
Dihubunginya kembali bibinya Dara untuk menanyakan informasi yang lebih mendetil. Wira tercengang, dunia begitu sempit. Ternyata Ibunya Dara berada di Jakarta, dirawat inap di rumah sakit tempatnya bekerja. Keesokan harinya Dara datang ke rumah sakit diantar Pak Jono setelah makan siang, mencari waktu senggang suaminya di sela-sela jadwal padatnya.
“Kamu siap,” tanya Wira. Ia menggenggam tangan Dara meremasnya lembut memberi kekuatan. Mereka kini sudah berada di gedung perawatan intensif yang khusus diperuntukan bagi para pasien pengidap kanker di rumah sakit tersebut.
“Iya, Mas.” Dara mengangguk pelan sembari menelan ludahnya gugup. Bahkan telapak tangannya terasa sedingin es.
“Ayo.”
Wira menghela Dara melangkah ke dalam gedung, hingga sampailah mereka di pintu sebuah kamar perawatan intensif di lantai tiga. Sebelum masuk mereka diminta untuk memakai pakaian khusus sesuai protokol rumah sakit. Wira juga memastikan kembali informasi dari Bibinya Dara mengenai nomor kamar. Setelah yakin benar ia memutar gagang pintu dan masuk ke dalam.
Dara masih mematung di ambang pintu menatap tulisan di kertas yang terselip di dekat nomor kamar.
Nyonya Aruna.
Jadi, nama ibuku adalah Aruna, batinnya. Ini adalah kali pertama Dara mengetahui nama ibu kandungnya.
Wira menatapnya lembut, memberi isyarat untuk masuk ke dalam dan meyakinkan bahwa semuanya akan baik-baik saja. Ternyata di dalam sana sudah ada Bibinya Dara. Wanita setengah baya yang rambutnya mulai memutih itu bangkit dari duduknya ketika melihat kedatangan Wira dan Dara.
“Kamu… datang, Nak. Dara,” panggilnya dengan bibir gemetar. “Kamu be-benar… Anandara? aku bibimu, saudara kandung ayahmu.”
Si cantik bermata indah itu mengangguk pelan, ekspresinya datar tak terbaca. Dara tampak seperti orang linglung, berbagai rasa bersatu padu tak selaras saling tumpang tindih berkecamuk tak karuan di dadanya.
“Maafkan Bibimu ini, Nak. Aku saudara yang tak berguna,” ucap wanita itu seraya terisak. Dia mengulurkan kedua tangannya ingin memeluk Dara. Awalnya Dara ragu, tetapi kemudian ia menerima uluran itu dan membiarkan dirinya dipeluk.
“Terima kasih telah sudi datang, Dara, Nak Wira. Bibi baru mengetahui keberadaan Ibumu beberapa minggu yang lalu setelah seseorang datang ke rumah dan menyampaikan pesan bahwa Aruna, Ibumu sakit keras. Lihatlah dia.”
“Dia hanya ditunggui oleh seorang pelayan, dan pelayan itulah yang mendatangi rumah Bibi atas permintaan ibumu. Dia sangat ingin bertemu denganmu dan juga ingin meminta maaf padamu, Dara,” jelasnya. “Suaminya sudah tak peduli lagi padanya. Menurut keterangan dari pelayan tersebut, suaminya menikah lagi dengan wanita lain karena Aruna tak kunjung mempunyai anak. Dan setelah dinyatakan sakit dia seolah dibuang dan hanya ditemani pelayan.”
Dara masih membisu tak berucap sepatah kata pun. Wira yang berdiri di belakang Dara meremas bahunya lembut. “Sayang. Ayo, temui ibumu.”
Ia menoleh kepada Wira sebelum akhirnya melangkah semakin mendekat ke ranjang pesakitan tersebut. Bibinya juga ikut mendekat di sisi lainnya, dia menyentuh lengan kurus Aruna dan menepuknya lembut.
“Aruna, Anakmu sudah datang. Bangunlah,” bisiknya pelan.
Wanita yang terbaring lemah itu mengerjap perlahan. Cekungan matanya sangat dalam, ia meneyesuaikan cahaya yang masuk ke matanya sebelum akhirnya terbuka sempurna.
“Aruna, ini Anakmu. Dara, Anandara. Bayi yang dulu kau serahkan padaku.”
“A-Anakku… Dara?” Mata redupnya melihat Dara dengan tatapan sejuta rasa bersalah.
“Iya, Aruna. Dia Anakmu,” sahut bibinya lagi.
“Dara.” Tangan lemahnya terulur naik ingin menjangkau wajah cantik yang berdiri di sisi ranjangnya. Secara impulsif Dara menyondongkan tubuhnya mendekat, menyambut uluran tangan itu hingga menyentuh pipinya.
“Anakku… Anakku, maafkan dosa-dosa Ibu, Nak. Ibu telah banyak bersalah padamu. Maafkan Ibu,” lirihnya lemah diiringi butiran bening yang luruh dari sudut matanya.
Saat tangan ibunya menyentuh pipinya, sebuah getaran hebat mengguncang jiwanya. Dara yang sejak tadi tak bersuara mulai membuka mulutnya yang terkatup rapat, air matanya jatuh lebih dulu sebelum akhirnya ia berucap dengan suara tersendat.
“I-Ibu….”