
Giovani mengikuti arah pandang salah satu perampok itu dengan sudut matanya, seketika amarahnya tersulut, layaknya api dilemparkan ke dedaunan kering yang telah di siram bensin. Raut wajahnya langsung menggelap, dan tanpa pikir panjang lagi dia melayangkan tinjunya karena tidak terima gadisnya dipindai dengan tatapan melecehkan.
Terjadilah baku hantam yang tidak seimbang, Almira hanya bisa menjerit-jerit ketakutan melihat Giovani dipukuli membabi buta oleh empat orang lelaki dewasa. Gadis itu beringsut dan mengedarkan pandangannya mencari benda apapun yang bisa dipakai memukul untuk menolong kekasihnya.
Ditengah suasana yang mencekam itu, Almira melihat beberapa lampu mobil berpijar dari kejauhan mendekat kearahnya. Mereka adalah teman-temanya Giovani yang bermaksud membawakan bahan bakar sesuai isi pesan singkatnya.
Beruntung teman-temannya yang datang cukup banyak, tanpa menunda lagi mereka semua menyerbu kawanan penjahat itu dengan mengunakan tongkat bisbol yang ada di dalam mobil. Baku hantam tak terelakkan, semua penjahat yang menyerang berhasil dilumpuhkan dan langsung di ringkus oleh petugas polisi yang dihubungi oleh salah satu teman Giovani.
Namun, Giovani mengalami luka parah, entah berapa banyak tulangnya yang patah ditambah sebuah tusukan di pinggangnya. Pemuda itu langsung dilarikan ke rumah sakit saat itu juga. Sepanjang perjalanan ke rumah sakit, Almira yang ikut mendampingi di dalam ambulans tak henti-hentinya meraung dan menangis sejadi-jadinya seperti orang gila melihat sang kekasih terkulai lemas bersimbah darah.
Teman-temannya menghubungi orang tua Giovani dan memberitahukan keberadaan serta keadaan putra mereka. Tak butuh waktu lama, Ayah dan Ibunya datang ke rumah sakit setelah mendengar kabar buruk yang menimpa putranya.
Kedua orang tuanya menghambur masuk ke ruang gawat darurat untuk melihat keadaannya, dokter menjelaskan panjang lebar, membuat ibunya menangis histeris melihat Giovani yang hampir saja meregang nyawa.
Semuanya menatap ke arah Gadis yang masih sesenggukan duduk di kursi tunggu paling pojok dekat pintu masuk unit gawat darurat, lututnya terluka, pakaiannya kotor oleh tanah dan rumput kering, dengan wajah sembab disertai air mata yang terus mengalir.
Ibunya Giovani menghubungi seseorang dan meminta keterangan sebanyak-banyaknya tentang Almira, lalu ia menghampiri gadis itu.
"Kamu benar pacarnya Giovani? saya adalah Ibunya," ucapnya.
Almira mendongak, tubuhnya langsung luruh dan bersimpuh di kaki wanita itu sambil meraung-raung meminta maaf bahwa semua yang terjadi pada putranya adalah karenanya. "Maafkan saya Tante, karena saya meminta Giovani untuk berkendara hingga keluar dari kota dan tak disangka malah berakhir begini," ucapnya di sela-sela Isak tangisnya.
Tanpa diduga, sebuah tamparan keras mendarat di pipi mulusnya, Almira terhenyak, tangannya menangkup pipinya yang terasa panas dan perih bekas jejak telapak tangan ibunya Giovani.
"Puas kamu? dasar gadis desa! Kamu pasti sengaja merayu Giovani kan? putraku adalah anak yang penurut, tetapi kamu membawa pengaruh buruk terhadapnya hingga dia melanggar peraturan yang dipatuhinya selama ini. Kamu telah menghancurkan masa depannya! Bahkan walaupun sembuh anakku tidak akan pernah bisa menjadi seorang anggota militer. Dia adalah anak laki-laki satu-satunya yang hendak disiapkan untuk mengikuti jejak ayahnya, tapi sekarang entah berapa banyak jumlah tulang yang patah di tubuhnya. Walaupun nantinya sembuh, tapi dengan keadaan seperti itu dia tidak akan lulus memasuki akademi kemiliteran dan semuanya gara-gara kamu!" hardiknya dengan amarah yang menyala-nyala.