
Wira tak dapat memejamkan matanya, padahal ini sudah tengah malam. Rasa kantuk tak kunjung menyapa, malah semakin malam matanya kian nyalang.
Pria itu bangun dari posisinya berbaring sepelan mungkin dengan hati-hati agar tak membangunkan Dara. Ia lalu berpindah ke sofa dan mengotak-atik ponselnya menghubungi seseorang.
"Mulai besok, buntuti istriku kemanapun dia pergi dan laporkan segala aktivitasnya padaku!" perintahnya.
Wira mematikan panggilannya, ditatapnya wajah cantik yang selalu mengisi relung hatinya itu. Ia sangat cemas karena Dara yang biasanya riang kini bersikap berbeda. Hatinya ikut merasakan bahwa ada hal yang menganggu pikiran istrinya.
*****
Sudah dua hari setiap pagi Dara merasa mual hingga muntah-muntah hebat. Bahkan kemarin lusa dia pulang lebih awal dari kampus karena mualnya tak kunjung membaik meskipun ia mengkonsumsi obat anti mual yang diberikan Raisa.
Wira sampai memanggil Raisa datang ke rumah untuk memeriksa kondisi Dara. Meskipun Wira juga seorang dokter, tetapi soal kandungan dia bukanlah bidangnya. Raisa mengatakan bahwa itu adalah hal biasa pada trimester pertama kehamilan, hanya menyarankan agar Dara beristirahat dan tidak boleh terlalu stress.
Raisa hanya mengira bahwa Dara stress tentang tugas kuliahnya, padahal yang mengganggunya bukanlah itu. Efek dari pikirannya yang terus berkecamuk sepertinya membuat hormon kehamilannya kacau balau dan selera makannya ikut menurun, sehingga menyebabkan rasa mualnya bertambah berkali-kali lipat dari biasanya.
"Istirahatlah di rumah sayang, jangan memaksakan diri berangkat ke kampus. Aku takkan pergi bekerja dan akan di sini menemani," Wira menata bantal agar istrinya bisa berbaring dengan nyaman.
Dara baru saja kembali muntah dengan hebatnya pagi ini. Wira selalu menemani di kamar mandi setiap kali ia muntah sambil memijat tengkuknya hingga membasuh mulutnya. Wira sungguh prihatin melihat kondisi Dara, mengandung buah hatinya ternyata bukanlah hal mudah.
"Maafkan aku sayang. Karena mengandung anakku kamu jadi sampai seperti ini," ucapnya merasa bersalah. Wira meraih tangan dara dan mengecupnya.
"Mas, bolehkah aku meminta Freya dan Anggi datang kemari," pintanya.
"Tentu saja boleh, apa perlu aku yang menghubungi mereka?" tawar Wira.
"Nggak usah Mas biar aku aja. Aku tiba-tiba saja kangen mereka dan ingin bercengkrama."
"Baiklah sayang. Sekarang buka mulutmu. Meskipun mual kamu harus tetap mengisi perutmu agar nutrisi tubuhmu dan juga buah hati kita tetap terpenuhi."
Wira membawa nampan yang berisi biskuit butter nan harum, kepingan coklat lezat serta teh jahe madu yang dipercaya ampuh mengurangi mual pada ibu hamil. Ia menyuapi Dara dengan telaten, meskipun tak habis setidaknya ada makanan yang masuk untuk mengisi lambung istrinya itu.
*****
Sepulang kampus Freya langsung menuju ke kediaman Dara, sedangkan Anggi tidak ikut dikarenakan ada hal keluarga yang mendesak. Padahal fakta yang sebenarnya adalah karena Anggi masih belum sanggup menerima kenyataan bahwa pria yang ditaksirnya kini telah menjadi suami sahabatnya sendiri.
Wira mempersilakan Freya masuk ke kamar utama untuk menemui Dara ketika si gadis tomboi itu tiba. Ia sedikit demi sedikit merasa lega melihat Dara yang tersenyum ceria karena kedatangan sahabatnya.
Dokter tampan itu tiba-tiba mendapatkan panggilan telepon penting dari rumah sakit mengenai beberapa pasien yang ditanganinya. Karena ada Freya yang menemani Dara, ia memutuskan datang ke rumah sakit barang sebentar saja untuk menyelesaikan pekerjaan mendesaknya.
Wira berpamitan dan segera beranjak pergi dari sana. Namun, tanpa kedua wanita itu ketahui Wira menaruh penyadap suara dan kamera pengintai di kamar itu, berharap Dara bercerita kepada Freya tentang hal yang menganggu pikirannya karena sampai saat ini Dara masih bungkam terhadapnya.