
Dara menyambar jubah tidur yang tersampir di kaitan dekat pintu, memakainya sembarang untuk menutupi lingerie yang dipakainya tanpa menghentikan langkahnya.
"Dara, sayang... tunggu dulu dengarkan penjelasanku." Wira menyusul dengan langkah lebar. Inginnya Wira menarik tubuh Dara agar berhenti melangkah, tetapi jika dilakukan dengan tiba-tiba maka dikhawatirkan malah mencelakai istrinya.
Air mata Dara semakin deras mengalir, ini adalah pertama kalinya Wira membentaknya semenjak hubungan mereka terjalin layaknya suami istri yang sesungguhnya. Dara terus berjalan menuju tangga, menaiki satu persatu anak tangga ke lantai dua dengan sebelah tangannya memegangi perut buncitnya. Ia menulikan pendengarannya dan tak menghiraukan Wira yang terus memintanya untuk berhenti, rasa marah masih merajai hatinya yang baru saja tergores oleh pria yang dicintainya.
Wira mengekor di belakang Dara dengan raut muka luar biasa cemas serta penuh sesal. Ia takut Dara salah melangkah dan terpeleset, juga merasa bersalah karena ketidak jujurannya yang dimaksudkan untuk kebaikan ternyata malah menyakiti istrinya. Wira tak berpikir sejauh itu, berawal dari rasa takutnya ia memutuskan untuk menutupinya dan enggan berterus terang, tetapi justru malah lupa dengan perasaan Dara yang merasa terabaikan.
Pintu kamar berwarna merah jambu yang terletak di lantai dua dibuka dan didorong dengan kasar oleh Dara, itu adalah kamarnya sewaktu dulu sebelum menikah dengan Wira. Pria tampan yang tampak kebingungan itu juga ikut masuk ke dalam, Wira mencoba menyentuh pundak Dara akan tetapi kembali ditolak.
"Keluar dari sini! Aku ingin sendiri... hiks hiks," pekiknya masih dengan nada tinggi diiringi tangisan yang semakin pecah.
Dara mengambil beberapa buah bantal juga guling lalu melemparkannya kepada Wira, melampiaskan kemarahan menyesakkan dada yang bercokol dihatinya karena merasa tak diinginkan lagi. Kali ini Wira tak menuruti seruan Dara, ia tetap merangsek dan menghalau bantal guling yang beterbangan ke arahnya.
"Sayang, aku tak bermaksud membentakmu."
"Tapi Mas melakukannya!" teriaknya. Dara tak mampu mengontrol emosinya yang meluap-luap seolah hendak meledakkan dirinya, perubahan hormon yang signifikan pada ibu hamil membuatnya menjadi lebih sensitif dari biasanya.
Wira merasa luar biasa bersalah. Dia marah kepada dirinya sendiri karena lepas kendali. Dara naik ke tempat tidur, berbaring miring dan membenamkan wajahnya yang basah karena sumber air dari bola matanya tak mau berhenti menghujaninya.
Biasanya Wira akan membiarkan Dara hingga tenang dan memberinya ruang serta waktu untuk menyendiri jika Dara tengah merajuk. Namun, kali ini dia harus menjelaskan alasannya sesegera mungkin, membiarkannya berlarut khawatir menimbulkan prasangka baru serta memperburuk kondisi Dara yang membuat semuanya menjadi semakin rumit.
"Jangan sentuh aku!" pekiknya.
"Dara... sayangku cintaku kumohon maafkan aku. Aku sangat menyesal karena tak sengaja membentakmu, sungguh. Dan aku juga tak pernah bermaksud mengabaikanmu," ucap Wira lembut bercampur penyesalan, kemudian menghujani kepala Dara dengan kecupan bertubi-tubi.
"Mas nggak paham gimana perasaanku. Sudah hampir sebulan ini Mas tak pernah lagi menyentuhku seperti dulu. Apakah sekarang aku tak menggairahkan lagi karena tubuhku tak seindah sewaktu sebelum hamil? tubuhku jadi berubah seperti ini juga karena mengandung anak kita bukan?"
Begitulah kadang yang menjadi ketakutan sebagian para wanita hamil, merasa dirinya tak menarik lagi, takut suaminya berpaling saat fisiknya berubah seiring kandungannya yang berkembang. Apalagi jika suaminya setampan Wira yang banyak digandrungi kaum hawa, wajar saja Dara cemas dan takut Wira tergiur dengan para wanita yang terang-terangan menggoda tanpa tahu malu.
"Aku sama sekali tak pernah menganggapmu begitu, sayang. Bisakah kita berbicara dari hati ke hati, aku ingin membicarakan sesuatu padamu."
"Aku nggak mau dengar!" Dara menutup kedua telinganya menggunakan telapak tangannya.
"Kumohon sayang, berikan aku kesempatan untuk menjelaskannya. Lihat aku," pintanya. Wira berusaha membujuk Dara selembut mungkin. Ia mengecupi dari mulai pelipis hingga ceruk leher Dara penuh sayang tanpa terlewat.
Kecupan Wira yang lembut mulai memadamkan amarah Dara yang tadi berkobar hebat, rontaannya mengendur dan beberapa saat kemudian Dara membalikkan tubuhnya hingga posisi mereka berhadapan. Ditatapnya dalam netra teduh yang menghiasi wajah tampan di hadapannya.
Jemari Wira menghapus sisa-sisa kristal bening dari pelupuk mata Dara. membelai rambutnya lembut dan menatap Dara penuh cinta. Dara menangkupkan kedua tangannya di sisi wajah Wira, mendekatkan wajahnya sendiri dan memagut bibir suaminya itu untuk sesaat kemudian melepaskannya dan berkata, "Aku rindu kamu Mas, aku... aku menginginkanmu...."