You Are My Sunshine

You Are My Sunshine
Part 296



Di kamar besar kediaman Wira dan Dara, lampu utama sudah dimatikan, hanya menyisakan pencahayaan temaram dari lampu-lampu tidur di sudut ruangan. Selena sudah tertidur pulas, sedangkan Wira sedang membasuh diri.


Gorden besar menghadap taman dibuka, Dara duduk di sofa panjang depan kaca besar tembus pandang yang membebaskan matanya menjelajahi keindahan taman samping rumah di malam hari.


Di tangannya terdapat sebuah amlpop, menggenggamnya erat nyaris meremasnya, seolah dirinya tengah mengumpulkan tekad juga kekuatan untuk mampu membuka isinya. Wajahnya menunduk, matanya kembali memandang amplop berwarna coklat tersebut, kemudian teringat akan perkataan bibinya tadi siang sebelum mereka pulang dari pemakaman.


Dara, ini adalah surat rumah yang dititipkan ibumu beberapa hari sebelum wafat. Dia meminta Bibi untuk memberikannya padamu saat dia sudah tak ada lagi di dunia ini. Aruna ingin kamu yang menjual rumah tersebut dan menyumbangkan uangnya ke panti asuhan. Lalu, ini adalah amplop berisi uang untuk pelayan yang merawatnya selama ini, dan ini satu amplop lagi, khusus untukmu dari Ibumu.


Gemerisik kertas yang dibuka memecah kesunyian kamar, walaupun dengan sedikit gemetaran akhirnya Dara memberanikan diri membuka amplop tersebut dan mencoba membaca isinya.


Anakku tersayang, Anandara.


Saat kamu membaca surat ini, mungkin Ibu sudah bertemu dengan Ayahmu. Ibu sudah tak sabar ingin menceritakan padanya bagaimana putrinya bertumbuh sangat cantik, cantik paras juga hatinya.


Dara, pengampunanmu untuk ibu serupa telaga besar madu manis yang melegakan dahaga, serupa payung teduh dikala terik mendera, serupa selimut hangat saat malam dingin melanda.


Permataku, maafkan ibu yang telah menorehkan luka dihatimu, membiarkanmu menyesap pilu di setiap malammu, mendulang sepi dalam nyanyian rindumu.


Anakku, terima kasih atas semua kasih sayangmu yang telah sudi merawat ibu, seorang wanita yang bahkan tak pantas dipanggil Ibu olehmu. Semoga kebahagiaan selalu melingkupi hidupmu.


Dari Ibumu yang buruk.


Aruna


Sebulan berlalu, Dara sudah mulai sibuk dengan perkuliahannya. Dia sudah tak banyak bersedih lagi, apalagi Wira selalu mengingatkan padanya bahwa yang dibutuhkan ibunya adalah do’a, bukan air mata.


Meskipun kini jadwal kuliahnya tak berbarengan dengan kedua sahabatnya lagi, tetapi Dara tetap bersemangat dan belajar lebih giat lantaran ingin menyelesaikan kuliahnya lebih cepat dari yang lainnya, setelah lulus dia ingin fokus mengurus keluarga kecilnya tanpa harus terbagi konsentrasi dengan studinya.


Sepulang kuliah di sore akhir pekan ini, Dara menuju coffee shop favoritnya untuk bertemu kedua sahabatnya, mereka janji bertemu karena sudah lama tak berkumpul bersama. Dulu, ia sering nongkrong di sana bersama Freya dan Anggi.


Setelah menikah, ia hanya berkumpul sesekali saja. Anak dan suaminya kini adalah prioritas utamanya, kendati Wira tak pernah melarangnya untuk sekadar berkumpul atau berbelanja bersama, suaminya itu pernah mengatakan bahwa Dara juga butuh bersosialisasi dengan teman-temannya asalkan bisa mengatur waktu dan tetap amanah akan kepercayaan yang diberikannya.


“Duh kangennya,” jerit Freya dan Anggi yang langsung heboh ala para anak gadis saat menyambut Dara begitu mereka melihatnya masuk ke kafe.


“Aku juga kangen banget sama kalian, huhuhu.” Dara balas memeluk mereka dengan memasang wajah memelas.


“Hei aku tak percaya, setelah menikah rasa kangenmu lebih banyak untuk suami seksimu itu iya kan?” decak Anggi dan Dara hanya cengengesan kemudian mereka mengurai pelukan dan mendaratkan bokong masing-masing di kursi kafe berwarna merah, mereka duduk melingkar membentuk sebuah kelompok.


“Akhh, suamiku ini memang susah buat nggak dikangenin, aku hampir gila dibuatnya karena terlalu cinta,” sahut Dara sambil tersenyum sendiri seperti orang tak waras efek dimabuk asmara.


“Dasar bucin!” ujar Feya yang kemudian malah bergidik ngeri. “Aku takut, jika nantinya aku bakalan bucin juga, oh tidaaakkkk… ini mengerikan!” Freya menepuk-nepuk pipinya sendiri dengan kencang.


“Nanti kamu juga bakal ngerasaain, tinggal tunggu tanggal mainnya gimana kamu bakalan bucin sama Fatih, apalagi kalau sudah menikah dan… dan_” Ucapan Dara menggantung di udara, si cantik bermata indah itu malah melipat bibirnya.


“Dan apa?” Keduanya menyondongkan tubuh dengan raut wajah penasaran, sementara Dara mulai merona merah dan tersipu-sipu.