
Kemilau cahaya mentari pagi menerobos dengan bebas masuk ke dalam kamar besar itu, semua gorden sudah dibuka lebar-lebar agar binarnya ikut menghangatkan suasana di dalamnya.
Dara tengah membantu Wira berpakaian. Dengan cekatan ia memakaikan pakaian yang dipilihkannya pagi ini. Celana berwarna abu-abu keluaran Brand Rogatis dipadukan dengan kemeja mahal dari Rumah Mode Tom Ford berwarna hitam legam sekelam kayu eboni dan tak lupa dilengkapi dengan dasi bermotif senada. Wanita hamil itu begitu bersemangat, ia memastikan sang suami tercinta agar berpenampilan rapi dan sempurna.
Sudah lima hari berlalu. Lebam-lebam di wajah tampannya sudah sembuh dan menghilang dari permukaan, hanya menyisakan sedikit luka di pelipisnya yang belum sepenuhnya membaik.
"Terima kasih sayang," ucap Wira penuh rasa syukur. Dara masih sangat muda, tetapi ia belajar dengan giat untuk menjadi istri yang berbakti ditengah kesibukan kampusnya dan kehamilannya, membuat rasa cinta Wira kepada sang belahan jiwa semakin terperosok hingga ke palung tercuram di dalam kalbunya.
"Uuughh... tampannya suamiku ini. Aku jadi tidak rela membiarkan Mas pergi bekerja. Rasanya ingin sekali menyimpan Mas ke dalam poci aladdin yang bisa kumasukkan ke dalam tasku dan kubawa ke mana-mana," cicitnya manja dengan mimik wajah menggemaskan.
"Ahahaha... kau pikir suamimu ini jin?" Wira tertawa lepas.
Dara terkekeh kemudian berjinjit dan mengecup rahang tegas Wira dengan mesra. Wira merangkul Dara ke dalam pelukannya dan mengecup keningnya tak kalah mesranya.
"Jadwal operasi nanti sore apakah jadi dilaksanakan?" tanya Dara.
"Hmm... iya," sahut Wira.
Raut wajahnya terlihat tegang, ini adalah kali kedua ia kembali memasuki ruangan dingin kamar bedah setelah membaik dari traumanya. Sejak Wira berterus terang kepada Dara ia menjalani konseling secara rahasia. Hanya Dara dan Fatih yang tahu tentang hal itu.
Sebagai seorang istri dengan setia Dara selalu berada disampingnya ketika konsultasi berlangsung. Wira memang belum sepenuhnya pulih. Namun, berkat dukungan Dara ia gigih untuk bisa keluar dari bayangan buruk yang membelenggunya.
Setelah beberapa kali datang berkonsultasi, psikiater akhirnya menemukan titik terang untuk penyembuh traumanya yaitu adalah istrinya sendiri. Ketika Dara hadir didekatnya Wira mampu mengatasi dan melupakan semua ketakutannya. Saat berjauhan dengan sang istri dan ia bertemu dengan situasi yang mengharuskanya terlibat dengan darah maka video call singkat menjadi solusinya.
Setiap kali ia selesai berbicara dan melihat wajah cantik yang selalu mengisi rongga dadanya walaupun hanya melalui ponsel, ketakutannya seketika langsung menguap begitu saja, berganti dengan semangat membuncah-buncah yang membuatnya bersemangat penuh energi.
"Aku akan datang sebelum jam operasi berlangsung. Aku ingin menemani walaupun tidak bisa ikut masuk ke dalam ruangan dingin itu." Dara mendongak dan menatap iris mata Wira yang memukau serta mampu menyihir siapapun yang melihatnya.
Dara menggeleng pelan, kemudian tersenyum seindah sinar rembulan. "Aku tak merasa lelah sama sekali. Jadi aku akan tetap datang karena aku ingin."
"Baiklah, nanti pak Jono akan menjemputmu. Terima kasih, karena sudah mau memahami dan menerima semua kekuranganku." Nada bicara Wira sedikit tercekat karena bercampur haru.
"Aku pun sama Mas. Aku hanya manusia sebatang kara yang telah lancang mencintai seorang pria mengagumkan sepertimu. Tapi, bukankah manusia hidup berpasangan untuk saling melengkapi? aku dan kamu bersama bukan karena sempurna, tapi untuk menyempurnakan satu sama lain," tutur Dara dengan tatapan penuh cinta.
Wira menundukkan wajahnya semakin dalam, menanamkan bibirnya di kehangatan bibir Dara dan memagutnya sarat akan kasih sayang yang menggelegak. Diluapkannya seluruh cinta yang membara tiada tara kepada sang belahan jiwa melalui ciuman mesranya, kemudian setelah beberapa saat ia melepaskan bibir merah merekah itu dan menempelkan keningnya di kening Dara begitupun sebaliknya.
"I love you, my wife," desah Wira serak dengan mata terpejam meresapi setiap rasa yang makin hari semakin bertumbuh subur di hatinya.
"love you too, hubby," sahut Dara dengan bibir basahnya.
*****
Author note.
Hai my beloved readers, terima kasih banyak atas apresiasi dan dukungan kalian untuk ceritaku ini. Jangan lupa juga tinggalkan jejak kalian setelah membaca. Kutunggu like, komentar, serta vote seikhlasnya. Dukungan kalian membuatku semakin semangat menulis.
Follow juga akun Instagramku @Senjahari2412 untuk mendapatkan kabar seputar novel yang kutulis.
Terima kasih telah membaca 😘💜
With Love,
Senjahari_ID24