You Are My Sunshine

You Are My Sunshine
Part 175



Halo my beloved readers, terima kasih banyak atas apresiasi dan dukungan kalian untuk ceritaku ini. Jangan lupa budayakan tinggalkan jejak kalian setelah membaca berupa like, komentar, serta vote seikhlasnya. Dukungan kalian selama ini melalui like, vote poin serta koinnya dan juga komentar positif membuatku semakin semangat menulis.


Selamat membaca....


😘💕


*****


Teh madu lemon pesanannya diminumnya hingga isi gelasnya tandas setelah menghabiskan semangkuk bubur, sementara makanan lainnya masih tersaji utuh di piring karena Dara merasa perutnya sudah sangat kenyang.


Wira baru memakan sarapannya setelah selesai menyuapi Dara, tetapi kemudian Dara menggeser piring cakwe, kroket dan pisang kejunya ke hadapan suaminya.


"Ini semuanya buat Papa, harus dimakan ya," pintanya dengan wajah tanpa dosa. Padahal tadi dirinya sendiri yang memesan akibat lapar mata, tetapi kini Wira lah yang menjadi sasaran.


Dokter tampan itu tersedak kopinya karena lagi-lagi di hadapkan dengan keinginan ibu hamil yang sering tak terduga. Dara segera menyodorkan segelas air putih yang tersaji di meja mereka.


"Mas makannya pelan-pelan dong. Laper banget ya kayaknya," cicitnya sambil menepuk-nepuk lembut punggung Wira.


"Nggak juga kok, ini malah udah kenyang," sahutnya tetap tenang, salah bicara sedikit saja bisa-bisa istrinya itu merajuk dan tak mau berdekatan lagi dengannya.


"Tapi makanannya masih banyak, ini dedeknya lho yang pengen Papa ngabisin semuanya." Dara mulai mengerucutkan bibirnya, hormon kehamilan dalam dirinya terkadang naik turun secara drastis bak roller coaster.


"Sayang, aku membatasi asupan makananku karena harus menjaga kondisi tubuh agar selalu sehat dan prima, terutama untuk menunjang profesiku yang menuntutku untuk siap menghadapi hal apapun sewaktu-waktu. Lagipula bukankah aku juga harus tetap sehat agar bisa selalu menjagamu dan bayi kita hmm?" bujuknya selembut mungkin.


Wira memberi alasan sebagai penolakan halus berharap Dara bisa luluh. Ia benar-benar sudah sangat kenyang, jika ditambahkan lagi makanan lain untuk ikut mengisi perutnya mungkin di dalam sana akan terjadi pergulatan antara si roti dengan gorengan seta pisang keju karena muatannya overload.


Dara tampak menimbang-nimbang, setelah beberapa saat akhirnya dia mengangguk tanda mengerti. Namun, kemudian tangannya mengambil sepiring pisang keju di meja dan dengan menggunakan garpu ia menyodorkannya ke hadapan mulut Wira.


Wira mengulum senyum penuh pemakluman dan menatap Dara dengan sayang, istrinya ini ternyata begitu gigih agar keinginannya dipenuhi.


"Baiklah, ayo suapi aku."


Begitu mendengar persetujuan Wira Dara langsung tersenyum merekah dan segera menyuapi pria tampan yang duduk disebelahnya dengan gembira.


Mereka seolah tak ingat sedang berada di tempat umum dan ada banyak pasang mata yang tertuju ke arahnya. Cinta memang membuat dunia dan seisinya serasa hanya milik berdua, kemesraan dua sejoli ini benar-benar menguar dan menyilaukan sekitarnya.


*****


Sekarang ini Wira sedang berjalan melewati lorong panjang sisi kanan rumah sakit hendak ke ruangannya untuk memulai pekerjaannya. Tampak Dara juga ikut serta bersamanya, Wira mengajaknya untuk menunggu di ruangan pribadinya sebelum Pak Jono tiba untuk menjemput.


Setelah sarapan tadi ia memeriksa dulu keadaan ibunya dan Ratih sudah bisa dipulangkan hari ini juga. Awalnya Dara bersikeras ingin menemani Ratih hingga waktunya pulang, tetapi Haris dan Ratih membujuk Dara agar pulang saja ke rumah, menurut kedua orang tua itu berlama-lama di rumah sakit bukanlah ide yang bagus.


Ratih menyarankan kepada Dara sebaiknya lebih memperhatikan kesehatan selama kehamilannya dan tumbuh kembang si jabang bayi. Mereka khawatir, mengingat di rumah sakit banyak sekali bakteri serta virus yang terbawa pasien sakit dari luar dan bisa saja mengkontaminasi tubuh Dara.


Wira membuka pintu ruangan pribadinya dan menghela pinggang Dara untuk ikut masuk, tetapi tiba-tiba ia mendorong tubuh Dara dengan lembut hingga bersandar di tembok dan memerangkapnya tepat setelah pintu tertutup.


"Ada apa Mas?" Dara mengerutkan keningnya dan mengedip-ngedipkan mata indahnya.


"Sejak semalam aku belum mendapatkan jatahku. Jadi sekarang aku ingin sedikit saja semangat pagi darimu," bisiknya serak ke telinga Dara sembari mengembuskan napas hangatnya.


Si cantik itu membulatkan matanya saat mengerti apa yang dimaksud Wira, tanpa menunggu lagi pria itu sudah menyelipkan bibir panasnya di kehangatan dan kelembutan bibir Dara, mencecap rasa manis nan memabukkan yang seakan tak pernah cukup meskipun ia mencicipinya setiap kali ada kesempatan.