You Are My Sunshine

You Are My Sunshine
Part 76



Wira tergelak dengan renyahnya, kemudian meraup Dara yang masih terbungkus selimut serupa kepompong ke atas pangkuannya.


"Eh... tu-tunggu, Kakak mau ngapain?" protes Dara.


"Diamlah sayang, aku ingin menyuapimu. Saat aku sakit, kamu juga melakukannya untukku bukan? jadi sekarang biarkan aku melakukan hal yang sama," ucap Wira dengan senyum yang tersungging di bibirnya.


"Tapi aku tidak sakit," ujarnya.


"Benarkah? apakah bagian yang itu juga sudah tidak sakit? kalau begitu, bagaimana jika kita mengulanginya lagi, yang semalam," bisiknya menggoda. Disusul embusan napas hangatnya yang nyaris panas dengan sengaja ditiupkan ke telinga Dara, kalimat yang di ucapkan Wira dan apa yang dilakukannya sukses membuat wajah gadis itu merah merona seperti tomat.


"Bu-bukan begitu maksudku. Tanganku baik-baik saja, jadi aku bisa makan sendiri. Haish... Kenapa sekarang Kakak berubah jadi mesum!" serunya dengan bibir mencebik sebal.


"Aku hanya mesum pada istriku, jadi itu bukan masalah. Sekarang lebih baik kamu makan dulu, jangan membantah lagi, oke."


Wira membelai lembut puncak kepala Dara kemudian mengambil sendok dan mulai menyuapinya, mau tak mau gadis itu membuka mulutnya. Lagipula memang benar, saat ini cacing-cacing di dalam perutnya sudah menari-nari meminta jatahnya, ditambah menu yang dihidangkan sungguh menggugah selera.


Di atas meja itu tersaji sup daging rempah yang masih mengepulkan uap panasnya, mash potato yang di taburi oregano, nasi hangat dengan lelehan butter margarin lezat, serta omelet telur keju dan dua gelas susu coklat hangat. Pertama, Wira menyendok sup daging rempah untuk Dara, lalu untuk sendok berikutnya dia bertanya terlebih dahulu.


"Untuk karbohidrat mau makan yang mana, mash potato atau nasi butter?" tanya Wira.


"Sepertinya keduanya enak, bo-bolehkah, aku makan keduanya?" pinta Dara dengan polosnya, sambil menelan ludahnya karena sudah tak tahan ingin melahap makanan yang ada di depannya.


"Mmm... mash potato?" sahut Dara malu-malu.


Sesuai permintaan Dara, Wira menyendok menu yang diinginkannya, dengan telaten dia menyuapi Dara, hingga tak terasa, semua hidangan yang tadi tersaji penuh di atas meja hampir habis tak tersisa dan hanya menyisakan satu potong roti isi.


"Tunggu di sini sebentar, aku akan menyiapkan air mandi." Wira menyeka mulut Dara setelah acara sarapan selesai dan menurunkannya kembali ke atas ranjang.


"Aku... aku bisa sendiri." Dara berusaha turun dari ranjang dengan tetap memegang selimut besar tersebut agar tidak terlepas dari tubuhnya.


Wira memegang kedua bahu Dara dan meremasnya lembut. "Tunggulah lima belas menit lagi, kamu baru selesai makan, kurang baik jika langsung mandi saat perut baru saja diisi. Biarkan lambungmu mencerna dulu makanannya, sambil menunggu aku akan menyiapkan air mandi untukmu."


Setelah mendengar penjelasan Wira, Dara mengangguk patuh, dan membiarkan Wira menyiapkan air mandi untuknya seperti yang dikatakannya tadi.


Wira bangkit dari duduknya dan melangkah ke kamar mandi, ia mengisi bathub dengan air hangat, memastikan suhunya pas dan nyaman untuk digunakan berendam. ia juga membubuhkan beberapa tetes minyak esensial aromaterapi levender yang tadi dipesannya dari layanan kamar. Minyak esensial lavender ini dipercaya dapat mempercepat penyembuhan luka dan juga merilekskan tubuh serta pikiran. Setelah memastikan semuanya siap, Wira kembali ke kamar dan menghampiri Dara.


"Mandilah, dan berendamlah. Agar tubuhmu terasa lebih baik, setelah itu kita bersiap-siap untuk pulang," ucapnya lembut. "Mau kugendong?" tawar Wira.


"A-aku bisa sendiri. Tolong untuk kegiatan mandi, biarkan aku melakukannya sendiri." Dara perlahan turun dari ranjang dan berjalan ke kamar mandi sambil sedikit meringis dengan menyeret selimut besar yang digunakannya untuk menutupi tubuhnya.


Kali ini Wira membiarkan Dara melakukannya sendiri, dia paham bahwa istri kecilnya itu masih butuh beradaptasi tentang hubungan mereka sekarang. Wira mengulum senyumnya, dan setelah Dara menghilang di balik pintu kamar mandi, barulah dia memakan sarapannya, walaupun yang tersisa hanya tinggal sepotong roti dan juga segelas susu, tetapi kali ini makanan itu terasa begitu lezat efek dari hatinya yang membuncah bahagia.