You Are My Sunshine

You Are My Sunshine
Part 244



Sejak berangkat dari rumah Wira terus merasakan suatu firasat yang entah mengapa membuatnya tak tenang. Ia berusaha mengenyahkan semua itu dan hanya menganggapnya efek dari rasa gugup serta antusiasnya berhubung siang ini akan dilangsungkan presentasi hasil dari tesisnya bersama rekan-rekan sejawatnya.


Para pasien yang berobat ke poli jantung pagi ini ditangani oleh salah satu rekan dokternya karena Wira harus fokus mempersiapkan segala sesuatunya dengan matang untuk presentasi nanti siang yang akan dihadiri oleh para petinggi rumah sakit juga para petinggi dari kementerian kesehatan di negeri ini.


Ia belum sempat memeriksa ponselnya yang ditaruh di meja kerja ruangan pribadinya, Wira sibuk mondar-mandir dari laboratorium ke ruang arsip untuk memastikan semuanya disiapkan dengan sempurna.


"Dokter, pukul sepuluh acaranya akan dimulai." Fatih yang juga ikut membantu persiapan segera mengingatkan Wira begitu melihat jam tangannya menunjuk ke angka sembilan lebih lima puluh menit.


"Oke, semuanya bersiap ke aula rapat sekarang." Wira segera melangkahkan kakinya bersama rekan-rekannya menuju ke sebuah ruangan yang dipersiapkan untuk pertemuan hari ini.


*****


Sudah pukul sebelas, tetapi mobil putih tersebut masih juga belum selesai diperbaiki. Dara yang menunggu di ruang tunggu bengkel mengembuskan napasnya putus asa, ia lalu kembali berjalan menghampiri Pak Jono yang sedang berbincang dengan salah satu pekerja di sana.


"Kira-kira kapan selesainya? bisakah dipercepat?" ucap Dara.


Rekannya juga ikut menimpali, sesuai permintaan Pak Jono yang memohon kepada temannya itu agar membantunya untuk menggagalkan rencana nyonyanya yang tidak sesuai dengan perintah tuannya. Beruntung temannya mengerti ketika Pak Jono menjelaskan duduk permasalahannya, sehingga dia bersedia membantu untuk mengulur waktu.


Dara melirik jam tangannya, sebentar lagi waktunya makan siang akan tiba, jika setelah mobil diperbaiki dan memaksakan tetap pergi sudah pasti mereka akan kembali malam hari. Dara kembali ke ruang tunggu dan duduk di sana.


"Nyonya, sebaiknya sekarang kita mencari tempat makan siang. Anda tidak boleh telat makan agar kondisi tetap terjaga." Bu Rina mengingatkan dengan nada membujuk lembut namun menuntut persis seperti seorang ibu membujuk anaknya yang sedang merajuk. Bagaimanapun juga Dara masih sangatlah muda, ia memaklumi jika sifat kekanak-kanakan adakalanya masih muncul sesekali pada diri nyonya mudanya.


Memang benar apa yang dikatakan Bu Rina, perutnya sudah berbunyi minta diisi ulang, ditambah si kecil yang sedari tadi terus bergerak aktif tak seperti biasanya membuat Dara mulai merasa kelelahan.


"Kita pulang saja. Aku hanya ingin makan masakan Bu Rina di rumah." Dara kembali melembut, menyerah dan memilih untuk pulang karena waktu sudah tak memungkinkan lagi.


Bu Rina mengucap syukur dalam hati karena akhirnya Dara mengurungkan niatnya, wajahnya yang asalnya tegang kini kembali lega. Bu Rina mengirim pesan singkat kepada Pak Jono yang menyatakan bahwa semuanya sudah aman terkendali. Tak berapa lama Pak Jono masuk ke ruang tunggu dan mengabarkan bahwa kendaraan telah selesai diperbaiki.


Pak Jono dengan semangat memutar arah dan memacu mobil putih tersebut kembali ke rumah. Tak lupa ia juga mengirimkan pesan teks kepada Wira tentang Dara yang tak jadi meneruskan niatnya pergi ke luar kota.