.


"Maashhh...." erang Dara dengan napas memburu dan mata terpejam saat bibir panas itu mulai berlabuh di lekukan lehernya. Jemarinya menjambak mesra rambut hitam Wira yang masih setengah basah, Dara juga bisa merasakan bukti gairah Wira yang telah sepenuhnya bangkit, menggesek di sisi pahanya dan hal itu semakin membuat gairahnya sendiri melonjak-lonjak tak terelakkan.


Debaran jantung mereka berdetak liar, aliran darah pun seakan dipompa lebih cepat menciptakan hawa panas yang menjalar ke seluruh urat nadi. Rasa nyeri dari bukti gairahnya mulai menyiksa Wira memaksa ingin segera dibebaskan, sama halnya dengan Dara yang juga merindu ingin segera mereguk madu asmara sebanyak-banyaknya.


Akhirnya sesuatu yang sempat tertahan beberapa waktu itu kembali melebur. Wira melakukan penyatuannya dengan hati-hati selembut mungkin. Wira tetap berusaha memimpin peleburan dan tak membiarkan Dara mengambil alih, khawatir gairahnya istrinya yang tengah meledak-ledak itu lepas kendali.


Dibisikkannya kata-kata lembut menenangkan penuh janji, meminta istrinya lebih bersabar dalam upaya memuaskan dahaganya yang sempat tertahan. Ia tetap mengayuh dayungnya dalam ritme yang lembut terkendali meskipun sesekali Dara sedikit merengek meminta lebih.


Samudera luas menuju puncak asmara akhirnya berhasil diarungi. Gelombang yang sejak tadi dikejarnya kini menyerbu membanjiri seluruh ragawi.


Wira mengecup kening Dara yang lembap karena peluh dan menggumamkan kalimat yang sama," I love you too sweetheart."


"Aku ingin membersihkan diri, tunggu sebentar oke. Istirahatlah sayang, Kamu tak usah ke kamar mandi, biar nanti aku yang membersihkan tubuhmu."


Dara mengangguk dengan senyuman yang terus merekah, kemudian Wira turun dari ranjang, menutupi tubuh urian Dara dengan selimut dan menuju ke kamar mandi.


Lonjakan rasa senang dan juga pacuan peleburan gairah yang terjadi barusan rupanya menghasilkan reaksi lain di tubuh Dara. Ia merasa tak seperti biasanya yang dibanjiri rasa lega setelahnya. Kepalanya tiba-tiba terasa berputar, matanya berkunang-kunang dan juga celah udara ke paru-parunya seolah menyempit.


Dara berusaha mendudukkan dirinya bersandar ke kepala ranjang. Mencengkeram selimut yang membungkusnya sebatas dada, dan tangan yang satunya lagi menepuk-nepuk dadanya sendiri. Dara sampai megap-megap menghirup pasokan udara supaya membanjiri paru-parunya, tetapi rasa sesak itu makin mencekiknya tanpa ampun.


Beberapa saat kemudian, Wira keluar dari kamar mandi membawa handuk kecil dan air hangat dalam wadah plastik berbentuk bulat. Namun, tepat saat matanya tertuju ke arah ranjang keterkejutan menerjangnya. Dara tampak kesulitan bernapas, Wira menghambur dan menjatuhkan benda-benda yang dipegangnya, meraup Dara ke dalam pelukannya dan menepuk-nepuk pipinya.


"Sayang... Dara, kamu kenapa?" Bibir Wira bergetar dipenuhi kecemasan yang nyata.


"To-tolong aku... M-mas. Se-sesak," ucapnya terbata lirih dan lemah.


*****


Halo my beloved readers, terima kasih banyak atas apresiasi dan dukungan kalian untuk ceritaku ini. Jangan lupa budayakan tinggalkan jejak kalian setelah membaca berupa like, komentar, serta vote seikhlasnya. Dukungan kalian selama ini melalui like, vote poin serta koinnya dan juga komentar positif membuatku semakin semangat menulis.


Jangan lupa Ikuti juga give away hingga cerita ini end dengan vote sebanyak-banyaknya. Lima vote teratas akan mendapatkan kenang-kenangan tumbler dari author.


Follow juga Instagramku @senjahari2412 untuk mengetahui informasi seputar cerita-cerita yang kutulis.


Selamat membaca....


😘💕.