You Are My Sunshine

You Are My Sunshine
Part 184



Setelah Wira berangkat, Dara kembali masuk ke dalam rumah menuju ruang makan. Di sana para pelayan tengah berlalu lalang menyiapkan hidangan untuk sarapan bersama.


"Aku ingin membantu menyiapkan sarapan?" kata Dara kepada salah seorang pelayan.


"Nona duduk saja, biar saya yang mengerjakan semua ini. Apakah ada makanan yang Anda inginkan? jika ada kami akan segera membuatkannnya," tawar si pelayan.


"Semua yang tersaji tampak lezat, aku tak punya apapun lagi yang kuinginkan. Apakah masih ada hidangan yang belum disajikan. Biarkan aku membantu ya," pinta Dara memelas.


"Ta-tapi Nona, saya takut nanti Nyonya besar akan marah," jawabnya kebingungan.


"Tidak akan. Biar nanti aku yang menjelaskan pada ibu." Dara meyakinkan.


Pelayan itu masih tampak termangu di tempatnya berdiri, lalu sesaat kemudian ia mengangguk dan disambut Dara yang berjingkrak senang.


*****


Haris dan Ratih baru saja turun hendak menuju ruang makan, tetapi tiba-tiba pelayan yang sedang membersihkan halaman depan masuk tergopoh-gopoh menghampiri.


"Tuan, Nyonya. Ada tamu yang ingin bertemu Anda. Mereka mengatakan ada hal penting yang ingin disampaikan," lapor si pelayan itu.


"Siapa yang bertamu pagi-pagi begini?" Ratih mengerutkan keningnya tak suka.


"Saya juga tidak tahu Nyonya, tapi kelihatannya situasi mereka sangat darurat," jelasnya.


"Ya sudah, persilakan mereka masuk," ucap Haris.


Ratih membeliak murka ketika melihat siapa yang datang. Kedua orang tua wanita yang telah menipunya kini tepat berdiri di hadapannya. Haris pun sama terkejutnya dengan Ratih, ditambah dua orang yang menjadi tamunya itu tampak kacau dan kusut.


"Silakan duduk." Haris tetap menyambutnya dengan sopan, sementara Ratih melempar tatapan tajam kepada mereka.


"Di mana kamu menyembunyikan anakmu yang penipu itu!" seru Ratih yang mulai tersulut amarah melihat kehadiran mereka. Haris yang duduk bersebelahan dengannya meletakkan tangannya di lutut istrinya itu memberi isyarat agar mengontrol emosinya.


Namun, tak di sangka kedua orang tua Michelia langsung bersimpuh di hadapan Haris membuat pria paruh baya itu sedikit terkesiap.


"Pak Haris. Saya memohon tolong bebaskan putri kami dari semua tuduhan. Tolong ampuni anakku yang telah lancang menyentuh keluarga Anda terlalu dalam. Biar saya yang menggantikan semua hukuman untuknya, apapun akan saya lakukan agar Anda mau mengampuni kesalahan anak kami," mohon ayah Michelia.


Demi anaknya, sang ayah rela merendahkan dirinya berlutut di hadapan Haris karena hanya tinggal ini satu-satunya celah yang memungkinkan agar Michelia tidak dikejar polisi lagi.


"Mengampuni anakmu? tidak akan pernah! Jika tentang menipu uangku aku bisa meminta ganti rugi pada kalian atas semua itu dan masalah pun selesai. Tapi perbuatannya yang mencoba membunuh cucuku serta mencelakai menantuku semua itu tak dapat kuampuni," sahut Ratih yang menekankan setiap kata-katanya.


"Nyonya Ratih... tolong maafkan putriku. Hanya dia sekarang satu-satunya yang kumiliki. Putra sulungku sebetulnya bukan tinggal di luar negeri, tapi di tempat rehabilitasi karena kecanduan narkoba dalam tahap yang parah. Hanya tinggal Michelia harapan kami, kumohon ampunilah putriku," mohon ibunya Michelia sambil terisak.


Ratih tak bergeming, ekspresinya tetap datar. Haris mengembuskan napasnya berat, sebagai orang tua dia paham akan perasaan dua orang yang tengah bersimpuh di hadapannya. Apalagi ketika mendengar putra sulung mereka yang ternyata di luar dugaan orang-orang selama ini.


"Duduklah, tidak baik berlutut di lantai yang dingin. Sebagai orang tua saya sangat mengerti dengan apa yang Anda rasakan." Haris menjeda kalimatnya sejenak.


"Permohonan maaf Anda berdua saya terima. Tapi dengan berat hati harus saya sampaikan, kami tidak berniat mencabut tuntutan dan akan tetap meneruskan mematuhi hukum yang berlaku karena Michelia sudah berbuat hal yang sangat fatal," sambungnya kembali.