
Seorang wanita paruh baya baru saja tiba di area dapur rumah besar Aryasatya, itu adalah kepala pelayan dapur yang pernah ditugaskan Ratih untuk menggantikan Bu Rina di rumah Wira. Dia baru saja kembali dari desa setelah beberapa hari terakhir meminta izin pulang untuk menjenguk keluarganya yang sakit.
Ia menyeringai ketika melihat kehadiran Dara di dapur, si cantik berambut coklat itu tengah meminta pelayan untuk mengarahkannya membuat pancake favorit Ratih. Ini adalah pemandangan langka, menantu yang dibenci Ratih tiba-tiba ada di dapur rumah ini sudah pasti untuk sebuah alasan, pikirnya.
Pasti Nyonya besar membawanya ke sini untuk menindasnya, ini menyenangkan.
"Kalian tidak usah membantunya, biarkan dia mengerjakannya sendiri!" perintahnya kepada para pelayan dapur yang berada di sana.
"Ta-tapi Bu," sanggah seorang pelayan yang berdiri di samping Dara.
Dara yang sedang fokus mengaduk langsung mengangkat wajahnya ketika mendengar seruan wanita itu, tetapi ia malah tersenyum senang karena diizinkan untuk berkutat di dapur karena sejak tadi pelayan lainnya terus membujuknya dan memintanya untuk duduk saja.
"Ah... terima kasih karena telah mengijinkanku untuk memberantakkan dapur. Aku akan membuatnya sendiri, tuliskan saja resepnya," pintanya bersemangat kepada pelayan yang sedang menakar tepung.
"Ba-baik... Nona," jawab mereka ragu-ragu sembari saling melempar tatapan kebingungan. Setelah menuliskan resep yang diminta Dara mereka undur diri mengerjakan pekerjaan yang lain sesuai perintah wanita paruh baya tadi.
"Sekalian kamu buatkan juga kopi pahit untuk Tuan Haris dan juga teh hijau untuk Nyonya Ratih," serunya dengan angkuh kepada Dara.
"Baik... akan kubuatkan," sahutnya gembira. Dara sama sekali belum menangkap maksud si kepala pelayan dapur yang ingin merendahkannya.
"Di mana hidangan yang lainnya?" tanya si wanita itu.
"Semuanya sudah di bawa ke ruang makan, hanya saja kudengar ibu sangat menyukai pancake yang disiram saus stroberi, jadi aku memutuskan untuk membuatnya," ucap Dara.
Senyuman tak henti-hentinya merekah di wajah cantiknya, bahkan ada tepung yang mengenai wajahnya ketika dia membetulkan rambutnya menggunakan tangannya di sela-sela membuat adonan pancake.
Setelah adonan jadi, Dara menyalakan kompor dan meletakkan teflon. "Maaf, bisakah mengarahkanku bagaimana cara memastikan kematangan pancakenya," pinta Dara.
"Tentu saja, kamu itu padahal bukan tuan putri dari keluarga kaya, tapi memasak hal sepele seperti ini saja tidak bisa," decaknya meremehkan.
"Oh... it-itu sebelumnya aku memang jarang berkutat di dapur karena lebih fokus mengerjakan tugas kuliah. Tapi sekarang aku sudah sering belajar memasak kepada Bu Rina di rumah," kata Dara dengan suara pelan, sebenarnya ia mulai tak nyaman karena nada bicara kepala pelayan terasa memojokkannya.
Dara mengangguk dan tetap tersenyum sedangkan wanita itu memasang raut wajah sombong luar biasa. Dara mulai menuang adonan ke atas teflon, setelah dirasa matang dia bertanya kembali.
"Apakah ini sudah cukup matang," tanya Dara dan dijawab dengan anggukan tipis oleh kepala pelayan dapur.
Dara mematikan kompor lalu mengambil piring. Tanpa sengaja lengannya menyenggol cangkir porselen mahal yang tadi disiapkannya untuk menyeduh kopi dan teh.
Prang....
Kedua cangkir tersebut jatuh ke lantai hingga pecah membuat Dara terkejut disusul teriakan si pelayan.
"Dasar tidak becus! Mengerjakan hal gampang saja kamu tidak bisa. Ini adalah cangkir mahal favorit Nyonya Ratih," bentaknya dengan mata membeliak sambil menunjuk-nunjuk Dara.
"Ma-maaf, a-aku... tidak sengaja." Dara terperanjat kaget karena memecahkan cangkir dan juga karena dibentak seperti itu.
"Bersihkan semuanya!" titahnya sambil berkacak pinggang.
Dara berjongkok sembari sebelah lengannya memeluk piring sedangkan tangan yang satunya lagi memunguti pecahan cangkir. Dengan jemari yang gemetar ia mulai mengambil satu persatu pecahan yang tercecer, kemudian terdengar suara langkah kaki yang memasuki dapur dan itu adalah Ratih.
Tampaklah Dara yang sedang berjongkok dengan wajah pucat serta si kepala pelayan dapur yang tengah berkacak pinggang. Melihat pemandangan semacam itu Ratih langsung terkesiap, ia mempercepat langkahnya hampir setengah berlari.
"Apa yang terjadi?" tanya Ratih sengit.
"Dia memecahkan cangkir kesayangan Anda, Nyonya. Jadi saya memberinya pelajaran," sahutnya penuh percaya diri.
Plak....
Sebuah tamparan mendarat mulus di pipi si pelayan, membuatnya terheran-heran sembari memegangi pipinya. "Nyo-Nyonya?"
"Memangnya siapa kamu hah? berani-beraninya kamu berbuat seperti itu pada putriku!" suara Ratih menggema murka memenuhi seluruh ruangan.