You Are My Sunshine

You Are My Sunshine
Bab 4



Rokok lintingan Yanti dinyalakan satu demi satu. Sepanjang proses percakapan yang diiringi kabut berasap, dia hanya menatapku dengan serius dua kali. Dalam hal ini, kami menunjukkan sikap yang sama. Kami sama-sama tidak menganggap satu sama lain sebagai kerabat, melainkan hanya korban yang mengalami tragedi anak tertukar.


Tangan Yanti sangat kasar, begitu kasar hingga setiap kerutan kulitnya terlihat gelap. Rambut-rambut di bagian pelipisnya sudah memutih. Dibandingkan dengan ibu angkatku, meskipun mereka berdua seumuran, tapi kondisi mereka benar-benar jauh berbeda. Namun, pikiran Yanti masih sangat jernih. Dia tahu maksud kedatanganku hari ini, juga tahu bahwa aku tidak berniat kembali sebagai anaknya.


Dia langsung terjun ke dalam inti pembicaraan. Setiap kata-katanya ditujukannya kepada Vivi, "Jangan lihat aku dengan tatapan seperti itu. Sebelum orang tua kandungmu datang cari kamu, aku dan ayahmu sama sekali tidak tahu permasalahan anak tertukar ini. Kamu juga jangan merasa kesal dengan hidupmu selama 20-an tahun ini. Kamu bisa hidup sampai sekarang juga karena ada aku yang membesarkanmu. Sekarang kamu mau putus hubungan dengan kami? Boleh. Tapi, kamu harus melunasi hutang-hutangmu dulu. Tahun lalu kamu berjanji kalau kamu akan menikah dengan Hardi dari desa sebelah. Aku sudah terima maskawin sebanyak 200 juta dari mereka. Semua itu sudah habis dipakai untuk melunasi hutang adikmu. Kalau kamu mau membatalkan pernikahan ini, setidaknya kamu harus kasih aku 200 juta dulu."


Kata-kata Yanti sangat jelas. Dia bersedia melepaskan Vivi hanya jika kami menyerahkan 200 juta sebagai gantinya.


Vivi yang duduk di seberang menahan air mata. Bekas lima jari yang memerah masih samar-samar terlihat di wajahnya. Dia tidak bersuara. Matanya sudah sepenuhnya merah.


Aku berkata, "Setelah kami serahkan 200 juta, kalian akan biarkan dia pergi dengan kami, benar?"


"Iya! Serahkan uang 200 juta, kemudian jelaskan kepada Hardi tentang hal ini!” Mata Yanti seketika berbinar, “Ngomong-ngomong, tadi Vendi dibawa polisi lagi, kan? Kalian sekaligus keluarkan Vendi dari penjara. Kalau kalian punya hati nurani, sekaligus sembuhkan kaki Herman juga. Aku sudah muak melayaninya selama setahun ini."


Permintaan Yanti semakin banyak dan Vivi akhirnya tidak tahan lagi, "Atas dasar apa! Atas dasar apa aku harus bertanggung jawab atas masalah Vendi? Kalian bukan orang tua kandungku, kenapa aku harus mengurusi masalah-masalah keluarga kalian!"


Salah satu di antara aku dan Vivi harus bertanggung jawab, dan orang paling tepat hanyalah aku, tidak mungkin Vivi. Keluarga kami memang mampu memberikan 200 juta, Ayah dan Ibu juga pasti bersedia menyerahkannya. Aku juga bisa menjelaskan hal ini kepada Hardi. Namun, aku tidak mau merawat kaki Herman, apa lagi Vivi. Orang tua angkatku juga tidak berhubungan dengan masalah ini.


Situasi menjadi tersuntuk. Ponselku tiba-tiba berdering menerima panggilan dari Ayah. Aku pun bangun dan berjalan ke salah satu sisi. Terdengar suara ayahku yang segan, “Wenny, bagaimana kondisi di sana? Kalau Yanti mau uang, asal tidak terlalu banyak, Ayah dan Ibu masih bisa terima." Sebelum aku sempat mengungkit permasalahan 200 juta, Ayah melanjutkan, "Bisakah kamu suruh Jerry bawa Vivi pulang dulu? Pihak toko yang Ayah pesan beberapa hari lalu sudah mendesak untuk menyelesaikan permasalahan administrasinya. Ayah bermaksud memberikan toko itu atas nama Vivi sebagai kompensasi untuknya. Aku sedang sedikit terdesak, bisakah kamu biarkan dia pulang dulu?"


Kalau aku tidak salah ingat, kemarin Ayah bermaksud memberikan toko itu kepadaku sebagai hadiah ulang tahunku yang ke-21. Sekarang aku bahkan sudah tidak punya hak untuk mendapatkan toko itu.


Aku berpura-pura tersenyum, "Oh, oke, aku akan suruh Jerry bawa Vivi pulang dulu."


"Oke, kalau begitu kamu sendiri harus hati-hati, hubungi kami kapan saja."


Sebelum Jerry mengantar Vivi kembali ke kota, dia berulang kali mengingatkanku untuk berhati-hati dan jangan membuat Yanti kesal, dia akan kembali menjemputku dalam empat jam.


Yanti menunjuk ke kamar kecil di sisi dalam, "Itu kamar Vivi, kamu bisa istirahat di sana, sekaligus pertimbangkan syarat yang baru saja aku sebut."