You Are My Sunshine

You Are My Sunshine
Part 266



Di garasi rumah besar Aryasatya malam itu tampak sedikit gaduh, terlihat Ratih yang hanya memakai baju rumahan dilapisi cardigan hangat tergesa-gesa menaiki salah satu mobil mewahnya diikuti oleh Haris.


Wira baru saja mengabarkan tentang siumannya Dara kepada kedua orang tuanya, Ratih yang baru saja naik ke peraduan hendak memejamkan mata, seketika bangkit menyambar cardigan yang terlipat di nakas dan menghambur keluar sembari memanggil-manggil Haris yang sedang berada di ruang kerja.


Sementara di rumah sakit, Dara yang masih ingin mendekap bayi mungilnya tampak tak rela saat Dokter Anak juga perawat membawa kembali buah hatinya ke ruang NICU. Raut wajahnya tampak lesu, apalagi ketika tadi dia belum bisa menyusui secara langsung.


Bayi prematur kebanyakan memang belum mempunyai daya hisap maksimal karena terlahir kurang bulan, berbeda dengan kondisi bayi lahir cukup bulan. Dokter menggunakan cara memerah ASI dengan alat khusus yang kemudian ditampung dalam wadah steril untuk diberikan kepada buah hatinya agar nutrisinya tetap terpenuhi.


WIra meremas lembut bahu Dara, kemudian duduk di tepi ranjang menarik Dara agar bersandar di dadanya. “Jangan terlalu dipikirkan, kamu sudah dengar kan penjelasan Raisa juga Dokter Anak tadi?” Wira mengangsurkan tangannya mengelus lembut dari bahu hingga sebatas siku Dara secara konstan dan berulang.


“Semoga aku bisa secepatnya menyusui langsung bayi kita, dan juga aku ingin mendekapnya lebih lama,” desah Dara yang kemudian menarik napas dalam.


“Untuk sekarang bersbarlah, sayang. Kita berdo’a dan berusaha agar kondisimu juga buah hati kita semakin baik sehingga kita bisa segera memeluknya sepuasnya,” hibur Wira seraya mengecup kening Dara sekilas.


“Oh iya, kita belum memberi nama pada putri kita. Aku sebetulnya sudah menyiapkan beberapa nama sebelumnya,” ucap Dara menengadah menatap suaminya, terdengar nada penuh semangat dari kata-katanya.


“Benar juga. Akhh… karena terlalu banyak hal yang terjadi secara tiba-tiba membuatku melupakan hal sepenting ini.” Wira mengusap wajahnya.


“Maaf, membuat Mas khawatir,” ujar Dara sendu lalu menunduk dalam.


“Heyy… yang penting kalian semua selamat. Hanya itu yang kuinginkan.” Wira mengusap lembut puncak kepala Dara penuh sayang. “Aku juga punya beberapa nama yang kutulis di agenda kerjaku, nanti kubawakan catatanya dan kita pilih bersama untuk menentukan nama yang tepat. Bagaimana?” usulnya sembari mengulas senyum.


*****


Haris dan Wira sudah berada di ruangan pribadi Wira di rumah sakit, duduk saling berhadapan dengan ditemani dua cangkir teh melati yang masih mengepul. Sedangkan Ratih sedang berada di kamar perawatan Dara, dia sedang memberi petuah juga wejangan tentang segala sesuatu yang berhubungan dengan bayi juga apa saja yang harus diperhatikan wanita yang baru melahirkan.


“Wira, ayah sudah menemukan seseorang yang menjadi tersangka atas insiden terjatuhnya Dara di rumah sakit," ucap Haris pelan.


Wira yang sedang hendak menyesap tehnya langsung menghentikan pergerakannya, menaruh kembali cangkir tersebut dan memokuskan perhatiannya kepada sang ayah.


“Siapa? siapa orangnya? Berani-beraninya mencelakai anak dan istriku!” Wira tampak luar biasa geram dengan rahang mengetat juga sorot mata berkilat tajam.


“Dari rekaman CCTV, tiga puluh menit sebelum kejadian hanya ada petugas cleaning servis yang masuk dan keluar dari sana. Sepuluh menit berselang masuklah seorang wanita ke toilet tersebut dan lima menit berikutnya datanglah Dara yang juga masuk ke sana. Beberapa saat kemudian wanita yang tadi masuk itu keluar tergesa-gesa dengan gerakan mencurigakan. Setelah lima belas menit berlalu datanglah dua orang cleaning servis yang masuk ke sana, kemudian yang satunya langsung menghambur keluar sambil berteriak. Jadi hanya wanita yang masuk sebelum Dara yang dicurigai sebagai tersangka terkuatnya. Dan kamu tahu siapa wanita itu?”


“Siapa?” tanyanya lagi.Wira mengepalkan tangannya hingga buku-bukunya memutih sedari tadi sambil menyimak penjelasan Haris.


Terdengar embusan napas berat dari Haris sebelum mengucapkan kalimatnya.


“Ibunya Michelia.”