You Are My Sunshine

You Are My Sunshine
Part 276



Dua minggu kemudian mereka berangkat berlibur. Tujuan liburan kali ini adalah Swiss, Wira memilih pergi ke sana karena Dara pernah mengatakan belum pernah melihat salju sebelumnya. Bu Rina dan salah seorang pelayan dari rumah besar dibawa serta dalam liburan keluarga Aryasatya kali ini.


Swiss seolah tak terpisahkan dengan panorama menakjubkan Pegunungan Alpen dengan salju abadinya, juga kota Zurich yang terkenal dengan udara bersihnya serta sejumlah tempat wisata terkenal lainnya membuat Swiss menjadi destinasi liburan yang sangat ideal.


Setelah kurang lebih sembilan belas jam penerbangan, tibalah mereka di Bandar Udara Internasional Zurich. Mereka tiba sekitar pukul sepuluh pagi waktu setempat. Selena tidak rewel sama sekali meskipun pesawat harus transit satu kali. Saat turun dari pesawat Selena yang tertidur di dekapan Wira berbalut jaket tebalnya terbangun dan mengerjapkan mata, meskipun udara dingin karena bertepatan dengan awal musim dingin di Swiss, sepertinya bayi itu tetap antusias dalam liburan pertamanya.


Seperti biasa aura cemerlang Wira begitu menyilaukan, rupa ragawinya yang terpahat sempurna selalu memesona di manapun berada. Dengan sweater turtle neck warna hijau lumut dipadu celana panjang warna khaki serta mantel senada, dilengkapi kacamata hitam yang bertengger di wajah tampannya mampu membuat semua mata terutama kaum hawa tertuju padanya, apalagi dengan Selena dipangkuannya, menambah kesan seksi sebagai hot daddy melekat padanya.


Sang istri yang digandengnya juga tak kalah memukaunya. Dara mengenakan celana jeans dipadu atasan berkerah tinggi warna hitam dan mantel sewarna dengan yang dipakai Wira, dilengkapi sepatu boots warna hitam dan rambut coklat indahnya yang bergelombang dibiarkan tergerai.


Sesekali Dara mendengus dengan kilatan tajam di matanya, ketika beberapa wanita bule menggerling genit kepada Wira. Bibirnya komat kamit sendiri mengumpat pelan dengan geram kepada semua mata yang menatap lapar pada suaminya. Wira hanya terkekeh geli melihat istrinya mirip induk ayam yang siap mencakar, sedangkan dirinya tetap santai karena reaksi semacam itu sudah biasa baginya.


Mereka langsung menuju resort yang telah dipesan sebelumnya. Mereka menginap di salah satu resort dengan fasilitas terbaik dilengkapi restoran kualitas Michelin, juga fasilitas spa menggiurkan ikut ditawarkan di sana.


Sesampainya di resort, dua sejoli itu masuk ke kamar mereka. Dara membaringkan bayi mungilnya yang tertidur ke atas ranjang lalu menyusul merebahkan diri di samping Selena. Wira juga ikut naik ke peraduan dan memeluk Dara dari belakang, bertumpu pada siku ia menggunakan salah satu tangannya menopang kepalanya.


“Istirahatlah, kamu pasti lelah, masih ada waktu kurang lebih satu jam sebelum makan siang,” ucapnya lalu mengecup mesra pipi mulus Dara, kemudian meneggelamkan wajahnya di ceruk leher Dara dan menghidu aroma menyenangkan tubuh istrinya yang selalu berhasil menyihirnya.


“Mas.”


“Hmm.” Wira menyahut dengan gumaman.


“Untuk?’ Wira mengernyit tak mengerti.


“Biar para cewek-cewek nggak jelalatan. Gak di Jakarta gak di sini semuanya sama aja!” Dara bersungut-sungut kesal.


“Kamu cemburu ya?” sahut Wira dengan nada setengah mengejek sambil menipiskan bibirnya.


“Iya, aku cemburu! Kenapa, nggak boleh?” serunya ketus.


Wira tergelak kencang kemudian menggesekkan rahangnya di sisi wajah Dara. “Perlu kamu tahu, sejak dulu aku tak bisa menghindari situasi semacam itu. Tapi seperti apapun mereka menggodaku itu takkan berpengaruh padaku. Karena milikku hanya bereaksi padamu.” Wira meraih tangan Dara dan membawanya ke bukti gairahnya dengan gerakan sensual menggoda, membuat Dara membelalak dan menarik tangannya cepat.


“Ish Mas,” pekiknya. “Dasar mesum!”


Lagi-lagi Wira tertawa renyah lalu kembali merengkuh Dara ke dalam dekapannya. “Berdekatan denganmu otakku selalu buntu karena tergila-gila akan kehangatanmu,” bisiknya parau.


Wajah Dara merebak merah merona, meskipun terkadang suaminya itu berkata vulgar kepadanya entah mengapa ia malah menyukainya, merasa selalu diinginkan. Tangan Wira mulai nakal dan menggerayangi tubuhnya, saat hendak menyelusup ke dalam pakaiannya, Selena kembali terbangun dan merengek meminta disusui membuat Wira terpaksa menyudahi acara penjelajahannya.